Indonesia   |   English  
Saran Dan Pengaduan

LOKA PENGELOLAAN SD PESISIR & LAUT SORONG
DIREKTORAT JENDERAL PENGELOLAAN RUANG LAUT
Kilas Berita  
Teripang Bergabung dalam Daftar CITES?

Tahun 2019, Conference of the Parties (COP) ke 18 CITES yang diselenggarakan di Genewa, Swiss menambahkan beberapa jenis biota laut ke dalam daftarnya, salah satunya Teripang Susu, menandakan perdagangan jenis tersebut akan dibatasi peredarannya baik dalam negeri maupun luar negeri melalui sistem kuota. Total 3 (tiga) jenis teripang yang masuk dalam daftar Appendix II CITES, antara lain:

 

Holothuria fuscogilva atau sering disebut Teripang Susu Putih/Kuning/Kunyit

 

Holothuria fuscogilva

(sumber: http://cookislands.bishopmuseum.org/species.asp?id=7398, ©CINHP / G. McCormack)

 

Holothuria nobilis atau Teripang Koro/Cera Hitam

 

 

Holothuria nobilis

(sumber: http://portugal.inaturalist.org/photos/2339179)

 

Holothuria whitmaei dengan nama lokal Teripang Susu Hitam

 

Holothuria whitmaei

(sumber: http://cookislands.bishopmuseum.org/species.asp?id=7398, ©CINHP / G. McCormack)

 

Masuknya jenis teripang dalam daftar Appendix II CITES, pelaku usaha dituntut mengikuti aturan perdagangan/peredarannya melalui sistem kuota. Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) sebagai Manajement Authority (MA) CITES, ikut berperan dalam penyusunan kuota pengambilan dan kuota ekspor dengan LIPI sebagai penentu akhir kuota yang diberikan kepada para pelaku usaha, Unit Pelaksana Teknis  Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut KKP yang bersinggungan langsung dengan pelaku usaha juga memfasilitasi perizinan perdagangan/peredaran di wilayah kerja, secara otomatis pelaku usaha yang melakukan perdagangan/peredaran secara legal adalah para pelaku usaha yang sudah terdata di sistem e-SAJI milik KKP.

 

Populasi di alam menjadi pertimbangan dasar jenis-jenis di atas masuk dalam daftar CITES, selain itu permasalahan data perdagangan/peredaran teripang yang belum tersedia secara spesifik ikut tersorot. Potensi harga teripang juga menjadi salah satu alasan, berkisar antara Rp.800.000-1.500.000/kg dalam bentuk olahan kering menjadikan teripang termasuk dalam komoditas ekonomi tinggi.

 

Habitat teripang di perairan dangkal, sering muncul di padang lamun dengan substrat pasir berlumpur maupun di daerah terumbu karang merupakan lokasi yang mudah dijangkau oleh nelayan, menjadikannya mudah dieksploitasi hingga diperdagangkan/diedarkan dalam jumlah yang besar. Kondisi demikian mempengaruhi tren penangkapan yang terus-menerus tetapi belum ada manajemen stok yang cukup hingga terjadi penangkapan berlebih (overfishing) dari waktu ke waktu.

 

Upaya pelestarian pun digencarkan untuk mengatasi kelangkaan populasi dengan melakukan restocking  di habitat alami, rehabilitasi habitat, penyusunan Non Detriment Finding (NDF) Teripang dan Budidaya Teripang. Peningkatan kapasitas berupa bimbingan teknis pengenalan jenis juga dilakukan untuk menyempurnakan ketersediaan data perdagangan/peredaran teripang.

 

Melihat masalah kelangkaan populasi, di wilayah timur Indonesia memiliki satu kearifan lokal yang disebut “Sasi”. Sasi dapat diartikan “Larangan” yang merupakan hukum adat larangan mengambil sesuatu di lokasi tertentu, dengan tujuan menjaga kelestarian dan populasi sumber daya. Terlihat dari tujuannya, dapat menjawab masalah kelangkaan populasi dan menjadi upaya alternatif bagi wilayah lain di Indonesia. [IHP/LPSPL Sorong]

 

Referensi :

 

https://www.mongabay.co.id/2015/07/12/sasi-konservasi-berbasis-kearifan-lokal-di-raja-ampat/

 

https://www.mongabay.co.id/2018/03/05/teripang-si-buruk-rupa-dari-perairan-dangkal-yang-bernilai-ekonomi-tinggi/

 

lpsplsorong   18 Oktober 2021   Dilihat : 1609



Artikel Terkait: