Indonesia   |   English  
Saran Dan Pengaduan

LOKA PENGELOLAAN SD PESISIR & LAUT SORONG
DIREKTORAT JENDERAL PENGELOLAAN RUANG LAUT
Kilas Berita  
Habitat Dugong di Perairan Wilayah Indonesia Timur (Maluku, Maluku Utara, Papua, dan Papua Barat)

Dugong (Dugong dugon) merupakan salah satu dari 35 jenis mamalia laut di perairan indonesia yang dapat ditemui dihabitat padang lamun. Dugong adalah bagian dari ordo Sirenia. Semua anggota Sirenia adalah mamalia laut herbivor, dan telah beradaptasi dengan baik dengan lingkungan lautnya. Ordo Sirenia terdiri atas dua family, yaitu Trichechidae dan Dugongidae. Dugong adalah salah satu dari dua anggota family Dugongidae; anggota lainnya, yaitu Sapi Laut Steller (Hydrodamalis gigas) telah punah akibat perburuan di abad ke-18, hanya 30 tahun setelah ditemukan.

Klasifikasi Dugong berdasarkan Muller (1766) adalah sebagai berikut:

 Phyum

:

Chordata

Class

:

Mammalia

Ordo

:

Sirenia

Family

:

Dugonginae

Genus

:

Dugong

Spesies

:

Dugong dugon

 

 (Sumber: https://beritagar.id/artikel/sains-tekno/mengenal-dugong-mamalia-laut-yang-hampir-punah)

 

Ditahun 1970-an populasi dugong di perairan Indonesia diperkirakan mencapai 10.000 ekor, sedangkan pada tahun 1994 diperkirakan hanya tersisa 1.000 ekor saja (Marsh et al., 2002). Mamalia laut yang semakin langka ini dilindungi dari kepunahan berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan jenis Tumbuhan dan Satwa, Permen KP No 12/Men/2012 Tentang Usaha Perikanan Tangkap di Laut Lepas dan Status perlindungan dugong dilindungi secara nasional dan internasional (UU No 5 tahun 1990, UU Perikanan No. 31 tahun 2004 jo UU No45 tahun 2009, Permen LHK P.106/MENLHK/Setjen/KUM 1/12/2018, CITES Terkait dengan pengelolaan Duyung).

 

1. Habitat Hidup Dugong Di Perairan Wilayah Timur Indonesia

Persebaran dugong bisa ditemukan di kawasan perairan sekurang-kurangnya 37 negara di indo-pasifik (Marsh et al., 2002). Indonesia merupakan Negara yang menjadi habitat dugong. Pada umumnya persebaran dugong terdapat di Indonesia bagian timur (Lawler, 2002), namun persebaranya hanya dibeberapa tempat saja.

Keberadaan dugong berasosiasi langsung dengan keberadaan populasi padang lamun. Di perairan Indonesia lamun umumnya tumbuh di daerah pasang surut dan sekitar pulau-pulau karang (Nienhuis et al., 1989). Tumbuh pada substrat dengan dasar lumpur, pasir berlumpur, pasir dan pecahan karang. Dimana Jumlah spesies lamun di dunia adalah 60 spesies, yang terdiri atas 2 suku dan 12 marga (Kuo and McComb, 1989).

Di perairan Indonesia terdapat 15 spesies, yang terdiri atas 2 suku dan 7 marga. Jumlah spesies lamun di dunia adalah 60 spesies, yang terdiri atas 2 suku dan 12 marga (Kuo and McComb 1989). Jenis lamun yang dapat dijumpai adalah 12 jenis, yaitu Enhalus acoroides, Thalassia hemprichii, Cimodocea rotundata, Cimodocea serrulata, Haludole pinifolia, Halodule uninervis, Halophila decipiens, Halophila ovalis, Halophila minor, Halophila spinulosa, Syringodium iseotifolium, dan Thalassodendron ciliatum. Tiga jenis lainnya, yaitu Halophila sulawesii merupakan jenis lamun baru yang ditemukan oleh Kuo (2007), Halophila becarii yang ditemukan herbariumnya tanpa keterangan yang jelas, dan Ruppia maritima yang dijumpai koleksi herbariumnya dari Ancol-Jakarta dan Pasir Putih-Jawa Timur.

 

   

Gambar 1a.Peta Status Padang Lamun Indonesia 2018

Gambar 1b.Peta Sebaran Kondisi Lamun Di Perairan Timur Indonesia (dot merah : jelek; kuning : sedang; hijau : baik)

 

 

Gambar 1c.Indikasi Sebaran Dugong di Indonesia

 

Dugong diidentifikasi memakan seluruh jenis lamun, namun Jenis-jenis lamun yang disenangi umumnya adalah Halodule uninervsis, H. pinifolia, Syringodium isoetifolium. Halophila ovalis. H. spinulosa, Cymodocea rotundata, C. serrulate, Thalasia hemprichii, dan  Zostera capricorni  (PREN   1993; LANYON et al. 1989; DE YONG et al. 1995) Untuk itu, duyung sebagai hewan herbivora akan tergantung sangat dengan penyebaran lamun.

 

Gambar 2a. Aktifitas Makan Dugong (Sumber : Kementerian Kelautan dan Perikanan)

  2. Perairan Maluku dan Maluku Utara

Pada tahun 1990 dan 1992 telah dilakukan penilitian tentang distribusi, migrasi, dan pola makan dugong di Aru Timur dan Pulau-pulau Lease (Ambon dan kepulauaan Haruku, Saparua, dan Nusa Laut) oleh tim dari Universitas Pattimura Ambon dan Laiden University yang mendapati populasi dugong diperairan tersebut berkisar 22-37 ekor. Selain di Aru Timur dan Pulau-pulau Lease (Ambon dan kepulauaan Haruku, Saparua, dan Nusa Laut) Kawasan Konservasi Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (KKP3K), Pulau Kei Kecil, perairan dan pulau-pulau di sekitarnya, Kabupaten Maluku Tenggara merupakan habitat dugong yang di dukung dengan luasnya ekosistem padang lamun mencapai 5.314,90 ha yang didominasi dari jenis Thalassia hemprichii, Halophila ovalis, dan Halodule uninervis dengan rata-rata persen tutupan lamun, yaitu 43,62% dan memiliki rata-rata kerapatan lamun 16 batang/m2. Keberadaan padang lamun ini tentunya menjadi indikasi akan adanya dugong di wilayah tersebut, mengingat padang lamun sebagai wilayah makan mereka, terlebih lamun jenis Halophila dan Halodule (Dokumen Rencana Pengelolaan KKP3K Maluku Tenggara 2015; Aragones 1996).

Selain bukti keberadaan dugong di perairan Maluku lewat penelitian ilmiah, keberadaan dugong diperairan Maluku juga dapat dibuktikan dengan kejadian terdamparnya dugong. Tahun 2016-2018 tercatat ada 6 kejadian D. dugon terdampar di Provinsi Maluku dari 20 kejadian D. dugon terdampar di wilayah Indonesia Timur.

 

 

Gambar 3. Dugong Jantan 2.5 Meter Terdampar Di Pantai Desa Eti, Kabupaten Seram Bagian Barat (Sumber : Beritabeta.com)

Secara khusus penelitian terkait potensi habitat dugong di perairan Maluku Utara belum dilakukan. Namun dengan dilihat dan adanya beberapa kejadian terdampar dan terdamparnya dugong di beberapa pesisir dan periaran laut Maluku Utara dan mengindikasikan bahwa, ada potensi habitat dugong.

Ada beberapa wilayah yang berpotensi menjadi habitat dugong di perairan Maluku Utara, diantaranya perairan kota Ternate, Kota Tidore, Kab. Halmahera Timur (Wasile), Kab. Pulau Morotai (TWP Pulau Rao-Tanjung Dahegila), Halmahera Barat, Halmahera Selatan (Weda), dan Halmahera Utara (Tobelo)

 

Gambar 4. Pantai di wasile haltimini suguhkan kesempatan-bercengkerama dengan dugong (Sumber : Maluku.inews.id)

 

3. Perairan Papua dan Papua Barat

Di indonesia, dugong tersebar mulai dari ujung indonesia bagian barat (aceh) hingga timur indonesia (papua). Populasi tertingginya berdasarkan Spalding (2007) diperkirakan ada di perairan ekoregion Arafura  (kurang dari 200 ekor), ekoregion Papua (kurang dari 100 ekor), serta ekoregion Lesser Sunda, ekoregion Paparan Sunda, dan ekoregion Selat Makasar yang masing-masing kurang dari 100 ekor. Sementara, untuk ekoregion lainnya terpantau dalam  populasi yang lebih kecil.

Penilitian secara khusus tentang habitat dan populasi dugong pada perairan laut Papua dan Papua Barat belum dilakukan secara intens dan berkelanjutan. Data temuan keberadaan dugong pada kedua wilayah perairan tersebut, masih berupa data dukung pada beberapa rangkaiaan kegiatan penelitian dan kajian ilmiah.

Perairan Papua Barat dengan potensi habitat dugong yakni di perairan Kaimana, perairan Fak-Fak, perairan Raja Ampat (Misool, Waigeo, Batanta, dan Salawati), perairan Sorong (Malaumkarta), Taman Nasional Teluk Cenderawasih (TNTC- Pulau Roon). Secara khusus perairan laut di Papua Barat yang paling berpotensi sebagai habitat alami dugong adalah pada perairan Raja Ampat dan Sorong.

Untuk perairan Papua, terdapat beberapa wilayah penyebaran yaitu di perairan pulau Biak (Padaido) serta Taman Nasional Teluk Cenderawasih (Nabire-Kwatisore). [OBR/LPSPL Sorong]

 

 

Gambar 5. Masyarakat Fak-Fak Pelihara Ikan Duyung (Sumber : travel.detik.com)

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Balai Besar KSDA Papua Barat. 2018. Konservasi Dugong dugon Balai Besar KSDA Papua Barat. https://kkp.go.id/djprl/lpsplsorong/artikel/27022-strategi-pengelolaan-keanekaragaman-hayati-di-pesisir-utara-bentang-kepala-burung-papua (20 Mei 2021).

Direktorat Konservasi Dan Keanekaragaman Laut. 2017. Rencana Aksi Nasional Konservasi Dugong dan Habitatnya (Lamun) di Indonesia. Periode I : 2017-2019. https://surajis.files.wordpress.com/2017/08/ran-dugong_.pdf (20 Mei 2021).

Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut. 2019. Untuk Pertama Kalinya, Bayi Dugong Berhasil Dilepasliarkan di Indonesia. https://surajis.files.wordpress.com/2017/08/ran-dugong_.pdf (20 Mei 2021)

Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Maluku Utara. 2019. Rencana Pengelolaan dan Zonasi Taman Wisata Perairan (TWP) Pulau Rao-Tanju Dehegila Provinsi Maluku Utara Tahun 2020-2040. Ternate. DKP Malut

Loka Pengelolaan Sumber Daya Laut dan Pesisir Sorong. 2021. Strategi Pengelolaan Keanekaragaman Hayati Di Pesisir UtaraBentang Kepala Burung Papua. https://kkp.go.id/djprl/lpsplsorong/artikel/27022-strategi-pengelolaan-keanekaragaman-hayati-di-pesisir-utara-bentang-kepala-burung-papua (20 Mei 2021)

Sunuddin, Adriani, Muta Ali Khalifa, Syamsus Basri Lubis, dkk. 2016. Bunga Rampai Konservasi Dugong Dan Habitat Lamun Di Indonesia, Bagian 1, 5-14, 71-86.

Mamayu, Ikha Jayanti. 2019. Wilayah Potensial Kejadian Dugong Dugon (Műller, 1776) Terdampar Dan Strategi Pengelolaannya Di Kabupaten Maluku Tengah Provinsi Maluku. Semarang. Universitas Diponegoro.

https://www.mongabay.co.id/2016/04/28/ada-apa-dengan-dugong/ (20 Mei 2021)

https://www.google.com/search?q=dugong+terdampar+di+maluku (20 Mei 2021)

https://www.google.com/url?sa=i&url=https%3A%2F%2Fmaluku.inews.id%2Fberita%2Fpantai-di-wasile-haltim-ini-suguhkan-kesempatan-bercengkerama-dengan-dugong-penasaran&psig (20 Mei 2021)

lpsplsorong   27 September 2021   Dilihat : 69



Artikel Terkait: