Indonesia   |   English  
Saran Dan Pengaduan

LOKA PENGELOLAAN SD PESISIR & LAUT SORONG
DIREKTORAT JENDERAL PENGELOLAAN RUANG LAUT
Kilas Berita  
Ada apa dengan Sampah Laut?

gambarsampahrahal

Gambar. Sampah Laut (Sumber : Brian Yurasit, Unsplash)

 

Pulau kecil merupakan pulau yang memiliki luas wilayah kurang dari 2000 km2. Sebagai negara kepulauan Indonesia memiliki sangat banyak pulau-pulau kecil dan wilayah laut yang luas. Hal ini membuat Indonesia dianugerahi berbagai potensi kelautan dan perikanan yang sangat besar. Salah satu masalah terbesar yang dihadapi dalam pengelolaan pulau-pulau kecil dan laut adalah sampah laut.

 

Sampah laut didefinisikan oleh United Nation Environment Programme (UNEP) sebagai bahan padat yang sulit terurai, hasil pabrikan, atau olahan yang dicampakkan, dibuang, atau dibiarkan di lingkungan laut dan pesisir. Sampah ini dapat golongkan dalam beberapa kategori yaitu :

 

  1. Plastik, mencakup beragam materi polimer sintetis, termasuk jaring ikan, tali, pelampung dan perlengkapan penangkapan ikan lain; barang-barang konsumen keseharian, seperti kantong plastik, botol plastik, kemasan plastik, mainan plastik, wadah tampon; popok; barang-barang untuk merokok, seperti puntung rokok, korek api, pucuk cerutu; butir resin plastik; partikel plastik mikro;
  2. Logam, termasuk kaleng minuman, kaleng aerosol, pembungkus kertas timah dan pembakar sekali pakai;
  3. Gelas, termasuk botol, bola lampu;
  4. Kayu olahan, termasuk palet, krat/peti, dan papan kayu;
  5. Kertas dan kardus, termasuk karton, gelas, dan kantong;
  6. Karet, termasuk ban, balon, dan sarung tangan;
  7. Pakaian dan tekstil, termasuk sepatu, bahan perabot, dan handuk

 

World Economic Forum memperkirakan tahun 2050 akan terdapat lebih banyak sampah plastik di lautan dari pada ikan. Hasil studi dari McKisney tahun 2015 menyatakan bahwa terdapat dua pemicu utama sampah plastik dilaut yaitu sampah yang tidak terpungut dan rendahnya nilai beberapa jenis plastik tertentu. Studi tersebut juga menambahkan sebanyak 75% merupakan sampah buangan dari daratan yang tidak terpungut dan 25% merupakan hasil dari sistem pengelolaan sampah padat perkotaan.

 

Indonesia merupakan penyumbang sampah plastik terbesar kedua di dunia setelah China. Tahun 2010 negara kita memiliki populasi 187,2 juta jiwa yang tinggal dalam jarak 50 Km dari pesisir dan setiap tahunnya menghasilkan 3,22 juta ton sampah yang tak terkelola dengan baik dan diperkirakan setiap tahun Indonesia menyumbangkan 0,48-1,29 juta metrik ton sampah plastik ke lautan.

 

Plastik dapat terpecah menjadi ukuran yang sangat kecil atau mikro plastik yang memungkinkan untuk terkonsumsi oleh biota laut. Sebagian besar partikel plastik ditemukan dilkedalaman kurang dari 500 m, namun ditemukan juga fakta bahwa sampah plastik ditemukan sampai dengan kedalaman 2000 m (Cordova, 2016). Mengonsumsi plastik dapat menyebabkan biota laut mengalami gangguan metabolisme, iritasi pencernaan, hingga kematian. Selain itu sifat plastik yang tahan lama memungkinkan mikro plastik yang berada di dalam tubuh biota laut pindah ke dalam tubuh manusia melalui sistem rantai makanan. Sampah plastik juga sangat berdampak pada ekosistem pesisir utama (mangrove, lamun dan terumbu karang). Sampah plastik dapat menghalangi proses fotosintesis, gangguan penyerapan nutrient dan lain-lain. Selain itu menurut Pusat Penelitian Terumbu Karang Australia dikatakan bahwa terumbu karang yang terpapar limbah plastik memiliki potensi lebih besar untuk terkena penyakit. Sampah plastik juga menimbulkan kerugian ekonomi secara global pada bidang perikanan, perkapalan, pariwisata dan bisnis asuransi dengan nilai mencapai 1,2 miliar US Dolar. Permasalahan ini akan berdampak besar bagi masyarakat pulau-pulau kecil yang sangat bergantung pada sektor perikanan dan kelautan.

 

Secara spesifik untuk menangani permasalahan sampah di Indonesia pemerintah telah meluncurkan Rencana Aksi Nasional (RAN) Pengelolaan Sampah Plastik di Laut tahun 2017-2025. Secara garis besar program strategis yang dijalankan antara lain :

 

  1. Pemerintah daerah, melalui penguatan kapasitas SDM, pembiayaan, manajemen infrastruktur, perubahan sikap serta mengembangkan manajemen persampahan yang terintegrasi.
  2. Pemerintah pusat, melalui edukasi dan kampanye peningkatan kesadaran mendorong program waste to energy (WTE), membuat payung hukum program kantung plastik berbayar, mendorong pemanfaatan sampah pllastik sebagai campuran aspal dan memperkuat aturan mengenai manajemen sampah di pelabuhan, pelayaran dan perikanan.
  3. Dunia internasional dengan menggalang komitmen bersama pengurangan sampah plastik di laut mmelalui kerjasama bilateral dan regional;
  4. Industri, melalui peningkatan penggunaan bahan plastik biodegradable, peningkatan investasi industry plastik biodegradable dan mengenalkan konsep circular economy;
  5. Akademisi dan NGO melalui kampanye, penelitian dan pengembangan bang sampah.

 

Masyarakat dapat melakukan berbagai hal sederhana untuk mengurangi sampah diantaranya

 

  1. Reduce, Reuse dan recycle, yaitu dengan menguranngi penggunaan plastik, menggunakan kembali barang-barang yang layak pakai dan mendaur ulang.
  2. Membiasakan untuk membawa kantong belanja sendiri sehingga dapat meminimalisir penggunaan plastik sekali pakai
  3. Membawa tempat makan dan minum sendiri untuk mengurangi penggunaan kemasan sekali pakai.
  4. Membuang sampah pada tempatnya untuk mencegah sampah tak terpungut dan terbuang ke laut
  5. Ikut serta mensosialisasikan gerakan bebas sampah.

 

[RBM / LPSPLSorong]

 

Daftar Pustaka

 

Cordova, Muhammad Reza & Wahyudi, A’an J. (2016). “Microplastic in the Deep-Sea Sediment of Southwestern Sumatran Waters”, Mar. Res. Indonesia Vol. 41, No. 1,27-35. DOI: 10.14203/mri.v41i1.99, 2016.

McKinsey (2015). Stemming the Tide: Land-based strategies for a plastic - free ocean, McKinsey & Company and Ocean Conservancy, September 2015.

Prasetiawan, T. 2018. Upaya Mengatasi Sampah Plastik Di Laut. Info Singkat. Bidang Pusat Penelitian DPR RI. Vol X. No. 10/II/Puslit/Mei/2018

World Economic Forum, Ellen Macarthur Foundation, and McKinsey & Company (2016) “The new plastics economy: Rethinking the future of plastics,” 19 Jan 2016.

World Bank Group, Kemenko Maritim, Embassy Of Denmark dan Royal Norwegian Embassy. 2018. Hotspot Sampah Laut Indonesia. 2018

lpsplsorong   31 Agustus 2020   Dilihat : 712



Artikel Terkait: