JAKARTA, (5/2) – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bersama Yayasan WWF Indonesia memaparkan berbagai penemuan penting dari Ekspedisi Kawasan Konservasi Kepulauan Romang dan Damer Maluku Barat Daya 2025. Ekspedisi ilmiah ini berlangsung selama satu bulan.
Hasil kegiatan telah mengukuhkan perairan Maluku Barat Daya (MBD) sebagai salah satu ekosistem laut paling resilien di dunia yang mendapatkan pasokan nutrisi dari Laut Banda dan Samudera Hindia. Para peneliti yang terlibat dalam kegiatan ini mampu membuktikan bahwa perairan Maluku Barat Daya menjadi pertahanan terakhir bagi keanekaragaman hayati laut dunia di tengah ancaman perubahan iklim global.
"Kementerian Kelautan dan Perikanan terus mendorong pengelolaan kawasan konservasi perairan yang berbasis data ilmiah, melibatkan masyarakat sebagai aktor utama, serta memberikan manfaat nyata bagi keberlanjutan sumber daya dan ekonomi lokal, sejalan dengan implementasi ekonomi biru. Dalam konteks tersebut, hasil Ekspedisi Romang–Damer 2025 menjadi kontribusi penting dalam mendukung pengambilan keputusan, baik di tingkat pusat maupun daerah,” ujar Direktur Jenderal Pengelolaan Kelautan, Koswara pada talkshow Bincang Bahari membahas temuan tersebut di kantor KKP, Jakarta Pusat, Kamis (5/2).