Indonesia   |   English  
Saran Dan Pengaduan

DIREKTORAT JENDERAL PERIKANAN TANGKAP
Kilas Berita  
Indonesia Dorong Sertifikasi Ecolabel MSC Beri Kemudahan Ekspor Produk Perikanan ke Uni Eropa

LISBON (1/7) Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mendorong Sertifikasi Perikanan Berkelanjutan Marine Stewardship Council (MSC) untuk kemudahan ekspor masuk Produk Perikanan Indonesia ke Uni Eropa. Alasannya, produk perikanan Indonesia yang masuk ke negara-negara Eropa telah memiliki sertifikasi MSC yang merupakan standar pengakuan global tentang pengelolaan perikanan yang berkelanjutan.

 

“Sertifikasi ecolabel dari MSC menjadi bukti bahwa nelayan Indonesia telah menerapkan ketertelusuran produk perikanan yang berkelanjutan,” ungkap Direktur Jenderal Perikanan Tangkap M. Zaini Hanafi dalam gelaran side event konferensi internasional United Nation Oceans Conference (UNOC) 2022 di Lisbon, Portugal, (29/6).

 

Dalam diskusi bertajuk Sustainable Fishing: Solutions and Innovations to Help Developing Economy and Small-scale Fisheries in Indonesia and Beyond yang diprakarsai oleh MSC itu, Zaini juga mendorong agar sertifikasi MSC diperluas untuk komoditas lainnya selain tuna dan rajungan.

 

“Kita juga mengenalkan kepada dunia, bahwa nelayan kecil juga bisa meraih sertifikasi MSC. Ini menjadi nilai tambah produk perikanan yang dijual ke pasar internasional dan peningkatan kesejahteraan nelayan itu sendiri” ungkapnya.

 

MSC telah bermitra dengan KKP sejak tahun 2019 untuk mendukung pengelolaan perikanan berkelanjutan. Saat ini tiga perikanan Indonesia telah berhasil memenuhi standar keberlanjutan perikanan dan mendapatkan sertifikat MSC, yaitu perikanan tuna dan cakalang pada PT Citra Raja Ampat, PT Harta Samudera dan AP2HI.

 

Dalam diskusi tersebut, CEO MSC Rupert Howes menyampaikan perikanan skala kecil di negara berkembang kerap kali terkendala modal dan investasi. Untuk mengatasi hal ini, MSC membangun program pathway to sustainability dalam proyek fish for good yang memberikan solusi bagi permasalahan pengelolaan perikanan.

 

“Proggram yang dilakukan di negara berkembang ini berupa pengembangan kapasitas dan sumber daya, kemitraan dengan industri, pemerintah, ilmuwan hingga pemasaran sehingga dapat dimanfaatkan untuk memenuhi permintaan konsumen yang terus meningkat akan produk makanan laut yang diproduksi secara berkelanjutan,” jelasnya.

 

Lebih lanjut Rupert mengatakan Indonesia adalah negara nelayan terbesar kedua di dunia, dimana sektor perikanan di Indonesia juga mendukung mata pencaharian lokal yang menghasilkan pendapatan ekspor lebih dari US$4,8 miliar, dan memasok 7% makanan laut global.

 

Sebelumnya, Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono dalam gelaran UNOC 2022 menyampaikan komitmen Indonesia untuk mendukung kesehatan laut melalui tiga prioritas. Yaitu perluasan kawasan konservasi, penangkapan ikan terukur dan program bulan cinta laut.

 

djpt   01 Juli 2022   Dilihat : 158



Artikel Terkait: