Indonesia   |   English  
Saran Dan Pengaduan

LOKA PENGELOLAAN SD PESISIR & LAUT SORONG
DIREKTORAT JENDERAL PENGELOLAAN RUANG LAUT
Kilas Berita  
TIMUN LAUT DAN LINGKUNGANNYA DI PADANG LAMUN

WhatsApp Image 2021-01-20 at 3.24.24 PM

 

Perairan Indonesia yang terletak di wilayah tropis, memiliki beranekaragam jenis sumber daya ikan, salah satunya timun laut. Timun laut atau sea cucumber merupakan kelompok hewan avertebrata laut dari kelas Holothuroidea, filum Echinodermata (hewan berkulit duri). Disebut sebagai “timun laut” karena bentuknya menyerupai timun yang bulat memanjang.

 

Timun laut memiliki karakteristik morfologi antara lain tubuhnya memanjang, tidak memilki tulang belakang, bergerak dengan cara merayap, kaki-kaki tabung berada di sepanjang sisi tubuh bagian bawah. Permukaan tubuh teripang umunya terasa kasar karena terdapat duri-duri lunak berukuran kecil (papilla) atau tonjolan besar yang merupakan modifikasi dari papilla. Pada bagian ujung belakang (posterior) terdapat lubang pembuangan (anus) dan pada bagian ujung depan (anterior) terdapat mulut yang dikelilingi oleh rumbai-rumbai (tentakel). Tentakel ini berfungsi untuk mengambil makanan berupa bahan organik atau mikroalga yang terkadung dalam sedimen/substrat di dasar perairan. Warna dan ukuran tubuhya bervariasi. Beberapa jenis mampu mencapai panjang hingga 100 cm dan berat lebih dari 6 kg (Setyastuti dkk, 2019)

 

Timun Laut mempunyai fungsi ekologi sebagai pengurai zat organik di dalam sedimen dan melepaskan atau menghasilkan nutrisi ke dalam rantai makanan. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Oedjoe dan Eoah (2015), komposisi makanan dalam tubuh teripang terdiri dari partikel pasir sebesar 80-98%, potongan lamun sebesar 5- 10% dan potongan alga sebesar 10% sehingga bisa dikatakan timun laut termasuk hewan pemakan substrat. Selain itu, timun laut juga mempunyai mempunyai fungsi ekonomi sebagai komoditi perikanan yang diperdagangkan. Timun laut yang dimanfaatkan untuk konsumsi dan diperdagangkan inilah yang disebut dengan teripang atau trepang. Teripang adalah istilah umum untuk timun laut (Holothuroidea) yang dikumpulkan dari dasar laut, selanjutnya direbus dan dikeringkan, kemudian dijual ke pasar Cina (Dwyer, 2001 dalam Setyastuti, 2015). Jadi, tidak tidak semua jenis timun laut merupakan teripang. Ada sekitar 54 jenis teripang di Indonesia yang memiliki nilai ekonomis dan diperdagangkan. Namun, baru 33 jenis yang terkonfirmasi secara taksonomi (Setyastuti and Purwati, 2015).

 

Status Perlindungan

 

Pemanfaatan teripang cukup intensif di berbagai daerah di Indonesia. Sumber daya teripang berperan penting sebagai salah satu komoditas ekspor perikanan ke mancanegara. Permintaan pasar ekspor dengan harga yang sangat tinggi mulai dari ratusan ribu hingga jutaan rupiah per kilogramnya di pasar nasional telah memacu masyarakat untuk memburu teripang secara besar-besaran.

 

Dengan massifnya penangkapan teripang di alam, tentu akan menekan populasi teripang. Dalam beberapa penelitian rentang tahun 2014-2019 memperlihatkan populasi teripang di beberapa lokasi di Indonesia relatif kurang dari 1 ind/m2. Kecuali, beberapa lokasi di Indonesia timur seperti Sulawesi tenggara, NTT dan Maluku yang memiliki populasi di atas 1 ind/m2.

 

Pada COP ke 18 CITES yang diselenggarakan di Jenewa, Swiss, Agustus 2019 lalu, telah memasukkan 3 jenis Teripang ke dalam daftar Appendix II CITES. Ke tiga jenis tersebut antara lain Holothuria fuscogilva, Holothuria nobilis dan Holothuria whitmaei. Dengan masuknya 3 jenis teripang dalam daftar appendiks II CITES ini maka perdagangan jenis teripang tersebut perlu diatur dan dikontrol. Indonesia harus segera mengantisipasinya dengan memberikan status perlindungannya dan/atau status perdagangannya berdasarkan mekanisme CITES (batasan kuota), agar populasinya tetap lestari dan dapat terus memberikan manfaat.

 

Habitat Timun Laut di Padang Lamun

 

Habitat atau tempat hidup timun laut adalah ekosistem terumbu karang dan ekosistem lamun, mulai dari zona intertidal sampai dengan kedalaman 20 meter. Pada umumnya timun laut menyukai perairan yang bersih dan jernih dengan salinitas laut normal sekitar 30‰ sampai 33‰, substratnya berpasir dengan tekstur halus. Selain itu, terdapat pula tumbuhan yang bisa dijadikan tempat bersembunyi seperti lamun dan terlindung dari hempasan ombak serta lingkungan hidupnya kaya akan kandungan detritus (serasah dari lamun dan alga) (Aziz, 1997). Hal ini tentu mengindikasikan bahwa, populasi teripang akan sangat bergantung dengan kondisi ekosistem padang lamun dan terumbu karang.

 

Menurut penelitian yang dilakukan Permadi et all (2016), menyatakan bahwa terdapat perbedaan populasi teripang pada ekosistem padang lamun dan terumbu karang dimana populasi teripang di lamun lebih besar dibandingkan pada terumbu karang. Bahkan pada ekosistem padang lamun sendiri, berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan oleh Nuraini et al. (1990) dalam Wiadnyana dkk (2008), menunjukkan bahwa pada kerapatan lamun yang lebih tinggi ditemukan lebih banyak teripang bila dibandingkan dengan daerah yang mempunyai kerapatan lamun lebih rendah. Perbedaan kerapatan lamun tentu mempengaruhi kandungan nutrien pada substrat disekitarnya yang menjadi sumber makanan bagi timun laut.

 

Oleh karena itu, lamun sebagai habitat sangat penting peranannya bagi timun laut. Gilanders (2006) dalam Arkham (2015) menyatakan bahwa ekosistem lamun memiliki produktivitas primer dan sekunder serta dukungan yang besar terhadap kelimpahan dan keragaman ikan (termasuk timun laut). Ekosistem lamun merupakan tempat berbagai jenis ikan berlindung, mencari makan, bertelur, dan membesarkan anaknya. Jasa ekosistem lamun sangat beragam, salah satunya sebagai jasa penyedia dimana ekosistem lamun menyediakan sumberdaya ikan salah satunya teripang yang memiliki nilai ekonomis penting dan memberi manfaat ekonomi bagi nelayan dan masyarakat pesisir pantai. Bahkan, bagi masyarakat di kampung foley di pulau Misool, Raja Ampat dalam melakukan penangkapan teripang memberlakukan aturan yaitu melarang berjalan kaki di areal lamun (Putri, dkk, 2020). Masyarakat menyadari peran penting lamun sebagai habitat teripang yang menjadi sumber pencaharian dan pendapatan mereka, sehingga perlu dijaga kondisinya dengan tidak melakukan pengrusakan lamun saat mencari teripang.

 

 

Kesimpulan

 

Adapun kesimpulan dari tulisan ini adalah :

 

  1. Perairan Indonesia yang terletak di wilayah tropis, memiliki beranekaragam jenis sumber daya ikan salah satunya Timun Laut.
  2. Timun laut yang dimanfaatkan untuk konsumsi dan diperdagangkan disebut dengan teripang, sehingga tidak tidak semua jenis timun laut merupakan teripang.
  3. Tingginya harga jual teripang memicu perburuan yang massif di alam sehingga memberi tekanan dan mengancam keberlanjutan populasi teripang. Beberapa peneltian memperlihatkan bahwa populasi teripang di alam telah mengalami penurunan sehingga perlu diatur pemanfaatan dan perdagangannya agar tetap lestari.
  4. Padang lamun sebagai habitat, sangat penting peranannya bagi timun laut karena menyediakan sumber makanan, tempat tinggal, dan tempat berlindung.
  5. Ekosistem padang lamun juga berperan penting untuk masyarakat pesisir dan nelayan sebagai lokasi penangkapan bagi yang memanfaatkan teripang sebagai sumber matapencaharian.

 

Daftar Pustaka

 

Arkham, Muhammad Nur. Adrianto, Luky, Wardiatno, Yusli. 2015. Studi Keterkaitan Ekosistem Lamun dan Perikanan Skala Kecil. Jurnal Sosek KP Vol. 10 No. 2 Tahun 2015: 137-148

 

Aziz, Aznam. 1997. Status Penelitian Teripang Komersial Di Indonesia. Oseana, Volume XXII, Nomor 1, 1997 : 9 – 19. ISSN 0216-1877

 

Oedjoe, Marcelien, Dj. R. dan Eoh, Crisca B. 2015. Keanekaragaman Timun Laut (Echinodermata: Holothuroidea) Di Perairan Sabu Raijua, Pulau Sabu, Nusa Tenggara Timur. Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis, Vol. 7, No. 1, Hlm. 309-320.

 

Permadi, Martantya B., et al. "Perbedaan Kelimpahan Teripang (Holothuroidea) Pada Ekosistem Lamun Dan Terumbu Karang Di Pulau Karimunjawa Jepara." Jurnal Management of Aquatic Resources, vol. 5, no. 1, 2016, pp. 8-16

 

Putri FRD, Satria A, Saharuddin. 2020. Sasi Laut Folley dan Dinamika Pengelolaan Berbasis Masyarakat. Jurnal Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan 10(1): 111-123

 

Setyastuti, Ana. 2015. Sinopsis Teripang Indonesia; Dulu, Sekarang Dan Yang Akan Datang. Oseana, Volume XL, Nomor 3, Tahun 2015 : 1- 10. ISSN 0216-1877

 

Setyastuti, Ana and Purwati, Pradana. 2015. Species list of Indonesian Trepang. SPC Beche-de-mer Information Bulletin 35.

 

Setyastuti, Ana. Wirawati, Ismiliana. Permadi, Sandi. Vimono, Indra Bayu. 2019. Teripang Indonesia : Jenis, Sebaran, dan Status Nilai Ekonomi. Pusat Penelitian Oseanografi, LIPI. PT. Media Sains Nasional. Jakarta.

 

 

Wiadnyana, N.N., Puspasari, R. & Mahulette, R.T. (2008). Status sumber daya dan perikanan teripang di Indonesia: pemanfaatan dan perdagangan. Jurnal Kebijakan Perikanan Indonesia,1(1), 45- 60.

lpsplsorong   22 Januari 2021   Dilihat : 341



Artikel Terkait: