Indonesia   |   English  
Saran Dan Pengaduan

LOKA PENGELOLAAN SD PESISIR & LAUT SORONG
DIREKTORAT JENDERAL PENGELOLAAN RUANG LAUT
Kilas Berita  
Pelepasliaran Dugong (Dugong dugon) di Pesisir Seget, Kab. Sorong

Pada hari Senin, 18 Maret 2019, Loka PSPL Sorong di bantu PSDKP Satwas Sorong, BBKSDA Papua Barat, Penyuluh Perikanan Dinas Perikanan Kabupaten Sorong, Ketua Dewan Adat Moi Lemas Kabupaten Sorong, Kepolisian Sektor Seget, dan Pemerintah Kampung Seget berhasil melepas liarkan 1 ekor anak dugong yang tertangkap jaring  dan kemudian dipelihara oleh Bpk Ambram Sarim (Laki-Laki/39 tahun/nelayan) yang merupakan warga kampung Seget.sejak tanggal 1 Januari 2019.

 

Kronologis kejadian tertangkapnya dugong dalam jaring dan kemudian dipelihara nelayan hingga kemudian dilepasliarkan kembali oleh Tim Reaksi Cepat Penaganan Mamalia Laut Loka PSPL Sorong di bantu mitra kerja sebagaimana disebutkan diatas adalah sebagai berikut :

 

  1. Pada tanggal 1 Januari 2019, pukul 04.00 Wit, dua orang nelayan dengan menggunakan perahu bermesin 15 PK mengecek jaring insang (gillnet) yang dipasang di tanjung seget dan mendapati seekor dugong berukuran kecil tersangkut di jaring tersebut. Salah seorang nelayan memutuskan membawa dugong tersebut kekampung dengan tujuan untuk dipelihara
  2. Pada hari Sabtu, tanggal 12 Januari 2019, Bapak John Aresi sebagai ketua Ketua Dewan Adat Moi Lemas yang juga anggota First Responder Papua Barat, melaporkan kejadian tersebut kepada Fici (WWF), yang meneruskan informasi tersebut melalui grup whatsapp First Responder Papua Barat dan memention informasi tersebut kepada Loka PSPL Sorong, yang segera menghubungi bapak Jhon Aresi via handphone terkait informasi tersebut yang dibenarkan oleh yang bersangkutan;
  3. Pada hari minggu, tanggal 13 Januari 2019, Loka PSPL Sorong mengajak PSDKP Sorong untuk melakukan upaya pembinaan dan pelepasliaran dugong tersebut, dan menyepakati hari selasa, 14 Januari 2019 tim Loka PSPL Sorong dan tim PSDKP satwas Sorong akan bergerak ke kampung Seget;
  4. Pada hari Senin, tanggal 14 Januari 2019, pukul 08.30 Wit, Bapak Jhon Aresi menghubungi Loka PSPL Sorong bahwa dugong yang dipelihara nelayan telah melepaskan diri dan tidak ditemukan kembali. Hal ini kemudian disampaikan oleh Loka PSPL Sorong kepada PSDKP Satwas Sorong untuk membatalkan rencana pelepas liaran dugong di kampung Seget. Informasi ini juga disampaikan Loka PSPL Sorong pada grup whatsapp First Responder Papua Barat;
  5. Pada hari Selasa, tanggal 5 Maret 2019, dalam rangka koordinasi dan pengumpulan data sekunder kegiatan Inisiasi Pencadangan Calon Kawasan Konservasi Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil d Pesisir Utara Bentang Kepala Burung Papua, tim Loka PSPL Sorong melakukan koordinasi dengan Dinas Perikanan Kabupaten Sorong, salah seorang Penyuluh Perikanan bernama sdr. Syamsuddin menyampaikan informasi bahwa dugong yang dianggap melepaskan diri pada bulan Januari ternyata telah tertangkap dan dipelihara kembali oleh nelayan yang sama. Melalui sambungan telelepon, bapak John Aresi membenarkan hal tersebut. Hal ini kemudian dilaporkan kepada kepala Loka PSPL Sorong. Kepala Loka PSPL Sorong kemudian memberi arahan untuk segera melakukan langkah-langkah koordinasi dengan instansi terkait untuk bersama-sama melakukan pembinaan dan pelepasliaran dugong di kampung Seget, Distrik Seget-Kabupaten Sorong.
  6. Rabu, 13 Maret 2019, Tim gabungan yang terdiri atas Loka PSPL Sorong, PSDKP Satwas Sorong dan Penyuluh Perikanan Dinas Perikanan Kabupaten Sorong bergerak menuju ke Kampung Seget dan menuju kediaman bapak John Aresi (Ketua Ketua Dewan Adat Moi Lemas/anggota First Responder Papua Barat) untuk berkoordinasi perihal dugong yang dilaporkannya. Berdasarkan keterangan dari Bapak John Aresi, diperoleh informasi dugong tersebut ditemukan oleh nelayan yang bernama Ambram Sarim dan ayahnya. Tim gabungan kemudian meminta bapak John Aresi untuk mengundang bapak Ambram Sarim untuk dimintai keterangan. Kapolsek Seget (Bapak Abdul Azis/HP 08114870999) bersama beberapa masyarakat kampung Seget kemudian ikut bergabung di kediaman bapak Jhon Aresi. Bapak Ambram Sarim kemudian menceritakan kronologis tertangkapnya dugong di jaring gillnet yang dia pasang di Tanjung Seget dan membawanya ke kampung Seget dengan tujuan untuk dipelihara. Selama dipelihara dugong tersebut dililitkanpada bagian ekor dengan menggunakan tali PE yang dimasukan  dalam selang, dan diberi makan pisang dan roti.Bapak Ambram Sarim menyampaikan bahwa dirinya tidak mengetahui bahwa ikan yang dia pelihara termasuk jenis satwa yang di lindungi dan menyalahkan pemerintah karena tidak pernah melakukan sosialisasi kepada masyarakat terkait hal tersebut. Beberapa masyarakat mendukung apa yang disampaikan oleh bapak Bapak Ambram Sarim. Tim Loka PSPL Sorong dengan menggunakan media poster kemudian memberikan sosialisasi jenis ikan dilindungi kepada masyarakat yang hadir di kediaman bapak Jhon Aresi. Setelah melakukan sosialisasi, tim gabungan meminta bapak Ambram Sarim menunjukan lokasi dimana dugong tersebut dipelihara untuk melihat kondisi dugong dan mengambil data morfometri dugong tersebut, yang disetujui oleh bapak Ambram Sarim. Tim Loka PSPL Sorong kemudian melakukan pengukuran morfometri dengan hasil sebagai berikut :panjang tubuh dugong ± 51 Inci (130 cm) dan lingkar badan ± 33 Inci (84 cm) dengan jenis kelamin betina. Setelah dilakukan pengukuran morfometri tim Loka PSPL Sorong mengambil foto dan video dugong tersebut. Tim gabungan kemudian meminta bapak Ambram Sarim untuk melepasliarkan dugong tersebut, namun bapak Ambram Sarim menolak permintaan tersebut dengan berbagai alasan. Tindakan persuasif yang diupayakan oleh tim gabungan tetap tidak mebuahkan hasil, bahkan bapak Ambram sarim meminta ganti rugi sejumlah uang sebagai ganti biaya perawatan dugong dan tetap menyalahkan pemerintah yang tidak pernah melakukan sosialisasi jenis ikan dilindungi di kampung Seget. Melihat kondisi yang tidak memungkinkan, tim gabungan memutuskan kembali ke Sorong dan menyampaikan akan kembali lagi pada hari Jumat, 15 Maret 2019, dan meminta agar dugong tersebut di jaga baik-baik;
  7. Pada hari kamis, tanggal 14 Maret 2019, diperoleh informasi bahwa bayi dugong tersebut akan dibawa ke pulau Karimun Jawa, namun tim Loka PSPL Sorong tidak merekomendasikan pemindahan tersebut dan ada penolakan dari masyarakat.
  8. Pada hari Jumat, tanggal 15 Maret 2019, tim gabungan yang terdiri dari Loka PSPL Sorong, PSDKP Satwas Sorong dan Penyuluh Perikanan Dinas Perikanan Kabupaten Sorong ditambah tim BBKSDA Papua Barat kembali kekampung Seget, dan berkoordinasi dengan Polsek Seget dan Bapak Jhon Aresi. Kepala kampung Seget yang datang kemudian berusaha menengahi masalah tersebut, namun tidak mendapat respon dari bapak Ambram Sarim. Pendekatan persuasif yang dikedepankan oleh tim gabungan tetap mendapat penolakan dari bapak Ambram Sarim,bahkan yang bersangkutan menaikan tuntutannya ganti rugi biaya perawatan dan terus menyalahkan pemerintah terkait kejadian tersebut. Hal tersebut ditolak oleh tim gabungan. Tim Loka PSPL Sorong dan BBKSDA Papua Barat kembali mensosialisasikan jenis ikan dilindungi kepada masyarakat ditambah regulasi perlindungannnya sebagai bentuk upaya penyadartahuan dan pendekatan persuasif kepada bapak Ambram Sarim dan masyarakat. Melihat kondisi yang tidak kondusif, Kapolsek Seget meminta tim gabungan untuk memberikan waktu kepada aparatur kampung Seget dan Ketua Dewan Adat Moi Lemas untuk melakukan pendekatan kekeluargaan kepada bapak Ambram Sarim, dan mengusulkan agar tim gabungan kembali lagi pada hari Senin, tanggal 18 Maret 2019. Kepala kampung Seget meminta tim gabungan agar dapat membawa media sosialisasi (poster) jenis ikan yang dilindungi untuk dibagikan ke masyarakat. Hal tersebut disetujui oleh tim gabungan mengingat hari sudah mulai sore dan kondisi perairan saat itu berangin cukup kuat dengan gelombang besar. Sebelum tim gabungan meninggalkan lokasi, tim Loka PSPL Sorong kembali meminta bapak Ambram Sarim untuk merelakan dugong tersebut dilepaskan kembali ke habitatnya, namun bapak Ambram Sarim tetap menolak tapi menurunkan tuntutan ganti ruginya, jika tim gabungan bersedia membayar sore itu juga dugong tersebut akan dilepaskan. Permintaan tersebut ditolak oleh tim gabungan. Tim gabungan kemudian menyampaikan kepada kapolsek Seget, Ketua Dewan Adat Moi Lemas, dan Kepala kampung Seget, bahwa tim gabungan tidak dapat membiarkan hal tersebut berlarut-larut, dan menyampaikan bahwa kunjungan berikutnya pada hari senin, 18 Maret 2019, jika tetap mendapat penolakan dari yang bersangkutan, akan diambil langkah-langkah penyitaan dan pelepasliaran pada habitatnya dengan atau tanpa persetujuan bapak Ambram Sarim. Tim gabungan meminta aparat kampung dan Ketua Dewan Adat Moi Lemas melakukan pendekatan kekeluargaan kepada bapak Ambram Sarim untuk bersedia melepasliarkan dugong tersebut dan memastikan dugong yang dipelihara bersangkutan tetap dalam kondisi sehat;

 

Pada hari Senin, tanggal 18 Maret 2019 pukul 11.30 Wit, tim gabungan yang terdiri dari Loka PSPL Sorong, PSDKP Satwas Sorong, Penyuluh Perikanan Dinas Perikanan Kabupaten Sorong, dan tim Polhut BBKSDA Papua Barat tiba kembali di kampung Seget dan segera menghubungi kepala kampung Seget, Polsek Seget dan Ketua Dewan Adat Moi Lemas. Loka PSPL Sorong kemudian menyerahkan bahan sosialisasi berupa poster jenis ikan dilindungi sebanyak 50 lembar kepada kepala kampung Seget dan tokoh masyarakat Seget yang hadir. Setelah melakukan sosialisasi dan diskusi dengan difasilitasi Kepala kampung Seget, Polsek Seget dan Ketua Dewan Adat Moi Lemas, bapak Ambram Sarim dan masyarakat secara sukarela bersedia menyerahkan dugong tersebut kepada tim gabungan untuk dilepasliarkan kembali pada habitatnya di perairan tanjung Seget. Pada pukul 13.40, dengan menggunakan longboat bermesin 40 PK, tim gabungan membawa dugong tersebut ke pulau Lugo Besar. Sebelumnya, tim Loka PSPL Sorong melakukan orientasi wilayah untuk memastikan bahwa dilokasi tersebut tersedia jenis makanan dugong untuk memastikan bahwa informasi masyarakat bahwa lokasi tersebut betu adalah habitat dugong. Setelah memastikan bahwa lokasi tersebut tersedia jenis lamun makanan dugong yang menjadi indicator bahwa informasi masyarakat bahwa dilokasi tersebut adalah habitat dugong, tim gabungan kemudian melepasliarkannya pada titik koordinat 010 23' 45.6" LS dan 1300 57' 29.0" BT pada pukul 13.56 WIT. [GAr]

lpsplsorong   20 Maret 2019   Dilihat : 567



Artikel Terkait: