Indonesia   |   English  
Saran Dan Pengaduan

LOKA PENGELOLAAN SD PESISIR & LAUT SORONG
DIREKTORAT JENDERAL PENGELOLAAN RUANG LAUT
Kilas Berita  
Larangan Itu Berbunyi Jangan Sentuh Aku

Keindahan bawah laut tidak dapat dirasakan secara maksimal jika kita hanya melihatnya dari dengan duduk di atas perahu atau sampan saja. Satu-satunya cara untuk menikmatinya adalah dengan menerjunkan diri untuk snorkeling ataupun menyelam (diving), dimana sensasi menjadi Deni Manusia Ikan (tokoh fiksi dalam sebuah serial TV) yang bebas menjelajah dan berinteraksi bersama ikan di akuarium raksasa bernama laut bisa benar-benar dirasakan.

 

Memasuki dunia bawah laut terlebih dengan pesona yang dimiliki ekosistem terumbu karang sebagai hotspot bagi aktivitas snorkeling dan penyelaman tidak bisa tidak menimbulkan rasa penasaran yang tinggi yang biasanya diekspresikan melalui sentuhan. Namun seperti halnya ketika kita memasuki sebuah taman yang terjaga dengan baik, dimana di setiap sudutnya akan sering kita jumpai tulisan Dilarang Menginjak Rumput, maka untuk kegiatan snorkeling dan penyelaman, ada satu tata tertib yang wajib dipatuhi, yaitu berupa  larangan untuk menyentuh terumbu karang.  Sebagian besar kehidupan laut pada dasarnya tidak berbahaya bagi kegiatan snorkeling dan penyelaman, tetapi khusus untuk aktivitas snorkeling dan penyelaman yang dilakukan di dalam ekosistem terumbu karang, setidaknya aktivitas sentuhan manusia itu sendirilah yang mengganggu terumbu karang bahkan membunuhnya. Pengaruh terhadap ekosistem terumbu karang inilah yang menjadi alasan utama kenapa larangan tersebut diberlakukan.

 

Pengaruh negatif sentuhan terhadap manusia sebenarnya lebih mengarah kepada keselamatan diri manusia itu sendiri, disebabkan karena ada beberapa jenis hewan yang hidup di ekosistem terumbu karang yang dianjurkan untuk tidak disentuh karena berbahaya. Yang pertama adalah Sea Fern (bulu ayam). Meskipun tampilannya lentur seperti bulu ayam pada kemoceng, tetapi permukaan biota ini dipenuhi oleh sel penyengat bernama nematocyst yang mengandung racun yang dapat menimbulkan sensasi rasa gatal yang luar biasa bercampur rasa panas jika masuk ke dalam kulit dan akan menjalar dengan cepat saat digaruk. Kulit akan memerah dan bentol-bentol dengan ukuran besar-besar seperti orang yang mengalami gejala alergi (urticaria). Racunnya pun mudah berpindah, apabila bagian yang tersengat bergesekan dengan bagian tubuh yang lainnya. Untuk beberapa orang dengan tingkat kepekaan tertentu, racun hydroid dapat juga berakibat fatal. Penanganan ketika tersengat hydroid adalah mengoleskan alkohol 70 % ke bagian yang terkena atau dengan menggunakan asam cuka.

 

Selanjutnya adalah Karang api (Millepora sp.). Karang api dapat dibedakan dengan jelas dari karang bercabang sejati. Permukaan karang api lebih halus, berwarna kuning kecoklatan tanpa lubang-lubang koralit seperti pada karang Acropora. Ciri yang paling menyolok adalah warna keputih-putihan yang terdapat di ujung cabang serta sel penyengat nematocyst yang tampak seperti benang-benang halus yang terjulur. Sel penyengat inilah yang dapat membuat kulit terasa panas atau melepuh jika terkena atau menyentuh karang ini dengan tangan telanjang dan menyebabkan kulit berwarna merah kecoklatan. Rasa sakit akibat sengatan karang api seperti terbakar api dan agak sulit terdeteksi karena racunnya baru mulai menyebar 5-30 menit setelah tergores. Efek yang dihasilkan bisa bervariasi dari iritasi ringan sampai sakit parah dan bahkan terkadang berhubungan dengan mual dan muntah. Tak menutup kemungkinan pula, luka atau abrasi dari karang akan mengekspos kulit sehingga terbuka untuk patogen lain yang mungkin mengambang di air, seperti Vibrio spp. Cara penanganan ketika tersengat karang api adalah dengan merendam luka goresan tersebut dalam air hangat sehingga racun bisa terurai dengan cepat, kemudian cuci dengan cairan antiseptik, dan terakhir basuh dengan cuka dan krim antibiotik yang mengandung cortisone. Jika masih terasa gatal sebaiknya tidak di garuk untuk menghindari infeksi.

 

Yang perlu diwaspadai berikutnya adalah anemon laut yang terlihat seperti bunga yang hidup di dasar laut, sehingga disebut juga mawar laut dengan tentakel-tentakel di sekeliling mulutnya, melingkar sedemikan rupa sehingga menyerupai mahkota bunga. Dibalik keindahannya, tentakel ini menghasilkan racun neurotoksin untuk melumpuhkan mangsanya. Pengaruh pada manusia,  jika tersentuh dengan kulit dapat menyebabkan rasa terbakar dan perih. Hell’s Fire Anemon adalah salah satu jenis anemon yang berbahaya, karena tidak hanya menimbulkan rasa sakit dan pembengkakan, tetapi juga pembusukan daging pada tempat yang disengat beserta kerusakan otot dan syaraf, dengan proses penyembuhan yang membutuhkan waktu relatif lama.  Pertolongan pertama untuk sengatan anemon adalah dengan pemberian cuka pada luka sengat. Tujuannya adalah untuk inaktivasi nematocysts (bagian yang mengandung racun). Bila tidak ada cuka, dapat juga digunakan alkohol 40-70%, baking soda, papain (pelunak daging), air jeruk lemon atau jeruk nipis, atau juga amonia.

 

Sementara pengaruh negatif sentuhan terhadap ekosistem terumbu karang itu sendiri, lebih dikarenakan sifat terumbu karang yang sangat sensitif terhadap pengaruh lingkungan. Seperti kita ketahui, bahwa proses pertumbuhan karang sangatlah rumit, sehingga laju pertumbuhannya sangat lambat, yaitu sekitar 1 cm per tahun. Satu sentuhan saja bisa mengakibatkan  shock terhadap proses pertumbuhan karang yang dapat menghambat proses perkembangan dan pada akhirnya dapat mengakibatkan kematian pada karang tersebut. Dimulai dengan rusaknya bagian luar karang hingga meningkat kepada jumlah polip-polip yang mati pada setiap bagian tubuh dari karang tersebut, hingga matinya seluruh bagian tubuh karang. Hal ini dikarenakan pada kulit kita menempel residu kimia atau kontaminasi, dimana bila kita menyentuh (bagian polip) karang, maka ada proses transfer residu kimia tersebut yang meskipun dalam jumlah kecil, adalah bersifat racun bagi proses metabolisme karang. Bahkan penggunaan sarung tangan pun tidak dianjurkan karena terbuat dari senyawa kimia yang tentunya bersifat racun terhadap metabolisme karang.

 

Bisa dibayangkan efek domino yang ditimbulkan jika luasan ekosistem terumbu karang yang rusak semakin bertambah. Banyak aspek akan terpengaruh, mulai dari penurunan jumlah ikan, menurunnya tingkat pendapatan rumah tangga perikanan, hingga terganggunya rantai perdagangan sumberdaya ikan. Jangankan menginjak, memegang, bahkan hal sederhana seperti menyentuh pun bisa menyebabkan hal tersebut.  Untuk mengantisipasinya, dalam melakukan aktivitas snorkeling atau menyelam yang bersahabat dengan alam, setidaknya ada tiga solusi untuk menjaga diri dari menyentuh terumbu karang, yaitu mengatur buoyancy (daya apung) dengan baik. Jika masih mengalami masalah keseimbangan buoyancy, lebih baik menjaga jarak agar tidak terlalu dekat dengan karang, memperhatikan penggunaan fin (kaki katak) agar tidak mengenai karang dan mengaduk dasar sedimen, dan mengikat seluruh peralatan menyelam agar tidak menggelantung dan menyentuh karang.  Inti dari semua ini adalah untuk kenyamanan kita ber- snorkeling atau menyelam dan tentunya juga untuk kelestarian terumbu karang kita. Mari bersama jaga terumbu karang dengan berusaha untuk tidak menyentuhnya, karena larangan itu berbunyi jangan sentuh aku. [WHa]

lpsplsorong   27 April 2018   Dilihat : 1376



Artikel Terkait: