Indonesia   |   English  
Saran Dan Pengaduan

LOKA PENGELOLAAN SD PESISIR & LAUT SERANG
DIREKTORAT JENDERAL PENGELOLAAN RUANG LAUT
Kilas Berita  
Dilindungi Terbatas, Ikan Sidat (Anguilla spp.) Punya Siklus Hidup di Dua Perairan

Dilindungi Terbatas, Ikan Sidat (Anguilla spp.) Punya Siklus Hidup di Dua Perairan

 

Ikan sidat (Anguilla spp.) termasuk dalam kelas Actinopterygii dan memiliki ciri morfologi yang khas yaitu bentuk tubuh silindris memanjang menyerupai belut. Terdapat 22 jenis ikan sidat di dunia dan 7 diantaranya terdapat di Indonesia (Anguilla marmorata, A. borneensis, A. celebesensis, A. interioris, A. bicolor bicolor, A. bicolor pacifica dan A. nebulosa nebulosa). Ikan sidat termasuk ikan katadromus yaitu tumbuh di perairan tawar dan meminjah di laut. Berdasarkan habitatnya daur hidup sidat terdiri dari tiga fase, yaitu fase di lautan, estuari dan darat. Siklus hidup sidat terdiri dari larva (leptocephalus), benih ikan sidat (glass eel), ikan sidat muda (yellow eel), ikan sidat dewasa (silver eel) seperti yang ditampilakan dalam gambar berikut:

Sumber: https://www.researchgate.net/publication/221882788_Primitive_Duplicate_Hox_Clusters_in_the_European_Eel%27s_Genome

 

Ikan sidat merupakan salah satu sumberdaya perairan yang bernilai ekonomis penting. Seiring dengan meningkatnya permintaan dan perdagangan ikan sidat, populasi ikan sidat mulai menurun. Sebagai contohnya, spesies sidat Anguilla japonica (sidat Jepang),  A. rostrata (sidat Amerika) dan A. Anguilla (sidat Eropa) yang saat ini berada di ambang kepunahan. Oleh karena itu, perlu adanya pengelolaan dan konservasi ikan sidat tropis untuk menjaga keberlanjutan sumberdaya ikan sidat di perairan Indonesia sehingga tidak masuk dalam kategori hewan yang terancam punah. Ikan sidat memiliki masa kritis yang panjang yakni pada fase larva dan glass eel sekitar 180-240 hari karena harus melakukan dua kali adaptasi lingkungan, yaitu ketika fase glass eel  harus beradaptasi dari lingkungan laut ke lingkungan air tawar dan ketika fase silver eel harus beradaptasi lingkungan tawar ke lingkungan laut, serta harus beruaya dengan menempuh jarak yang sangat jauh. Panjangnya masa kritis dan berbagai ancaman lainnya selama fase hidupnya telah menyebabkan tingginya tingkat kematian sehingga potensi terjadi penurunan populasi sidat di alam sangat tinggi.

Pemerintah menetapkan perlindungan tebatas ikan sidat berdasarkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 80/KEPMEN-KP/2020, ditetapkan perlindungan ikan sidat (Anguilla spp.) dengan status perlindungan terbatas berdasarkan periode waktu dan ukuran tertentu.

Bentuk perlindungan terbatas yang dimaksud yaitu:

  1. Semua benih spesies ikan sidat (Anguilla spp.) pada stadium glass eel (ukuran 40 mm – 60 mm) tidak boleh ditangkap setiap bulan gelap tanggal 27-28 Hijriah
  2. Anguilla bicolor dan Anguilla interioris dewasa dengan berat di atas 2 kg tidak boleh ditangkap sepanjang waktu
  3. Anguilla marmorata dan Anguilla celebesensis dewasa dengan berat di atas 5 kg tidak boleh ditangkap sepanjang waktu

 

 

Anguilla bicolor dicirikan dengan punggung yang berwarna olive kehitaman hingga kecoklatan dan bagian ventral mulai dari rahang hingga anus berwarna lebih cerah.

Sumber: https://indiabiodiversity.org/species/show/231624

 

Anguilla interioris memiliki kulit yang bercorak, gigi membulat dan panjang maksimal mencapai 80 cm.


Sumber : https://www.fishbase.se/summary/Anguilla-interioris.html

 

Anguilla marmorata memiliki ciri yang hampir mirip dengan A. interioris, tetapi memilik ukuran yang lebih besar (jantan 70 cm dan betina 200 cm) dengan bentuk gigi yang lebih runcing.

Sumber: https://www.fishbase.se/summary/1275

 

Anguilla celebesensis memiliki ciri yang mirip dengan A. interioris dengan panjang maksimum mencapai 150 cm dan memiliki 100 – 106 ruas tulang belakang. Secara morfologis sidat dibedakan berdasarkan posisi awal sirip dorsal terhadap anus, panjang pendeknya sirip dorsal, dan jumlah ruas tulang belakang. Membedakan sidat secara morfologis tergolong sulit dilakukan sehingga lebih akurat menggunakan metode dengan analisi biomolekuler DNA.

Sumber: https://www.fishbase.se/summary/11521

 

Selain perlindungan terbatas ikan sidat, berdasarkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 19 Tahun 2020, benih sidat (Anguilla spp.) dengan ukuran kurang dari atau sama dengan 150 gram per ekor dilarang untuk dikeluarkan dari wilayah NKRI. Sidat juga termasuk dalam jenis komoditas wajib periksa Karantina Ikan, Mutu, dan Keamanan Hasil Perikanan (PERMEN-KP Nomor 18 Tahun 2018).

 

 

Referensi

  • Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan PER.19/MEN/2012 tentang Larangan Pengeluaran Benih SIDAT (Anguilla spp.) Dari Wilayah Negara Republik Indonesia Ke Luar Wilayah Negara Republik Indonesia

http://jdih.kkp.go.id/peraturan/per-19-men-2012.pdf

  • Rencana Aksi NasionaL (RAN) Konservasi Sidat Periode I: 2016-2020

https://kkp.go.id/an-component/media/upload-gambar-pendukung/KKHL/BUKU/RAN%20Konservasi%20Sidat.pdf

  • Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 18/PERMEN-KP/2018 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 50/PERMEN-KP/2017 tentang Jenis Komoditas Wajib Periksa Karantina Ikan, Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan

http://jdih.kkp.go.id/peraturan/18%20PERMEN-KP%202018.pdf

  • Panduan Pendataan dan Monitoring Populasi Sidat

https://kkp.go.id/an-component/media/upload-gambar-pendukung/KKHL/PEDOMAN/Panduan%20Pendataan%20dan%20Monitoring%20Populasi%20Sidat.pdf

  • Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 80/KEPMEN-KP/2020 tentang Perlindungan Terbatas Ikan Sidat (Anguilla spp.)

https://kkp.go.id/djprl/artikel/22073-keputusan-menteri-kelautan-dan-perikanan-nomor-80-tahun-2020-tentang-perlindungan-terbatas-ikan-sidat

  • Affandi R. 2015. Pengembangan Sumberdaya Ikan Sidat (Angguilla Spp.) di Indonesia. https://repository.ipb.ac.id/

 

 

Penulis : Izanatur Rohmah

Editor : Javier Cezalipi

Loka Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut Serang   15 Februari 2021   Dilihat : 906



Artikel Terkait: