Indonesia   |   English  
Saran Dan Pengaduan

LOKA PENGELOLAAN SD PESISIR & LAUT SORONG
DIREKTORAT JENDERAL PENGELOLAAN RUANG LAUT
Kilas Berita  
POTENSI SUMBERDAYA PERIKANAN DI WPP-NRI 718 DAN STATUS PENGELOLAAN DENGAN INDIKATOR EAFM

POTENSI SUMBERDAYA PERIKANAN DI WPP-NRI 718 DAN STATUS PENGELOLAAN DENGAN INDIKATOR EAFM

 

 

Pendahuluan

 

Potensi sumberdaya alam yang ada pada dasarnya dapat dimanfaatkan untuk pemenuhan kebutuhan manusia. Namun, seiring dengan bertambahnya populasi manusia, kebutuhan akan sumberdaya juga meningkat sementara jumlah sumberdaya terbatas. Pemanfaatan sumberdaya yang melampaui daya dukung akan menyebabkan penurunan sumberdaya dan memicu degradasi lingkungan. Salah satu sumberdaya yang terancam keberlangsungannya adalah sumberdaya perikanan. Pengelolaan sumberdaya perikanan pada awalnya hanya berfokus pada pengembangan aspek ekonomi semata. Hal ini karena adanya kesalahpahaman bahwa sumberdaya ikan dapat pulih sehingga dapat dieksploitasi besar-besaran, dan memaksimalkan  produksi tangkapan ikan untuk mengejar keuntungan sebesar-besarnya.

 

Dalam perkembangannya, paradigma pengelolaan perikanan tersebut telah bergeser pada konsep yang berkelanjutan dimana tidak hanya menekankan pada aspek ekonomi, namun aspek ekologi dan sosial juga menjadi perhatian. Mengingat luasnya wilayah perairan Indonesia sehingga untuk optimalisasi pengelolaan sumberdaya perikanan, maka Pemerintah menetapkan Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia melalui peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan no 1 tahun 2009 yang telah diubah melalui peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan no 18 tahun 2014 dimana dalam hal ini pengelolaan perairan laut Indonesia dibagi menjadi beberapa satuan Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia (WPPNRI). WPPNRI dibagi dalam 11 (sebelas) wilayah pengelolaan perikanan, salah satunya WPP 718.

 

WPP-NRI 718 mencakup wilayah Laut Aru, Laut Arafuru dan Laut Timor bagian Timur yang merupakan bagian dari paparan sahul dan secara geografis berbatasan dengan daratan Papua dan Laut Banda di sebelah Utara, serta berbatasan langsung dengan 3 (tiga) negara yaitu Australia, Timor Leste dan Papua Nugini. Secara administratif, WPP ini terdiri dari 3 (tiga) Pemerintah Provinsi yatu Papua, Papua Barat dan Maluku, serta 8 (delapan) Pemerintah Kab/Kota meliputi Kabupaten Maluku Tenggara, Maluku Tenggara, Maluku Barat Daya, Merauke, Mappi, Asmat, Mimika dan Aru Kepulauan (dokumen RPP WPP-NRI 718, 2014).

 

Potensi Sumberdaya Ikan

 

Laut Arafura (WPP 718) merupakan salah satu perairan tersubur di dunia, sehingga sumberdaya perikanan di perairan ini tergolong melimpah, terutama udang dan ikan demersal. Usaha penangkapan udang di perairan ini sudah dilakukan sejak lama, dimulai oleh perusahaan patungan (joint venture) antara Indonesia dengan Jepang pada tahun 1970-an yang berpangkalan di Sorong dan Ambon. Dalam perkembangannya, basis penangkapan udang di Laut Arafura berkembang ke daerah Merauke, Tual, Benjina,Kaimana, Ambon dan Kendari (buku Potensi Sumber Daya Kelautan dan Perikanan WPPNRI 718, 2016). Sumberdaya ikan yang terdapat di WPP-NRI 718 terdiri dari 5 kelompok utama yaitu ikan pelagis besar, ikan pelagis kecil, ikan demersal, ikan karang dan udang.

 

  1. Ikan Pelagis Besar

 

Jenis-jenis ikan pelagis besar yang penting di perairan Laut Arafura adalah ikan tongkol (tongkol lisong, tongkol krai, dan tongkol komo), hiu, marlin dan tenggiri, ikan madidihang (yellowfin tuna), tuna mata besar dan cakalang.

 

  1. Ikan Pelagis Kecil

 

Kelompok ikan pelagis kecil yang tertangkap antara lain Selar (Caranx spp), tetengkek (Megalaspis cordyla), bawal hitam (formio niger), ikan terbang (Cypselurus spp), julung-julung (Hemirhampus spp), kuwe (Caranx sexfasciatus), kembung (Rastrelliger spp), banyar (Rastreliliger kanagurta), tembang (Sardinella fimbriata) dan ikan biji nangka (Upeneus vittatus).

 

  1. Ikan Demersal

 

Jenis ikan demersal yang ditemukan antara lain ikan manyung (Arius spp), ikan sebelah (Psettodes erumei), lalosi biru (Caesio caerulaurea), bawal putih (Pampus argentus), kakap putih (Lates carcarifer), lencam (Lethrinus spp), kuniran (Upeneus sulphureus), kakap merah (Lutjanus spp) dan layur (Trichiurus spp).

 

  1. Ikan Karang

 

Jenis ikan karang yang tertangkap antara lain ikan ekor kuning (Caesio cuning), ikan napoleon (Cheilinus undulatus), kerapu dan baronang (siganus spp)

 

  1. Jenis Udang dan Krustase lainnya

 

Lebih dari 17 jenis udang penaeid terdapat di perairan Arafura dan hanya 5-6 jenis yang diusahakan secara komersial dan diekspor yaitu kelompok udang jenis penaeidae: udang putih/jerbung (Penaeus merguensis), Udang windu/tiger (P. monodon),udang flower (P. semisulcatus, P.esculantus), udang ratu (P.latisulcatus), udang dogol (Metapenaeus ensis, M. endeavouri) dan udang krosok (Parapenaeopsis stylifera, Trachypenaeus asper, Solenocera subnuda). Selain itu, di WPP 718 juga banyak ditemukan udang kipas (Thennus orientalis) dan kepiting bakau hijau (Scylla serrata)

 

 

Status Pengelolaan Perikanan

 

Sebagai upaya dalam pengelolaan sumberdaya perikanan di WPP-NRI 718, telah teridentifikasi beberapa  isu yang kemudian dijadikan tujuan dan sasaran pengelolaan yang terlingkup dalam 3 aspek yaitu sumberdaya ikan dan lingkungan, sosial ekonomi dan tata kelola. Oleh karena itu, untuk mengintegrasikan ketiga aspek yang menyeimbangkan antara tujuan sosial ekonomi dengan mempertimbangkan kelestarian lingkungan yang menjadi suatu kesatuan sistem pengelolaan yang komprehensif dan berkelanjutan digunakan pendekatan ekosistem yang dikenal dengan istilah Ecosystem Approach to Fisheries Management (EAFM).

 

Berdasarkan hasil kajian awal yang telah dilakukan Direktorat Sumberdaya Ikan, Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap, Kementerian Kelautan dan Perikanan yang bekerjasama dengan WWF‐Indonesia dan Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan, Institut Pertanian Bogor pada tahun 2011 lalu, menunjukkan status pengelolaan perikanan di WPP 718 pada indikator EAFM sebagai berikut :

 

No

Domain

Nilai

Deskripsi

1

Sumberdaya Ikan

243

Baik

2

Habitat dan ekosistem

263

Baik Sekali

3

Teknik Penangkapan Ikan

217

Baik

4

Sosial

167

Sedang

5

Ekonomi

200

Sedang

6

Kelembagaan

178

Sedang

Agregat

211

Baik

 

Walaupun nilai indicator EAFM termasuk dalam kategori “baik”, tetapi tingkat pemanfaatan sumberdaya perikanan di WPP-NRI 718 sudah cukup mengkhawatirkan. Berdasarkan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan nomor 47 tahun 2016 tentang Estimasi Potensi, Jumlah Tangkapan Yang Diperbolehkan, dan Tingkat Pemanfaatan Sumber Daya Ikan di Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia, khusus untuk WPP-NRI 718 memiliki potensi sumberdaya perikanan sebesar 1,9 juta ton dengan tingkat pemanfaatan untuk jenis udang, ikan demersal dan lobster telah mengalami over-exploited (nilai E ≥1).

 

Penutup

 

Dalam rangka optimalisasi pengelolaan sumberdaya perikanan, wilayah perairan Indonesia dibagi kedalam 11 (sebelas) wilayah pengelolaan yang disebut wilayah pengelolaan perikanan negara Republik Indonesia (WPP-NRI). Salah satu WPP-NRI yang memiliki potensi sumberdaya perikanan khususnya pada jenis udang dan ikan demersal adalah WPP-NRI 718. Berdasarkan kajian awal yang telah dilakukan kementerian Kelautan dan Perikanan pada tahun 2011 dengan indikator EAFM, menunjukkan hasil dengan status agregat dalam kategori “baik”. walau demikian, pada tahun 2016, pemerintah telah mengeluarkan status tingkat pemanfaatan sumberdaya perikanan di WPP-NRI 718 telah masuk kategori over-exploited (nilai E ≥1).

 

Sebagai masukan terhadap Pemerintah, perlu dilakukan kajian kembali terhadap indicator EAFM untuk melihat perkembangan pengelolaan perikanan saat ini khususnya di WPP-NRI 718 sebagai perbandingkan kajian awal tahun 2011 lalu dan bahan evaluasi bagi pengambil kebijakan dalam rangka penguatan program yang saat ini telah berjalan.

[GA / LPSPL Sorong]

 

Referensi

 

  1. Kajian Awal Keragaan Pendekatan Ekosistem dalam Pengelolaan Perikanan untuk Wilayah Pengelolaan Perikanan Indonesia tahun 2011
  2. Rencana Pengelolaan Perikanan Laut Aru, Laut Arafuru dan Laut Timor bagian Timur WPP-NRI 718 tahun 2014
  3. Potensi Sumber Daya Kelautan dan Perikanan WPPNRI 718 tahun 2016
  4. Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan nomor 47 tahun 2016 tentang Estimasi Potensi, Jumlah Tangkapan Yang Diperbolehkan, dan Tingkat Pemanfaatan Sumber Daya Ikan di Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia

lpsplsorong   05 September 2021   Dilihat : 495



Artikel Terkait: