Indonesia   |   English  
Saran Dan Pengaduan

LOKA PENGELOLAAN SD PESISIR & LAUT SORONG
DIREKTORAT JENDERAL PENGELOLAAN RUANG LAUT
Kilas Berita  
Mengenal Hiu Tikus atau Alopias pelagicus Nakamura 1935

Hiu Tikus atau Alopias pelagicus termasuk dalam family Alopiidae yang terdiri atas tiga spesies di dunia yaitu Alopias pelagicus Nakamura, 1935; Alopias superciliosus Lowe 1840 dan Alopias vulpinus Bonnaterre, 1788. A. pelagicus merupakan salah satu dari dua spesies yang ditemukan di perairan Indonesia selain spesies A. superciliosus. Alopias pelagicus (Pelagic Thresher Shark) adalah jenis ikan hiu oseanik yang hidup di lapisan permukaan hingga kedalaman 152 m sehingga seringkali tertangkap sebagai hasil tangkapan sampingan atau bycatch dari perikanan rawai tuna dan jaring insang tuna.

 

 

Gambar. Alopias pelagicus

 

Hiu Tikus atau Alopias pelagicus memiliki ukuran tubuh yang lebih kecil dibandingkan dua spesies lainnya, panjang tubuhnya hanya mencapai tiga meter lebih. Ciri khas dari spesies ini ditandai dengan bentuk sirip ekor yang panjang menyerupai cambuk dan juga ekor tikus atau monyet sehingga Hiu ini lebih dikenal dengan sebutan hiu tikus atau hiu monyet. Selain itu, bentuk mata yang bulat dan relatif lebar juga menyerupai mata tikus, posisi sirip punggung pertama terletak di tengah pangkal sirip dada dan sirip perut dan warna putih dibagian perut dan tidak meluas sampai pangkal sirip dada merupakan karakteristik yang membedakan dengan spesies Alopias lainnya.

 

Ekor Hiu tikus yang berbentuk cambuk digunakan dalam berburu mangsa berupa ikan-ikan kecil dan cumi-cumi. Kecepatan cambukan ekor Alopias pelagicus setara dengan 60 miles/hour, dan kekuatannya bisa membelah molekul air dan oksigen sehingga dapat mencambuk mangsa hingga pingsan atau mati. Sistem reproduksi hiu ini adalah ovovivipar, bereproduksi sebanyak 2 kali setahun tanpa waktu atau musim tertentu  dan biasanya menghasilkan 2 juvenile.

 

Sebaran Hiu Tikus mencakup perairan Samudera Hindia, Australia, Pasifik utara bagian barat hingga Pasifik selatan bagian barat, sentral Pasifik dan wilayah Pasifik bagian timur, ditemukan juga di laut dangkal perairan Malapascua, Filipina. Sedangkan di perairan Indonesia sendiri, Hiu Tikus kerap muncul di perairan Aceh, Bali, hingga ke Nusa Tenggara Timur, Laut Arafura  dan Maluku. Namun, seringkali ditemukan dalam keadaan sudah mati dan siap untuk dijual belikan. 

 

Upaya perlindungan yang dilakukan pada Hiu Tikus (Alopias pelagicus) telah dimulai sejak 2009 melalui Resolusi 10/12 IOTC Tahun 2009 tentang perlindungan Hiu Tikus. Selanjutnya pada tahun 2016, Hiu Tikus disepakati masuk ke dalam daftar Appendix II CITES. Sedangkan untuk upaya perlindungan di Indonesia, Hiu Tikus sudah diatur dalam Pasal 73 Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No. 30 tahun 2012 dan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No. 26 tahun 2013 tentang Usaha Perikanan Tangkap di WPP NRI wajib dilepas dan dilaporkan jika mati, demikian juga pada Bab X Pasal 39 Permen KP No. 12 tahun 2012 tentang usaha perikanan tangkap di laut lepas. 

 

Pemanfaatan Hiu Tikus atau Alopias pelagicus sama seperti jenis hiu lainnya, secara umum hampir semua bagian tubuh hiu dimanfaatkan. Sirip merupakan bagian tubuh yang paling dicari karena memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi. Bagian sirip, daging, tulang dan kulit biasanya diekspor ke berbagai Negara untuk dimanfaatkan sebagai bahan makanan, bahan baku obat maupun kosmetik, bahan baku kerajinan kulit ataupun dijadikan sebagai makanan ringan.

 

Pemanfaatan Hiu Tikus di Indonesia harus sesuai dengan ketentuan dalam Peraturan Menteri Kelautan Dan Perikanan Republik Indonesia Nomor 61/Permen-Kp/2018 Tentang Pemanfaatan Jenis Ikan Yang Dilindungi dan/atau Jenis Ikan Yang Tercantum Dalam Appendiks Convention On International Trade In Endangered Species Of Wild Fauna And Flora. Untuk Loka PSPL Sorong sendiri, pada tahun 2020 terdapat 9 permohonan pemeriksaan produk hiu dan pari dari pelaku usaha yang terdapat jenis Alopias pelagicus. Permohonan tesebut berasal dari pelaku usaha di wilayah kerja Loka PSPL Sorong diantaranya Sorong, Manokwari, Kaimana, Fak-fak, Tual dan Tobelo. Permohonan tersebut tentunya diusut sesuai dengan SOP dan Peraturan-peraturan tentang pemanfaatan Hiu dan Pari yang berlaku di Indonesia.   

 

Sumber:

 

Dharmadi., Fahmi.,  dan Triharyuni S. 2012. Aspek Biologi dan Fluktuasi Hasil Tangkapan Cucut Tikusan, (Alopias pelagicus) di Samudera Hindia. Bawal Volume 4 Hal: 131-139.

 

Hardiningsih W., Purwadi H., dan Latifah E. 2017. Dampak Ketiadaan Pengaturan Kuota Ekspor Hiu Tikus (Alopias Ssp.) di Indonesia. Padjadjaran Jurnal Ilmu Hukum, Volume 4 Nomor 3.

 

Thresher Shark Indonesia. 2020. Pemasangan Internal Acoustic Tag pada Hiu Tikus Menjadi yang Pertama di Indonesia dan Dunia. https://threshershark.id/id/update/internal-acoustic-tag-hiu-tikus/

 

lpsplsorong   29 April 2021   Dilihat : 492



Artikel Terkait: