Indonesia   |   English  
Saran Dan Pengaduan

PUSAT PELATIHAN DAN PENYULUHAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
BADAN RISET DAN SDM KELAUTAN DAN PERIKANAN
Kilas Berita  
Dari Muara Sungai Cisadane, KKP Sosialisasikan Pemanfaatan Sampah Plastik Ke Masyarakat

Jakarta (8/11) - Pemerintah terus berkomitmen untuk mengurangi 70% sampah plastik yang masuk ke laut per tahun 2025. Untuk itu, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) membangun percontohan penyuluhan pengelolaan sampah plastik bagi masyarakat di sejumlah titik. Salah satunya di muara Sungai Cisadane, tepatnya di Desa Tanjung Burung, Kec. Teluk Naga, Kab. Tangerang, Banten.

 

Hal ini sejalan dengan penetapan pembangunan percontohan penyuluhan yang ditetapkan melalui Peraturan Kepala Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM) Nomor 2/PER-BRSDM/2020 tentang Petunjuk Pelaksanaan Percontohan Penyuluhan Kelautan dan Perikanan Tahun 2020.

 

Melalui percontohan ini, masyarakat setempat digerakkan untuk mengumpulkan sampah ke bank sampah yang dibentuk oleh BUMDes.  Kumpulan sampah ini kemudian diolah menjadi sejumlah produk seperti ecobrick dan paving block yang dikelola oleh Pokmaswas Tabur Mangrove.

 

Guna mendukungnya, KKP telah menyerahkan sejumlah alat untuk mendukung percontohan pengelolaan sampah ini pada 10 September 2020 lalu. Beberapa di antarnya yaitu jaring penjebak sampah di sungai, alat serok, perahu pengumpul sampah plastik, serta alat cetak dan press paving block. Di samping itu, para penyuluh juga terus memberikan pendampingan pada masyarakat setempat.

 

Sebagai tindak lanjut dan evaluasi penyelenggaraan percontohan penyuluhan yang telah berjalan, KKP menyelenggarakan temu lapang  pada Rabu (4/11). Hadir dalam kesempatan ini Sekretaris Dinas Kelautan dan Perikanaan, Chairul Latif; Kepala BRPBATPP Bogor, Nurhidayat; Camat Teluk Naga, Jamjam Manohara; Kepala Desa Tanjung Burung, Idris Efendi; Koordinator Penyuluh Perikanan Kota Tangerang, Akmal Syukri;  Ketua Pokmaswas Tabur Mangrove, Muhammad Guntur; penyuluh perikanan Kota Tangerang; dan masyarakat stempat.

 

“Dengan hadirnya percontohan di tengah masyarakat di sekitar muara sungai seperti  ini, kami berharap bisa mengedukasi masyarakat bahwa sampah plastik bisa dimanfaatkan menjadi barang yang memiliki nilai ekonomis,” ujar Kepala BRSDM Sjarief Widjaja yang ditemui dalam kesempatan terpisah.

 

Bukan tanpa sebab, Ketua Pokmaswas Tabur Mangrove, Muhammad Guntur, menyebut bahwa sejak percontohan pengelolaan sampah di muara Sungai Cisadane ini diserahkan pada September lalu, para anggota yang terlibat sudah bisa memiliki cash flow di kisaran ratusan ribu hingga Rp1 juta.  Hal ini menjadi bukti nyata bahwa sampah memiliki nilai jika dimanfaatkan dengan bijak.

 

Kepala Pusat Pelatihan dan Penyuluhan dan Penyuluhan Kelautan dan Perikanan (Puslatluh KP) Lilly Aprilya Pregiwati mengatakan,  percontohan pengelolaan sampah menjadi salah satu program penting yang tengah terus disosialisasikan kepada masyarakat.

 

Pasalnya, setiap tahun Indonesia menghasilkan 64 juta ton sampah, termasuk sampah plastik. Namun baru 7 persen di antaranya yang dapat didaur ulang. Sementara itu, 69 persen lainnya menumpuk di tempat pembuangan akhir (TPA) dan 24 persen sisanya dibuang sembarangan hingga mencemari lingkungan.

 

Penelitian menunjukkan bah sampah plastik membutuhkan waktu 100-500 tahun hingga dapat terurai dengan sempurna. Pasalnya, mayoritas bahan baku plastik bukan berasal dari senyawa biologis sehingga sulit untuk terdegradasi. Kondisi ini membahayakan biota laut yang hidup di dalamnya maupun manusia.

 

“Sampah-sampah itu terus membunuh makhluk hidup di lautan. Berdasarkan penelitian yang diterbitkan Sekretariat Konvensi tentang Keanekaragaman Hayati pada 2016, sampah di lautan telah membahayakan lebih dari 800 spesies. Ini tentunya berbahaya bagi ekosistem dan juga kita yang mungkin akan mengonsumsi ikan atar produksi laut lainnya,” tutur Lilly.

 

Untuk itu, ia berharap agar pengelolaan sampah yang dilakukan di muara Sungai Cisadane ini dapat dicontoh oleh kelompok-kelompok masayarakat lainnya di berbagai wilayah Indonesia sehingga aliran sampah plastik ke laut dapat diminimalisir.

 

Guna menyukseskannya, ia mendorong para penyuluh perikanan yang tersebar di berbagai wilayah untuk terus mengedukasi dan membina masyarakat dalam melakukan pengelolaan sampah plastik.

 

“Penyuluh perikanan berperan menjadi garda terdepan untuk terus secara aktif mengedukasi dan memberikan penyuluhan kepada masyarakat agar tidak lagi membuang sampah ke sungai, sekaligus bisa menjadikan sampah sebagai sumber penghidupan,” ucapnya.

 

Sementara itu, pemerintah daerah Kab. Tangerang yang diwakili oleh Sekretaris Dinas Kelautan dan Perikanaan, Chairul Latif, menyatakan dukungannya terhadap pengelolaan sampah plastik di wilayahnya. Ia pun meminta para jajarannya untuk membantu pemasaran produk ecobrick dan paving block yang dihasilkan oleh masyarakat.

 

“Saya minta kepada Pak Camat dan Kepala Desa jangan sampai nanti habis pengelolaan ini kita hanya bisa memproduksi tapi kita tidak memasarkan,” cetusnya.

 

Untuk itu, Chairul mendorong agar kerja sama dengan Dinas Tata Ruang dan Bangunan setempat dibangun untuk mensertifikasi produk yang dihasilkan, sebelum kemudian dipasarkan kepada pabrik-pabrik yang banyak terdapat di sekitar lokasi percontohan.

 

“Kita kerja sama dengan Dinas Tata Ruang dan Bangunan.  Mereka punya alat untuk menguji seberapa kualitas conblock itu. Kemudian, kita masuk dalam pabrik-pabrik karena mereka jaringannya kan lebih luas. Kalau kita sudah punya sertifikasi, insyaAllah bisa dipasarkan,” jelasnya.

 

Di akhir sambutannya, ia berharap masyarakat setempat dapat sungguh memanfaatkan percontohan pengelolaan sampah yang telah berjalan. “Semoga sampah yang sebelumnya menjadi momok bisa menjadi sumber kehidupan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat ke depan,” pungkasnya.

Admin Puslatluh KP   09 November 2020   Dilihat : 342



Artikel Terkait: