Indonesia   |   English  
Saran Dan Pengaduan

LOKA KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN NASIONAL PEKANBARU
DIREKTORAT JENDERAL PENGELOLAAN RUANG LAUT
Kilas Berita  
Mengenal Barnacles/Teritip Pada Penyu dan Penanganan oleh Loka KKPN Pekanbaru

Pulau Bando (21/12), Teritip merupakan artropoda anggota infrakelas Cirripedia, subfilum Crustacea yang sangat spesial. Hewan ini ditemukan pada perairan laut dangkal dan pasang surut bergelombang, hidup dengan gaya sessile, menempel pada substrat seperti batu, kapal, cetacea, atau penyu, dan mencari makan dengan cara menyaring plankton.

Penyu dalam siklus hidupnya cenderung memiliki beban epibiotik tertentu (alga, teritip, dan terkadang hydroid), pada penyu kebanyakan ditemukan teritip. Beban epibiotik tersebut merupakan hal biasa dalam siklus hidup penyu, dalam kondisi sehat penyu dapat menghilangkan sebagian beban dengan flippernya, bisa juga jatuh dengan sendirinya karena gesekan. Namun sebaliknya dalam kondisi berlebihan akan dapat mengganggu kondisi kesehatan penyu hingga dapat terinfeksi dan mati.

 

 

Teritip menempel pada karapas penyu karena sifatnya yang keras, teritip membutuhkan permukaan yang keras untuk mengikatkan diri dan berkembang. satu teritip tidak membahayakan bagi penyu, namun kondisi teritip berlebihan pada penyu dapat mengakibatkan sifat tidak aktif, mempengaruhi penglihatan jika menempel pada bagan sekitar kepala, mengakibatkan sulit makan, dan dapat menimbulkan infeksi. Teritip dalam jumlah berlebihan pada cangkang penyu menandakan kesehatan yang buruk, penyu akan bergerak lambat dan tidak aktif. Kelebihan beban teritip pada cangkang dan tubuh penyu menimbulkan akibat susah bergerak dan berenang dengan baik sehingga akan sulit mencari makan.

 

   

 

Enumerator penyu Loka KKPN Pekanbaru site Pulau Bando pada Selasa 21 Desember 2021, pukul 10.35 WIB, menemukan seekor penyu sisik, jenis kelamin betina dengan ukuran morfometrik panjang lengkung karapas (PLK) 46 cm, dan lebar lengkung karapas (LLK) 34 cm, terdampar dalam kondisi tubuh ditempeli teritip dengan jumlah berlebihan dibandingkan ukuran morfometriknya mengakibatkan penyu susah bergerak dan membuat kondisi susah berenang hingga terdampar di pantai arah timur laut. Penanganan dapat dilakukan dengan merendam tubuh penyu dalam bak atau penampungan air tawar untuk melemahkan/mematikan teritip, dan dapat juga dilakukan dengan cara mencongkel teritip yang menempel pada karapas penyu, namun hal ini harus dilakukan sangat hati-hati agar tidak melukai tubuh penyu. Enumerator penyu melakukan pengangkatan teritip dengan cara mencongkel menggunakan pisau lebar, tindakan cepat ini dilakukan dengan sangat hati-hati dan tepat sehingga dalam waktu 1 jam 30 menit karapas penyu sisik telah bersih dari teritip yang merupakan beban epibiotik, dan pada pukul 12.15 WIB penyu sisik tersebut segera di rilis kembali ke laut. Selama penanganan tubuh penyu di usahakan tetap dalam kondisi lembab dengan menutupi bagian lainnya menggunakan kain basah dalam upaya mengurangi tingkat stress akibat penanganan yang dilakukan.

Tindakan pelestarian penyu yang dilakukan Loka KKPN Pekanbaru pada site monitoring tidak terlepas dari upaya menjaga habitat, inkubasi telur penyu hingga perilisan tukik, namun juga memperhatikan kondisi kesehatan biota penyu yang ditemukan di dalam kawasan konservasi. Upaya pelestarian biota dilindungi ini terus ditingkatkan dari berbagai aspek pengetahuan, sehingga pengelolaan bisa optimal dan biota dilindungi yang ditemukan tetap dalam kondisi sehat serta lestari.

Loka Kawasan Konservasi Perairan Nasional (LKKPN) Pekanbaru   21 Desember 2021   Dilihat : 7350



Artikel Terkait: