Indonesia   |   English  
Saran Dan Pengaduan

BADAN KARANTINA IKAN, PENGENDALIAN MUTU DAN KEAMANAN HASIL PERIKANAN
Kilas Berita  
KKP Dukung Pembangunan Sentra Produksi Ikan Lokal Sekaligus Wisata Edukasi di Kota Bogor

Bogor – Kementerian Kelautan dan Perikanan melalui Balai Riset Perikanan Budidaya Air Tawar dan Penyuluhan Perikanan (BRPBATPP) Sempur bekerja sama dengan Pemerintah Kota Bogor dan Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Bogor menyelenggarakan Product Inovation of Fisheries and Aquaculture Festival (Rifafest) 2019. Kegiatan tersebut dihelat 2 hari (13-14/12) di Kota Bogor.

 

Wali Kota Bogor  Bima Arya dalam sambutannya mengatakan, kegiatan ini merupakan tindak lanjut pembagunan sentra produksi ikan lokal dan sekaligus wisata edukasi di Rancamaya, Kota Bogor. Menurutnya, untuk mewujudkan niat ini, Pemkot Bogor telah menerima bantuan dari Provinsi Jawa Barat sebesar 30 miliar yang akan digunakan untuk penggarapan lokasi tersebut bekerja sama dengan  BRPBATPP Sempur.

 

Menurutnya, sentra produksi ikan lokal ini diperlukan untuk mendukung program pemerintah dalam Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (Gemarikan). “Maka dari itu, dengan cara ini mari kita kenalkan kepada anak-anak ikan lokal, sehingga jika mereka mengenal maka mereka akan menyukainya,” tuturnya.  

 

Sebagai informasi, Rifafest 2019 ini turut dihadiri Kepala Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDMKP) Sjarief Widjaja dan Kepala badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM) Rina.

 

Menurut Sjarief, Indonesia memiliki 3.213 jenis ikan. Namun yang dikenal dan sering di konsumsi tidak sampai 50 jenis ikan. Oleh karena itu, ini merupakan tantangan KKP ke depan untuk memperkenalkan jenis-jenis lain kepada masyarakat, dan menjaganya agar generasi selanjutanya bisa menikmatinya. 

 

“Maka dari itu BRPBATPP diberi tugas untuk menarik ikan-ikan dari alam dan dibudidayakan sehingga bisa menjadi alternatif protein dalam negeri,” ungkap Sjarief.

 

Sjarief menambahkan, Indonesia  mempunyai ikan dewa yang mempunyai nilai ekonomis yang tinggi.  Tercatat rekor harganya mencapai Rp1,5 juta per kg dengan pasar negera tetangga seperti Malaysia, Singapura, dan Thailand. 

 

“Dengan usulan daerah Rancamaya, saya memberikan masukan untuk menjadikan setra produksi hingga hilir di sana,” lanjutnya. Program ini dimulai dengan mengirimkan indukan-indukan yang dimiliki oleh BRPBATPP untuk di berikan kepada Unit Pembenihan Rakyat (UPR) di Bogor untuk dibenihkan. Hasil pembenihan ini dapat dimanfaatkan sentra yang akan dibangun. Guna mengoptimalkan manfaat ekonominya akan selanjutnya dapat dibangun Unit Pengolahan Ikan (UPI) untuk kebutuhan ekspor.

 

“Jika ini bisa berjalan maka akan banyak menyerap banyak tenaga kerja. Untuk itu kita akan mendukung program ini dan menjadikannya sebagai wisata edukasi dan sentra kuliner serta menjadi ikon Bogor,” pungkasnya.

 

Sementara Kepala BKIPM Rina menambahkan, Bogor merupakan salah satu sentra ikan hias terbesar di Indonesia.

 

“Selama ini lalu lintas ikan hias tidak keluar nama dari Bogor, namun dari Jakarta. Dan yang saya tahu pengusaha-pengusaha yang memproduksi berasal dari Bogor. Saya juga sudah bincang-bincang dengan kepala dinas perikanan untuk membuat instalasi karantina di sini. Semoga bisa terwujud segera,” ucapnya.

 

Guna menjaga kelestarian ikan lokal, Rina juga mengusulkan kepada Kepala Balai untuk membuat museum ikan di Sempur. “Karena di Sempur banyak sekali anak sekolahan, kita akan kenalkan kepada mereka segala jenis ikan air tawar. BKIPM akan membantu lalu lintasnya, dan menyuplai ikan-ikan yang ada di daerah untuk di bawa ke Sempur,” tandasnya.

BKIPM   14 Desember 2019   Dilihat : 734



Artikel Terkait: