Indonesia   |   English  
Saran Dan Pengaduan

BALAI PENGELOLAAN SD PESISIR & LAUT PONTIANAK
DIREKTORAT JENDERAL PENGELOLAAN RUANG LAUT
Kilas Berita  

Penyu (Sea Turtle)


PENYU (SEA TURTLE) 

 

A. GAMBARAN UMUM

 

Terletak di daerah tropis, perairan Indonesia dikaruniai enam dari tujuh jenis penyu yang ada di dunia. Keenam jenis tersebut diantaranya penyu sisik (Eretmochelys imbricata), penyu hijau (Chelonia mydas), penyu lekang (Lepidochelys olivacea), penyu belimbing (Dermochelys coriacea), penyu tempayan (Caretta caretta) dan penyu pipih (Natator depressus). 4 jenis penyu pertama, adalah jenis yang teridentifikasi keberadaanya di perairan Kalimantan. Penyu hijau (Chelonia mydas) adalah jenis yang dominan dan ditemukan hampir di seluruh pantai peneluran penyu di Kalimantan. Meskipun penyu lekang (Lepidochelys olivacea) dikenal erat dengan fenomena arribada, fenomena bertelur secara berkelompok dalam jumlah ratusan hingga ribuan ekor per malam, hal tersebut tidak terjadi di Kalimantan bahkan di Indonesia. Di wilayah Kalimantan, jenis penyu ini ditemukan dalam jumlah kecil di Pesisir Paloh, Kalimantan Barat.

 

Penyu memiliki tingkat kelulushidupan yang rendah. Penurunan kualitas perairan, predasi, pemanfaatan ilegal hingga interaksi dengan aktifitas manusia menjadi ancaman yang serius terhadap keberlanjutan populasi penyu di alam. Saat ini Penyu dikategorikan sebagai biota yang terancam punah, sehingga statusnya ditetapkan sebagai biota yang dilindungi baik secara nasional maupun internasional. Secara internasional, penyu masuk dalam daftar merah (red list) IUCN dan Appendix I CITES, yang artinya keberadaannya terancam punah sehingga segala bentuk pemanfaatan dan peredarannya harus mendapat perhatian khusus. Negara melalui Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis-jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi kemudian menetapkan status seluruh jenis penyu yang ada di Indonesia sebagai jenis yang dilindungi.

 

Kendati demikian, penetapan status penetapan status perlindungan saja tidak cukup untuk memulihkan atau setidaknya mempertahankan keberadaan penyu di Indonesia. Perlu upaya konservasi  yang lebih komprehensif, sistematis dan terukur agar tujuan dari perlindungan penyu dapat tercapai. Balai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut (BPSPL) Pontianak merupakan unit pelaksana teknis Kementerian Kelautan dan Perikanan yang bertugas mengelola konservasi jenis ikan, termasuk diantaranya penyu. Beberapa upaya konservasi yang telah dilakukan oleh BPSPL Pontianak dalam rangka perlindungan jenis penyu diantaranya melakukan pendataan populasi penyu di beberapa wilayah di Kalimantan, memberikan pembinaan teknis kepada pelaksana di lapangan, membangun kemitraan dengan NGO dan Perguruan Tinggi, memberikan bantuan sarana dan prasarana yang mendukung upaya konservasi penyu, hingga mendorong penetapan kawasan konservasi/perlindungan penyu di Kalimantan.

 

B. KARAKTERISTIK PENYU

 

1. Klasifikasi Penyu

Kingdom : Animalia

Phylum : Chordata

Subphylum : Vertebrata

Class : Sauropsida

Order : Testudines

Suborder : Cryptodira

Superfamily : Chelonioidea

       Family : Cheloniidae

       Spesies :

                 1. Penyu Lekang (Lepidochelys olivacea)

                 2. Penyu Hijau (Chelonia mydas)

                 3. Penyu Pipih (Natator depressus)

                 4. Penyu Tempayan (Caretta caretta)

                 5. Penyu Sisik (Eretmochelys imbricata)

                 6. Penyu Kempii (Lepidochelys kempii)

       Famili : Dermochelyidae

       Spesies  :

                 7. Penyu Belimbing (Dermochelys coriaceae)

 

Gambar 1. Jenis-Jenis Penyu

 

2. Bioekologi Penyu

Penyu memiliki karakteristik morfologi yang unik. Penyu sebagai biota penjelajah memiliki sepasang tungkai depan dan belakang. Tungkai depan inilah yang berfungsi sebagai kaki pendayung. Tubuh penyu bagian atas dilindungi oleh tempurung yang disebut karapas, sementara bagian bawahnya dilindungi oleh plastron. Karapas ini berfungsi sebagai alat pelindung dari serangan predator. Jenis-jenis penyu dapat diidentifikasi berdasarkan warna, pola maupun bentuk pada karapas, kepala serta tungkai penyu.

 

Penyu merupakan biota laut purba yang telah ada di dunia sejak 220 juta tahun yang lalu. Sebagai salah satu biota yang memiliki masa hidup yang panjang, seekor penyu memerlukan waktu berpuluh-puluh tahun untuk menjadi dewasa dan mencapai usia reproduksi. Sebagai biota penjelajah, penyu memiliki prilaku unik, instingnya sangat kuat untuk kembali ke rumah, Strong Homing Instinct (Clark, 1967; Connaughey, 1974; Mortimer dan Carr, 1987). Pada usia matang seksual, penyu jantan dan betina bermigrasi untuk kawin dengan menempuh jarak yang jauh (hingga 3000 km) dari habitat makannya ke pantai peneluran di sekitar daerah kelahirannya. Penyu betina menuju ke daratan setelah siap dan bertelur dalam 3-7 sarang selama satu siklus reproduksi. Penyu betina membuat lubang badan (body pit) dengan tungkai depannya, lalu menggali lubang untuk sarang sedalam 30-60 cm dengan sirip belakang.  Berbeda dengan kelompok aves yang selalu menjaga dan mengerami telurnya, penyu betina justru akan segera meninggalkan telur-telurnya sesaat setelah peneluran. Tukik akan menetas dalam jangka waktu kurang lebih 2 bulan tergantung pada suhu lingkungan. Jenis kelamin tukik juga sangat dipengaruhi oleh suhu semasa inkubasi.

 

C. HABITAT DAN PERSEBARAN

 

1. Habitat

Setiap jenis penyu memiliki karakteristik habitat peneluran yang berbeda-beda. Pantai berpasir adalah sayarat mutlak yang diperlukan penyu untuk membuat sarang dan bertelur. Umumnya penyu memilih tempat bertelur pada pantai yang luas dan landai dengan rata-rata kemiringan 30o.

 

2. Persebaran

Terdapat 25 lokasi pendaratan penyu di Wilayah Kalimantan yang dihimpun oleh BPSPL Pontianak dari berbagai kegiatan yang diinisiasi secara mandiri maupun kegiatan yang dilakukan oleh stakeholders, seperti monitoring, survey, enumerasi, penelitian, serta data kejadian terdampar terkait penyu.

 

 

 

 

D. DINAMIKA POPULASI PENYU PALOH

 

Pesisir paloh, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat merupakan salah satu lokasi peneluran dan ruaya pakan beberapa jenis penyu di Indonesia. Penyu hijau (Chelonia mydas), penyu sisik (Eretmochelys imbricata), penyu lekang (Lepidochelys olivacea) dan penyu belimbing (Dermochelys coriacea), adalah jenis-jenis penyu yang teridentifikasi keberadaannya di perairan Paloh. Tiga jenis diantaranya telah diketahui melakukan aktivitas peneluran, sementara penyu belimbing (Dermochelys coriacea) diduga hanya memiliki ruaya pakan di perairan Paloh.  Garis pantai sepanjang >100 km adalah habitat peneluran penyu terbesar di Indonesia. Berdasarkan data yang dihimpun oleh BPSPL Pontianak, kelimpahan populasi penyu di Pesisir Paloh berkisar antara 2500-4500 ekor per tahun. Musim peneluran terjadi sepanjang tahun dengan musim puncak sekitar bulan Juni-September.

 

Selama semester awal 2021 ini, pendaratan penyu di pesisir paloh tampak trend-nya meningkat. Seperti pada tahun-tahun sebelumnya, Juni menjadi bulan puncak peneluran.  Pada periode Januari hingga Juni 2021 ini, total penyu yang mendarat di Pesisir Paloh, jumlahnya sebanyak 1.101 ekor, meliputi 3 jenis penyu. Ada penyu hijau (Chelonia mydas), penyu sisik (Eretmochelys imbricata) dan penyu lekang (Lepidochelys olivacea). 54% dari total penyu yang mendarat di pesisir paloh, melakukan peneluran dan sisanya hanya singgah sementara, lalu kembali ke laut untuk mengarungi samudera. Hasil enumerasi menunjukkan masih ditemukannya beberapa telur yang hilang dari sarangnya.

 

Gambar 2. Infografis Dinamika Populasi Penyu Periode Januari-Juni 2021