Indonesia   |   English  
Saran Dan Pengaduan

PELABUHAN PERIKANAN NUSANTARA SUNGAILIAT
DIREKTORAT JENDERAL PERIKANAN TANGKAP
Kilas Berita  
Lautan Indonesia : Tempat Pembuangan Akhir Sampah

Tanpa banyak disadari bahwa dengan luasnya lautan Indonesia, Indonesia memiliki beragam biota laut yang menarik.  Tidak hanya sebagai kenikmatan sumber pasokan kehidupan, tetapi kekayaan dan keragaman biota laut Indonesia mampu menjadi magnet tersendiri bagi wisatawan yang berkunjung. “Orang bilang tanah kita tanah surga, Tongkah kayu dan batu jadi tanaman”. Sebait lirik lagu sang Legendaris Koes Plus telah menyadarkan betapa Indah dan kayanya sumberdaya Indonesia. Apa yang kita butuhkan, alam Indonesia mampu menyediakannya. 

 

Indonesia memang negeri yang indah, lautnya luas, pantainya terhampar sepanjang lebih dari 81.000 km membentang di sebagian besar wilayah yang ada. Laut sebagai penghubung lintas wilayah, di dalamnya terkandung kekayaan yang melimpah; sumberdaya perikanan, budidaya, dan energi kelautan. Semua itu patut kita syukuri. Sama halnya ketika kita harus menyukuri keadaan kita sekarang ini yang masih bisa menikmati ikan asin, sotong, kerang, udang-udangan dan makanan dari laut lainnya.

 

Tapi tahukah bahwa semua hasil laut itu tidak didapat dengan mudah, butuh usaha dan kerja keras. Seperti orang-orang di sekitar tempat tinggal kita yang menyandarkan hidupnya dari laut, tetapi mereka tidak mempunyai alat-alat canggih untuk menagkap ikan. Modal mereka hanya pancing sederhana, jaring, dan alat tangkap lainnya, dan apa yang mereka dapat hanya cukup untuk makan sehari-hari, kadang ada sisa sedikit untuk mereka jual, itupun kalau laku.

 

Ada lagi yang lain, mereka dengan susah payah menggali pasir dan batuan di pantai mencari kerang yang terbenam di dalamnya. Kadang mereka dapat setengah ember, satu ember, tapi kadang juga hanya beberapa ekor saja. Semua tergantung kondisi laut, bila laut surut ada sedikit harapan tetapi bila laut sedang pasang maka akan susah sekali mencari kerang. Itu semua hanya untuk makan sehari-hari, bukan hanya satu dua orang, tetapi banyak orang melakukan itu. Kadang terasa menyedihkan.

 

Namun yang menjadi perhatian bukan sebatas pada fenomena tersebut, tetapi menjurus pada hal yang lebih penting yaitu kondisi laut itu sendiri. Tak dapat dipungkiri kalau laut di daerah kita sudah mulai tercemar, baik oleh limbah domestik maupun limbah industri. Sampah mengapung dan terbenam di sekitar laut, manjadikan pemandangan yang kurang sedap karena seharusnya laut itu biru indah, tetapi yang ada sekarang hijau kecoklatan karena limbah.

 

Lautan adalah kawasan yang sangat kompleks, dan dipengaruhi oleh proses-proses tanpa akhir yang membuatnya selalu berubah dan bergerak dinamis. Lautan memiliki 3 dimensi, saling terhubung, dan tak pernah bisa diprediksi. Lautan yang luas, dinamis, dan arus yang selalu berubah, seolah-olah seperti kekuatan raksasa yang kita takkan pernah pahami secara sempurna.

 

Laut juga merupakan bagian dari ekosistem yang jauh dari aktivitas manusia sehingga menjadikannya daerah teraman dari limbah-limbah aktivitas manusia bila dibandingkan di daratan. Laut juga sebagai aset kehidupan masa depan karena bisa memenuhi kebutuhan manusia akan sumber makanan dan sumber energi. Namun, jika laut tidak dijaga dengan baik harapan itu akan hilang. Disadari atau tidak, akhir-akhir ini laut terancam oleh berbagai tindakan manusia yang membuang limbah,terutama ”Sampah Plastik”.

 

Masalah sampah bukan sesuatu yang asing bagi kita, hal ini bukan hanya menjadi permasalahan besar di Indonesia, namun, seluruh warga di dunia. Meskipun banyak dari kita mengetahui dampak dari membuang sampah sembarangan, hal tersebut tetap tak terhindarkan. Kita perlu mengetahui satu fakta tentang bagaimana sampah, terutama sampah plastik, yang tak terlepas dari kegiatan kita sehari-hari, dapat berubah menjadi sesuatu yang sangat mengerikan yang disebut The Great Pacific Garbage Patch.

 

The Great Pacific Garbage Patch terbentuk dari kumpulan sampah di lautan yang terbawa arus laut. Fenomena telah terjadi selama bertahun-tahun dengan kapasitas sampah yang terus bertambah. Fenomena ini telah dilaporkan sejak 1988 oleh National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) Amerika Serikat. Namun, rupanya masih ada yang bahkan tidak mengetahui istilah tersebut. Bagimanakah dampaknya? The Great Pacific Garbage Patch memiliki pengaruh yang sangat besar bagi lingkungan, terutama biota yang berada di sekitarnya. Karena letaknya jauh dari pantai, tidak ada negara yang mengambil tanggung jawab atas permasalahan ini. Kita bisa ikut berkontribusi dalam hal ini yaitu dengan tidak membuang sampah sembarangan, dimanapun kita berada.

 

Indonesia menjadi ranking kedua negara penyumbang sampah plastik di lautan. Ranking Indonesia dalam menyumbangkan sampah plastik ke laut hanya dikalahkan oleh China. Rekor baru Indonesia ini tentunya membuat kita semua prihatin. Sekaligus menjadi bukti masih rendahnya kesadaran masyarakat dan negara Indonesia dalam menggunakan dan mengelola sampah plastik.

 

Sebuah hasil penelitian dari Ilmuwan kelautan dari University of Georgia dirilis di Science (science.sciencemag.org). Penelitian tersebut menemukan fakta bahwa sekitar 4,8 hingga 12,7 juta metrik ton sampah plastik telah memasuki lautan pada tahun 2010. Ini setara dengan kurang lebih antara 4.762.000.000 – 12.700.000.000 kg. Jika dibandingkan, beratnya mencapai 1,3 kali berat Piramida Besar di Giza, Mesir.

 

Sampah plastik dengan mudah dapat mencapai lautan dan mencemari lautan. Sampah yang dibuang sembarangan, tidak dikelola dengan baik, akan terbawa air hujan ke sungai yang akhirnya sampai ke laut. Tim Ilmuwan yang dipimpin oleh Jenna R. Jambeck ini pun menelusuri asal mula sampah-sampah plastik yang berada di lautan tersebut. Penelitian mencakup 192 negara pesisir di dunia, termasuk Indonesia.

 

Hasilnya cukup mencengangkan. Tim Ilmuwan meranking 20 negara pesisir penyumbang terbesar sampah plastik di lautan. Dalam ranking tersebut, Indonesia menduduki negara nomor dua terbesar penghasil dan penyumbang sampah plastik ke lautan. Total sampah plastik dari negara Indonesia mencapai 1,29 juta metrik ton per tahun.

Indonesia hanya kalah dari China yang menghasilkan sampah plastik ke lautan sebanyak 3,53 juta metrik ton per tahun. Mengungguli Filipina dan Vietnam yang masing-masing menyumbang 0,75 dan 0,73 juta metrik ton sampah plastik per tahun.

 

 

 

Indonesia jauh mengalahkan negara India yang memiliki penduduk lebih banyak. bandingkan penduduk Indonesia yang sekitar 255 juta (2015) menghasilkan 1,29 juta metrik ton sampah plastik. Sedangkan India dengan penduduk yang jauh lebih besar, sekitar 1,2 miliar, ‘hanya’ menyumbang 0,24 juta metrik ton sampah plastik per tahun.

 

Begitu juga dengan Brazil yang jumlah penduduknya berselisih sedikit, sekitar 205 juta. Namun Brazil ‘hanya’ menyumbang 0,19 juta metrik ton sampah plastik per tahun. Brazil berada diperingkat ke-16, berselisih jauh dengan peringkat Indonesia.

 

Artinya kesadaran masyarakat Indonesia dalam menggunakan plastik dan mengelola sampah plastik masih sangat rendah. Termasuk regulasi yang dikeluarkan pemerintah dalam memerangi sampah plastik. Sikap 3R (Reuse, Reduce, dan Recycle) sampah pun tampaknya belum membudaya.

 

Padahal sampah plastik sangat berbahaya bagi lingkungan. Plastik merupakan sampah yang sulit terurai (non-biodegradable) hingga ratusan tahun. Saat mencemari laut akan bertahan lama, bahkan saat terurai pun zat-zat pembentuknya menimbulkan racun bagi ekosistem laut.

 

Ranking kedua sebagai negara dengan penyumbang sampah plastik terbanyak di lautan dunia seharusnya membuat kita sadar. Dibutuhkan kearifan dalam menggunakan peralatan berbahan plastik. Mengurangi pemakaian bahan-bahan plastik dalam kehidupan sehari-hari, dan  dibutuhkan kesadaran untuk mengelola sampah plastik yang dihasilkan.

 

Mungkin ada beberapa alternatif yang bisa dilakukan. Sampah/limbah yang masuk ke laut memang tidak bisa dibendung melihat perkembangan penduduk dan pembangunan.  Semakin bertambah penduduk dan pembangunan di sekitar laut, maka konsekuensinya akan semakin banyak pula sampah/limbah yang masuk ke dalamnya. Kita juga tidak mungkin bisa mengawasi, menghentikan atau melarang masuknya sampah/limbah ke laut. Hal ini disebabkan karena setiap kegiatan manusia dalam skala besar maupun kecil selalu menghasilkan limbah, baik limbah padat, cairan, maupun gas yang terbuang ke lingkungan. Menghentikan produksi limbah berarti menghentikan seluruh kegiatan manusia. Ini tidak mungkin. Dalam konteks ini, pengendalian sampah/limbah mungkin dapat dilakukan dengan mengurangi jumlah dan jenis limbah yang dihasilkan dari kegiatan manusia dan pembangunan. Contoh kongkritnya dengan kesadaran masing-masing individu untuk mengurangi kegiatan yang beresiko menghasilkan sampah/limbah, serta tidak membuang sampah/limbah itu sembarangan ke laut.

 

Alternatif lain yaitu dengan meningkatkan peranan laut itu sendiri. Laut dalam skala tertentu memiliki kapasitas asimilasi untuk memproses dan mendaur ulang limbah pencemar yang ada di dalamnya dengan adanya biota-biota yang bisa mendegradasi limbah. Namun hal ini juga tidak cukup untuk mengurangi pencemaran karena membutuhkan proses yang lama.

 

Jadi yang terpenting untuk dilakukan adalah memperbaiki perilaku kita terutama kegiatan yang menghasilkan sampah/limbah agar sebisa mungkin diminimalisir. Karena semua kegiatan baik di darat maupun di sekitar laut yang menghasilkan sampah/limbah, secara langsung maupun tidak langsung akan menemukan jalannya untuk mencemari laut. Mari kita jaga laut kita demi kehidupan kita dan anak cucu kita. Sumberdaya hayati yang ada sekarang bukan untuk dihabiskan, tetapi ini adalah warisan untuk keturunan kita di masa yang akan datang. (JB)

PPN Sungailiat   09 Oktober 2018   Dilihat : 3195



Artikel Terkait: