Indonesia   |   English  
Saran Dan Pengaduan

LOKA PENGELOLAAN SD PESISIR & LAUT SORONG
DIREKTORAT JENDERAL PENGELOLAAN RUANG LAUT
Kilas Berita  
Pemetaan Jenis Ikan Di Seram Bagian Barat Tahun 2011

[29/Jul/‘13] - Dalam menjalankan tupoksinya, Loka Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut (Loka PSPL) Sorong telah melaksanakan kegiatan inventarisasi dan pemetaan jenis ikan dilindungi dan atau tidak dilindungi di wilayah perairan kabupaten Seram Bagian Barat. Tujuan kegiatan ini untuk mengetahui sebaran ikan Napoleon (Cheilinus undulatus) dan pemanfaatannya. Kampung pulau Osi merupakan salah satu pulau kecil yang secara geografis terletak pada posisi 03° 03.148’ LS dan 128° 04.569’ BT. Pulau ini termasuk wilayah administrasi kabupaten Seram Bagian Barat yang memiliki panjang garis pantai 1,9 km dan dihuni oleh 213 KK, terdiri dari 895 jiwa yang sebagian besar memiliki mata pencaharian sebagai nelayan.

 

Akses ke pulau Osi dari ibu kota Maluku ditempuh dengan menggunakan jalur laut secara langsung maupun jalur darat dan dilanjutkan dengan transportasi laut dan dilanjutkan dengan menggunakan jalur darat lagi. Total waktu yang dibutuhkan melalui jalur darat, laut, dan darat kembali adalah sekitar 6-7 jam. Jalur darat dapat ditempuh dengan kendaraan roda dua atau roda empat selama 1 jam, kemudian dilanjutkan dengan naik kapal feri selama 2 jam, dan dilanjutkan jalur darat selama 3-4 jam.

 

Topografi pulau osi pada umumnya dataran rendah, dengan topologi pantai berkarang dan pantai berpasir putih. Pada perairan pantai dangkal ditumbuhi lamun yang mengililingi pulau dan pada bagian darat terdapat vegetasi campuran yang ditumbuhi vegetasi pantai (mangrove, ketapang, kelapa, dll) dan hutan tropis (semak belukar).

 

Pada umumnya kondisi biologis perairan pulau Osi masih dalam keadaan baik, meskipun kondisi terumbu karang terjadi degradasi akibat penangkapan ikan dengan menggunakan bom. Dengan kondisi seperti ini, ikan-ikan masih bisa berkembang dengan baik karena masih banyak ditemukan ikan-ikan demersal seperti ikan Kerapu, ikan Kakap, ikan Kurisi, ikan Lolosi dan masih banyak lagi. Ikan pelagis besar pun masih banyak ditemukan seperti Cakalang, ikan Tuna dan ikan Kue, dan pelagis kecil seperti ikan Tongkol, ikan Layang, ikan Terbang, ikan Lemuru, ikan Belanak, ikan Julung-Julung dan jenis lainnya. Selain itu juga terdapat budidaya rumput laut sebagai mata pencaharian sampingan. Di perairan pulau Osi juga ditemukan ikan Napoleon (Cheilinus undulatus) yang termasuk ikan dilindungi dan juga masuk dalam appendiks II CITES. Penduduk sekitar juga memiliki keramba jaring apung yang merupakan usaha pembesaran ikan Kerapu, Kue dan ikan Napoleon (Cheilinus undulatus) yang benihnya diambil/ditangkap di alam dengan ukuran berkisar 0,1-0,4 kg dan dibesarkan pada keramba tersebut. Setelah besar dan sesuai ukuran yang diperbolehkan (1 kg) akan dipanen dan dijual. Biasanya hasil panen tidak dipasarkan melainkan para tengkulak datang sendiri untuk mengambil ikan hasil panen tersebut. Ikan hasil tangkapan yang dijual hidup/ikan hidup antara lain adalah ikan Kerapu Tikus (Cromileptes altivelis), Kerapu Sunu (Plectrocopomus leopardus), Kerapu Macan (Epinephelus fuscogutattus), Kerapu Lumpur (Epinephelus tauvina) dan  ikan Napoleon (Cheilinus undulatus), khusus ikan Napoleon dibeli oleh kapal  pengusaha yang berasal  dari Makassar.

 

 

 

 

Umumnya masyarakat nelayan masih menggunakan alat/metode tangkap yang tergolong tradisional, diantaranya metode pancing dan kalaway dengan metode penangkapan balobe (mencari teripang dengan menggunakan bantuan lampu dan tombak) dan metode tonda dan jala. Untuk menangkap ikan Napoleon (Cheilinus undulatus) selain dengan menggunakan pancing untuk ukuran kecil digunakan pula metode bius dengan menyelam menggunakan kompressor untuk ukuran yang besar. Fishing ground ikan-ikan tersebut di sekitar perairan pulau Osi, pulau Marsegu, pulau Buntal dan pulau kecil yang lainnya yang letaknya berdekatan dengan pulau Osi. Frekuensi loading hasil tangkapan hingga 2 bulan sekali untuk ikan-ikan yang dijual hidup karena kapal pengusaha masuk ke wilayah perairan pulau Osi selama dua bulan sekali juga.

 

Hasil pengamatan kondisi perairan pulau Osi yang berbatasan dengan pulau Marsegu memilki laut yang dalam dan bergelombang dengan kisaran suhu 34-36°C, salinitas di lapisan permukaan berkisar 3,9-4,1 %, dan untuk kedalaman 15-25 m memiliki kecerahan 90-100% dan untuk kedalaman lebih 100 m memiliki kecerahan berkisar 23-25% dengan derajat keasaman (pH) berkisar 5-6.

 

Kampung pulau Osi juga berdekatan dengan Kampung Waesala. Kedua kampung tersebut dipisahkan oleh perairan dangkal yang berkarang serta ditumbuhi lamun, bahkan apabila kondisi surut bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Kampung Waesala ini dihuni oleh 300 KK dan memiliki panjang garis pantai 58 km. Akses dikampung Wasala lebih mudah karena dapat dijangkau dengan kendaraan Roda empat, sedangkan untuk sampai ke pulau Osi mulai dari jembatan Karel A. Ralahalu harus menggunakan kendaraan roda dua (ojek). Secara umum kondisi alam kampung Waesala sama dengan kampung pulau Osi. Karena kedua kampung tersebut letaknya berdekatan hanya terhalang oleh pulau kecil yang tak berpenghuni. Semua daerah yang ada di sekeliling pulau Osi dan pulau Waesala merupakan fishing ground ikan Napoleon (Cheilinus undulatus).

 

Dari kegiatan ini dapat disimpulkan bahwa ditemukan sebaran ikan napoleon di Seram Bagian Barat yaitu Pulau Osi dan sekitarnya dan terjadi penangkapan ikan Napoleon (Cheilinus undulatus) oleh nelayan lokal yang kemudian dijual kepada pengusaha asal Makassar. [GAR/LPSPL_Sorong]

lpsplsorong   29 Juli 2013   Dilihat : 1844



Artikel Terkait: