Indonesia   |   English  
Saran Dan Pengaduan

LOKA PENGELOLAAN SD PESISIR & LAUT SORONG
DIREKTORAT JENDERAL PENGELOLAAN RUANG LAUT
Kilas Berita  

DUGONG


 

 

Deskripsi dan Klasifikasi

Dugong atau yang lebih dikenal dengan nama duyung adalah salah satu mamalia laut langka yang hidup diperairan tropis yang tersebar diberbagai penjuru dunia seperti Indo Pasifik, Afrika Timur hingga Kepulauan Solomon. Spesies ini memiliki nama ilmiah Dugong dugon dengan klasifikasi lengkap sebagai berikut :

Kingdom         : Animalia

Filum               : Chordata

Class               : Mamalia

Ordo                : Serenia

Family             : Dugongidae

Genus              : Dugong

Spesies            : Dugong dugon

 

Morfologi

Dugong memiliki panjang sekitar 2,4 – 3 meter dengan berat 230 – 930 kg. Hewan ini terlahir dengan warna krem pucat, seiring bertambahnya usia warnanya akan menjadi lebih gelap hingga abu-abu gelap di bagian punggung. Seluruh bagian tubuhnya ditumbuhi oleh rambut-rambut pendek dan memiliki kulit tebal, keras dengan permukaan halus. Dibagian dada dugong memiliki sirip yang panjangnya 35-45 cm. Seekor dugong dapat hidup selama 40-70 tahun. Bagi dugong muda sirip ini berfungsi sebagai pendorong sedangkan pada dugong dewasa berperan sebagai kemudi. Ekor dugong berbentuk homo cercal yang berfungsi sebagai pendorong.

 

Pola Makan

Dugong adalah hewan herbivora dan menghabiskan waktu untuk makan di padang lamun. Mamalia laut ini juga dapat dijadikan sebagai bio indikator kondisi padang lamun, karena spesies ini hanya tinggal di wilayah padang lamun yang berkondisi baik. Jenis lamun yang dikonsumi oleh dugong berasal dari genus halodule, halophila, dan cymodecea. Tumbuhan air tersebut memiliki tekstur lunak dan sesuai dengan tipe pencernaan dugong yang sangat lambat. Berdasarkan cara pencernaannya dugong tergolong sebagai hindgut fermenter, atau hewan yang pencernaan makanannya dilakukan secara anaerobik oleh mikroba yang terjadi di caecum atau bagian belakang usus besar. Lanyon dan Marsh (1995) menemukan bahwa waktu retensi dari mulut hingga anus dapat berkisar antara 146 hingga 166 jam. Sehari seekor duyung dapat menghabiskan lamun sebanyak 25 - 30 Kg, sedangkan yang dipelihara di gelanggang samudera ancol mampu menghabiskan 30 - 40 Kg. Menurut Anderson et al., (1978), bahwa duyung dapat makan pada waktu malam ataupun siang hari. Saat makan duyung cendrerung menggunakan lubang hidung dan bibirnya untuk menggali lumpur atau mencabut lamun (Gambar 1). Lumpur yang melekat pada lamun dibersihkan dengan menyemburkan tanaman kemudian ditelan.

 

Reproduksi

Dugong betina dan jantan memiliki bentuk luar yang sama sama (monomorphic). Salah satu petunjuk untuk membedakan jenis kelaminnya adalah posisi celah kelaminnya (genital aperture) terhadap anus dan pusar (umbilicus) sedangkan betina, celah kelaminnya (vagina) terletak lebih dekat ke anus (Gambar 2). Dugong akan siap bereproduksi ketika berusia 9-10 tahun dengan usia kandungan selama 12 – 14 bulan dan pada umumnya hanya melahirkan seekor anak dalam satu kali proses reproduksi. Seekor duyung umumnya memiliki jarak kehamilan selama 2,5 – 7 tahun. Guna menghindari pemangsa dugong akan melahirkan anaknya diperairan dangkal dengan kedalaman 2- 2,5 meter. Induk dugong akan menyusi anaknya selama 1-2 tahun.

 

Gambar 1. Perbedaan Dugong Jantan dan Betina, Nontji 2015

 

Sebaran Dugong

Dugong tersebar di beberapa wilayah Indonesia seperti Papua, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sumatera, Timor Timur, Maluku, barat laut dan tenggara Jawa, pantai selatan Jawa Timur dan pantai selatan Kalimantan (Budiono, 2003). Kampung Sawatut, Distrik Makbon, Sorong, Papua Barat merupakan salah satu daerah yang dihidupi oleh dugong. Warga setempat mengaku kerap melihat mamalia tersebut berenang menghampiri pantai untuk memakan lamun.

 

Status Perlindungan

Kerusakan lingkungan, perburuan dan proses reproduksi yang lambat menyebabkan dugong menjadi langka. Indonesia melindungi dugong UU No7 Tahun 1999 dan Permen LHK Nomor 20 Tahun 2018. Selain itu oleh IUCN dugong digolongkan kedalam spesies vulnerable to extinction atau retan punah. Dugong juga tergolong kedalam appendix I CITES yang berarti spesies ini dilarang untuk diperdagangkan dalam bentuk apapun. Status populasi dugong hingga saat ini masih belum diketahui secara pasti, namun beberapa hasil survei dibeberapa daerah menyatakan bahwa terdapat 12 dugong di teluk Balikpapan pada 2005, di Taman Bunakaen diperkirakan terdapat 1000 dugong pada 1994, populasi dugong disekitar Aru timur dan Pulau-pulau Leste diperkirakan berkisar 22-37 ekor pada 1995, terdapat 14 ekor dugong di Pulau Roon dan Mioswaar Kabupaten Blak pada 1981 dan pada 2008 terdapat 24 ekor dugong di Raja Ampat (Dermawan dkk 2015).

 

Upaya Pelestarian

Sebagai upaya untuk menjaga kelestarian pada tahun 2017 pemerintah Indonesia bergabung dengan Madagaskar, Malaysia, Mozambik, Sri Lanka, Timor Leste, dan Vanuatu dalam proyek Dugong and Seagrass Conservation Project (DSCP). Proyek tersebut berfokus pada penyelamatan dugong dan habitat padang lamun dari ancaman kepunahan. Melalui program ini juga masyarakat dilibatkan untuk menjaga dugong dan habitatnya serta diberikan pemahaman mengenai tatacara penanganan mamalia laut terdampar. Disamping itu sebagai bentuk dukungan terhadap konservasi jenis Loka Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut Sorong (LPSPL Sorong) juga aktif memberikan pemahaman kepada masyarakat untuk ikut serta menjaga biota laut yang dilindungi khususnya dugong melalui program sosialisasi dan pena laut. Sebagai upaya mengorganisir, memperkuat pemahaman dan keterlibatan masyarakat LPSPL Sorong membentuk Kelompok Masyarakat Penggiat Konservasi (Kompak) di wilayah kerja LPSPL Sorong.