Indonesia   |   English  
Saran Dan Pengaduan

DIREKTORAT PENGELOLAAN SUMBER DAYA IKAN
DIREKTORAT JENDERAL PERIKANAN TANGKAP
Kilas Berita  

Perkembangan Harvest Strategy Tuna


Kementerian Kelautan dan Perikanan dalam melakukan pengelolaan kelautan dan perikanan berdasar pada 3 (tiga) pilar diantaranya Kedaulatan, Kesejahteraan dan Keberlanjutan. Berdasarkan pilar Kedaulatan.  Dengan menyusun kembali pondasi pembangunan perikanan tangkap akan memaksimalkan pemanfaatan sumberdaya ikan di perairan Indonesia secara berkelanjutan untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat khususnya nelayan. Tentunya dengan dukungan kebijakan yang tegas, transparan dan tanpa kompromi. Stok sumberdaya ikan serta seluruh potensi yang berkaitan dengan perikanan di perairan Indonesia diharapkan selalu meningkat dan hendaknya dimanfaatkan untuk kemajuan anak bangsa. Indonesia sangat beruntung memiliki perairan kepulauan yang terluas di dunia, dan memiliki potensi sumberdaya ikan yang sangat besar, termasuk tuna dan cakalang. Oleh karena itu, perikanan tuna dan cakalang di perairan kepulauan Indonesia yakni WPPNRI 713, 714 dan 715 sangat penting bagi Indonesia.

 

Mengingat tuna dan cakalang merupakan kelompok ikan beruaya jauh (highly migratory stocks), maka untuk menjamin pemanfaatan yang berkelanjutan, praktek pengelolaannya harus dilakukan berdasarkan resolusi Regional Fisheries Management Organization (RFMO). Oleh sebab itu WPPNRI 713,714 dan 715 merupakan wilayah kedaulatan Indonesia, namun pengelolaan tuna dan cakalang didalam perairan tersebut harus sesuai (compatible) dengan tindakan pengelolaan RFMO. Salah satu tindakan pengelolaan dimaksud adalah kebijakan penerapan Harvest Strategy.  Para ilmuwan dunia meyakini bahwa Harvest Strategy merupakan tindakan pengelolaan terbaik saat ini, yang dapat menjamin pemanfaatan berkelanjutan sumberdaya ikan khususnya tuna dan cakalang. 

 

Harvest strategy merupakan pendekatan praktek-terbaik (best-practice approach) dalam proses pengambilan keputusan pada pengelolaan perikanan. Harvest strategy bersifat proactive, adaptive dan menyediakan kerangka kerja (framework) untuk memperoleh informasi terbaik tentang stok tuna, serta menjadi bukti penerapan pendekatan berbasis-resiko (risk-based approach) dalam penentuan jumlah ikan yang dapat ditangkap (harvest level). Havest strategy juga memastikan bahwa proses pengambilan keputusan pengelolaan stok jenis tuna tertentu menjadi lebih konsisten, dapat diprediksi dan transparan. 

 

Penyelenggaraan workshop sejak Tahun 2014 merupakan implementasi pendekatan partisipasi dan transparansi dalam proses pengambilan kebijakan. Dengan demikian, pelaksanaan tindakan pengelolaan yang akan dipilih (selected management measures) merupakan tanggungjawab kita bersama termasuk para peneliti (Ilmuwan), pemerintah daerah, pelaku usaha, asosiasi, nelayan, lembaga swadaya masyarakat, perguruan tinggi dan para pemerhati perikanan tuna lainnya.


Perkembangan Harvest Strategy Tuna