Indonesia   |   English  
Saran Dan Pengaduan

LOKA PENGELOLAAN SD PESISIR & LAUT SORONG
DIREKTORAT JENDERAL PENGELOLAAN RUANG LAUT
×

KKP

Kilas Berita  
Mutiara Hijau di Sorong Selatan

Wilayah Pesisir dan laut Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang tertinggi baik dari segi ekosistem, jenis, maupun genetik.  Kelengkapan keanekaragaman hayati Indonesia tidak hanya terjadi di daratan tetapi juga terjadi di lautannya dengan berbagai jenis biota yang dikandungnya, diantaranya adalah ekosisitem mangrove, lamun, dan terumbu karang. Keanekaragaman tersebut  merupakan aset untuk menunjang pembangunan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Hutan bakau (mangrove) merupakan salah satu sumberdaya alam daerah pantai yang mempunyai arti penting berupa fungsi produksi, perlindungan, dan pelestarian alam.  Hutan  mangrove  juga  merupakan  ekosistem  yang  sangat  unik  yaitu sebagai penyeimbang (interface) antara ekosistem daratan dengan ekosistem lautan.

 

Mangrove adalah Mutiara Hijau atau Paru-paru dunia yang menyumbang oksigen bagi mahluk hidup di bumi, selain itu juga mangrove memiliki begitu banyak fungsi diantaranya dapat menyerap gas karbon sehingga dapat mengurangi emisi, sebagai tempat penyangga proses intrusi atau rembesan air laut ke darat, melindungi pantai dari abrasi air laut, penyedia makanan bagi avertebrata kecil dan biota laut, tempat memijah mengasuh (nursery ground), tempat mencari makan udang, kepiting, kerang dan biota laut lainnya, sebagai sumber plasma nutfah serta habitat alami bagi berbagai jenis biota darat dan laut serta masih banyak lagi fungsi keberadaan mangrove di muka bumi ini sebagaimana tujuan penciptannya untuk memenuhi hajat manusia.

 

Luas hutan mangrove di Indonesia mencapai 3.416.181,71 ha sedangkan hutan mangrove di Papua dan Papua Barat adalah 1.350.600,00 ha atau 39,50 % dari total di Indonesia.Sementara itu berdasarkan hasil survei tim Sea Project-USAID Indonesia luas hutan mangrove Kabupaten Sorong Selatan mencapai 77.596,00 ha atau 2,5 % dari total di Indonesia dan 5,8 % dari total mangrove di Papua dan Papua Barat. Keanekaragaman hayati mangrove di wilayah pesisir Sorong Selatan cukup tinggi, terlihat dari ditemukan sebanyak 33 jenis mangrove selama pengamata  atau 61,50 % dari total 52 jenis mangrove di Papua dan Papua Barat. Hal ini berbading lurus dengan produksi udang yang dihasilkan meyumbang untuk konsumen dalam negeri (pasar lokal Sorong Raya, Surabaya, dan Makasar) dan bahkan luar negeri (Eropa dan Asia).

 

Kecenderungan pemanfaatan udang meningkat sebesar 73 % dari tahun 2006 ke tahun 2015. Hasil survei cepat menunjukkan Catch per Unit Effort (CPUE) udang yang ditangkap oleh nelayan Kabupaten Sorong Selatan sebesar 18,98 kg/trip. Berdasarkan data estimasi pendaratan udang di Kabupaten Sorong Selatan, produksi udang di tahun 2015 sebesar 15.386,35 ton dengan tingkat pemanfaatan sebesar 22,78 %. Persentase ini menunjukkan pemanfaatan udang masih bisa untuk dioptimalkan dengan prinsip kehati-hatian.

 

Kondisi hutan mangrove di Sorong Selatan mulai mengalami tekanan, seperti penebangan hutan mangrove untuk dijadikan bahan bangunan belum lagi kondisi sampah yang akan menganggu tubuh kembang mangrove dan biota lain yang ada di dalamnya. Ibarat sebuah penyakit kanker masih pada tahap stadium 1. Sebelum penyakit ini menjalar sampai keseluruh ekosistem mangrove di Sorong Selatan, perlu dilakukan upaya konservasi untuk melindungi dan mengatur pengelolaannya sehingga dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan. Hal inilah yang mendorong WWF Indonesia bersama dengan Pemerintah Provinsi (Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Papua Barat), Pemerintah Kabupaten (Dinas Perikanan Kabupaten Sorong Selatan), Loka Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut Sorong, Balai Besar Kawasan Konservasi Sumberdaya Alam Provinsi Papua Barat, Universitas Papua, Universitas Kristen Papua, Universitas Muhammadiyah Sorong, Politeknik Kelautan dan Perikanan Sorong bersama dengan masyarakat Kabupaten Sorong Selatan berinisiastif mengusulkan KKP3K (Kawasan Konservasi Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil), dari langkah tersebut diharapkan Mutiara Hijau itu terus lestari, terus terlindungi dapat dilihat, dapat dirasakan dan dinikmati  oleh anak cucu kita kelak, sehingga kepiting, udang, kerang dan biota laut lainnya masih bisa terus ditangkap untuk pemenuhan kebutuhan ekonomi masyarakat secara berkelanjutan, karena semua itu bukanlah milik kita melainkan pinjaman dari anak cucu kita. [FWi]

lpsplsorong   10 April 2018   Dilihat : 2568



Artikel Terkait: