Indonesia   |   English  
Saran Dan Pengaduan

LOKA KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN NASIONAL PEKANBARU
DIREKTORAT JENDERAL PENGELOLAAN RUANG LAUT
Kilas Berita  
LKKPN Pekanbaru turut serta dalam Pembahasan Data Tangkapan Sampingan “Bycatch” Mamalia Laut

Padang (23/9), Pada Kamis, 23 September 2021 LKKPN Pekanbaru turut hadir dalam kegiatan yang dikemas dalam Forum Group Discussion secara virtual membahas tentang Interaksi Mamalia Laut dengan Kegiatan Perikanan Tangkap sebagai Hasil Tangkapan Sampingan (bycatch). Kegiatan ini diselenggarakan oleh Pusat Riset Perikanan (Pusriskan), Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan, Kementerian Kelautan dan Perikanan. Turut hadir diantaranya Direktorat Pemantauan dan Operasi Armada Ditjen PSDKP, Direktorat Pengawasan Pengelolaan Sumberdaya Perikanan Ditjen PSDKP, Direktorat Pengelolaan Sumberdaya Ikan Ditjen Perikanan Tangkap, Pelabuhan Perikanan Nusantara, BKKPN Kupang, Perguruan Tinggi, NGO, dan Asosiasi terkait Komoditas Perikanan Tangkap.

 

 

 


Kegiatan dibuka oleh Kepala Pusriskan, Ibu Yayan Hikmayani. Dalam pembukaannya, Yayan menyampaikan bahwa mamalia laut memiliki sebaran dan jangkauan jelajah yang luas dan lintas batas. Status perlindungannya secara internasional menurut IUCN masuk dalam kategori Insufficiently Known (K) hingga Endangered (E). Menurut Organisasi perdagangan internasional melalui Convention on International Trade In Endangered Species (CITES), masuk dalam perdagangan sangat terbatas. Sedangkan status perlindungannya secara nasional melalui PP No. 7, diperbarui dengan PerMen KLHK No. 106 Tahun 2018, mamalia laut merupakan spesies yang dilindungi secara penuh. Keberadaan mamalia laut di perairan Indonesia dan interaksinya dengan kegiatan perikanan tangkap berpotensi menghasilkan perikanan tangkap sampingan. Sehingga memerlukan perhatian khusus guna meminimalisir bycatch mamalia laut di masa mendatang.


Diskusi terfokus ini dilatarbelakangi dalam rangka upaya menjaga keamanan akses pasar produk perikanan Indonesia di pasar Amerika Serikat (AS) dimana persyaratan dari Pemerintah AS yang akan mewajibkan negara eksportir mempunyai regulasi yang setara efektifnya dalam pengurangan tangkapan sampingan mamalia laut pada kegiatan penangkapan ikan. Untuk itu diperlukan suatu kajian cepat untuk mendukung pemenuhan persyaratan dari dokumen yang diperlukan dan sistem kelolanya. Sehingga diperlukan diskusi terfokus dengan tujuan mendapatkan data dan informasi dari para peserta FGD yang terdiri dari berbagai kalangan. Data dan informasi tersebut nantinya diolah dan dianalisis oleh tim peneliti Pusriskan untuk membantu Pemerintah dalam membuat kebijakan dan dapat mengimplementasikannya dengan baik sehingga Indonesia dapat dikenal sebagai negara dengan kegiatan perikanan tangkap yang ramah terhadap mamalia laut.

 


Forum Group Discussion Interaksi Mamalia Laut dengan Kegiatan Perikanan Tangkap ini menghadirkan beberapa narasumber ahli, diantaranya :

1. Benjamin Kahn, Executive Director dari APEX Enviromental dan co-founder Planet Deep Organization. Memberikan paparan tentang pengalaman dan kajian mamalia laut yang dilakukan di perairan laut Indonesia.
Indonesia merupakan habitat penting dan jalur migrasi bagi beberapa jenis paus yang ada di dunia, salah satunya Paus Biru di perairan Laut Banda. Hal tersebut sangat berpotensi adanya interaksi antara mamalia laut dengan kegiatan perikanan tangkap, terutama di Wilayah Pengelolaan Perairan (WPP) 714 dan 573 yang merupakan migrasi habitat Paus Biru, Paus Sperma dan Lumba-lumba.

2. Danielle Kreb, Yayasan Konservasi – Rare Aquatic Species Indonesia (RASI). Membahas tentang “Kontribusi dari Kegiatan Perikanan Artisanal terhadap Tangkapan Sampingan Jenis Lumba-Lumba Rawan Kepunahan”.
Menurut Komisi Penangkapan Ikan Paus Internasional (International Whalling Comission) bahwa setiap tahun terdapat 300.000 cetacea terbunuh sebagai hasil tangkapan sampingan. Perikanan industri skala besar sering diidentifikasi sebagai sumber utama tangkapan sampingan mamalia laut, padahal banyak dari populasi yang paling terancam terkena dampak bycatch justru terjadi pada perikanan skala kecil, yang meliputi subsisten dan perikanan rakyat. Namun dari perspektif nelayan sendiri, interaksi mamalia laut dengan perikanan tangkap merupakan hal yang tidak diinginkan karena menimbulkan dampak kerugian seperti merusak alat penangkapan mereka. Penggunaan pinger akustik merupakan solusi yang dilakukan YK-RASI untuk mencegah lumba-lumba mendekati area tangkapan menggunakan gillnet.

3. Putu Liza Mustika, Cetacean Sirenian Indonesia. Membahas tentang “Mitigasi dan Penanganan Mamalia Laut yang Terjerat”.
Bycatch merupakan faktor tertinggi yang membunuh cetacea. Alat tangkap yang paling ditengarai untuk bycatch cetacea adalah gillnet. Indonesia merupakan salah satu “penghasil” utama bycatch yaitu pada perikanan tangkap tuna gillnet. Namun data terkait ini masih belum banyak, tapi bukan berarti bahwa bycatch tidak terlalu banyak terjadi. Dalam beberapa tahun terakhir banyak ditemukan mamalia laut terdampar di Indonesia yang memiliki jejak atau indikasi bycatch seperti adanya bagian tubuh yang sengaja dipotong.

4. Hawis Maduppa, Asosiasi Pengelolaan Rajungan Indonesia (APRI). Menjelaskan tentang ”Program Perbaikan Perikanan (FIP) Rajungan Indonesia”.
Kegiatan perikanan tangkap Rajungan berpotensi menghasilkan tangkapan sampingan (bycatch). APRI berfokus salah satunya pada peninjauan dan penerapan alat tangkap ramah lingkungan di perikanan rajungan. APRI juga melakukan pendataan bycatch secara rutin, dan tidak berfokus hanya pada mamalia laut tapi semua spesies yang terjaring dalam tangkapan sampingan pada perikanan tangkap rajungan. Hasil pendataan bycatch tahun 2020-2021 berupa ikan, krustasea, echinodermata dan moluska. Beberapa kegiatan yang telah dilaksanakan APRI dalam program perbaikan perikanan diantaranya pelatihan penanganan dan mitigasi ETP Species (hewan langka, terancam punah dan dilindungi), sosialisasi dan pemasangan banner terkait ETP Species, melaksanakan webinar Ecology and Cetacean Research, dan mendukung program Marine Mammals Protection Act (MMPA).

5. I Nyoman Sudarta, Asosiasi Tuna Longline Indonesia (ATLI).
ATLI merupakan asosiasi yang bergerak di bidang perikanan tangkap tuna longline. Hingga saat ini tercatat 260 unit kapal yang merupakan keanggotaan ATLI dan aktif beroperasi dalam penangkapan ikan. Area penangkapan 75% di perairan laut lepas, hanya sekitar 70-80 kapal yang berada pada area WPP 573. Interaksi kapal ATLI dengan mamalia laut tidak begitu banyak dan bisa dikatakan tidak pernah terdata adanya bycatch mamalia laut. Spesies kategori ETP yang sering ditemukan sebagai hasil tangkapan sampingan yaitu hiu, pari, penyu dan burung laut. Selain itu “Saci” yang kemudian diketahui adalah jenis False killer whale merupakan spesies yang cukup sering ditemui dan dianggap menggangu kapal dalam kegiatan penangkapan ikan karena memakan ikan tuna yang terkena pancing. Tindakan yang selama ini dilakukan yaitu menghindari atau pindah dari lokasi tersebut. ATLI turut mendukung program perbaikan perikanan dalam meminimalisir hasil tangkapan sampingan dengan mematuhi peraturan yang berlaku baik regional maupun nasional, menginisiasi program “Indonesia Longline Tuna Fisheries Improvement Program”.


Tangkapan sampingan dalam kegiatan perikanan tangkap merupakan ancaman bagi keberlangsungan, kesehatan dan pemulihan populasi mamalia laut. Hal ini memerlukan perhatian khusus sehingga perlu dilakukan kajian yang lebih banyak terkait bycatch baik dari sisi ekologi maupun sosial ekonomi. Hal ini merupakan tugas bersama untuk memperoleh data yang lebih banyak sehingga dapat menyusun regulasi yang tepat dan dapat diimplementasikan dengan baik.

Loka Kawasan Konservasi Perairan Nasional (LKKPN) Pekanbaru   24 September 2021   Dilihat : 733



Artikel Terkait: