Indonesia   |   English  
Saran Dan Pengaduan

BALAI PENGELOLAAN SD PESISIR & LAUT PONTIANAK
DIREKTORAT JENDERAL PENGELOLAAN RUANG LAUT
Kilas Berita  
Sang Raksasa Penjelajah Samudera Berlabuh di Pantai Peneluran Penyu Terpanjang RI

Sambas (16/9) – Fenomena kemunculan Penyu Belimbing (Dermochelys coriacea) yang merupakan penyu terbesar di dunia dan sangat langka ini terjadi di Pantai Peneluran Penyu terpanjang di Indonesia yang terletak di Kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat. Tepatnya di lokasi Pantai Sungai Belacan, 1 ekor penyu raksasa penjelajah samudera ini ditemukan pada hari Rabu (15/9) sekitar pukul 00.45 WIB yang tengah menggali lubang untuk bertelur oleh enumerator Balai Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut (BPSPL) Pontianak, Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut, Kementerian Kelautan dan Perikanan dan para mahasiswa praktik kerja lapangan (PKL) dari program sudi Ilmu Kelautan Universitas Tanjungpura yang sedang melakukan monitoring dan pendataan penyu.

 

Plt. Direktur Jenderal Pengelolaan Ruang Laut, Pamuji Lestari di Jakarta menegaskan bahwa semua jenis penyu telah dilindungi penuh oleh Pemerintah melalui Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa.

 

“Status penyu masuk dalam daftar merah The International Union for Conservation of Nature (IUCN) dan appendiks I Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES) sehingga diperlukan upaya konservasi sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nmor 60 tahun 2007 tentang Konservasi Sumber Daya Ikan dan Surat Edaran Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 526 tahun 2015 tentang Pelaksanaan Perlindungan Penyu, Telur, Bagian Tubuh, dan/atau Produk Turunannya. Untuk itu, mari sama-sama kita lindungi dan lestarikan penyu serta berhenti untuk berburu penyu beserta produk turunannya,” tegasnya.

 

Pamuji mengungkapkan bahwa Pantai Peneluran Penyu Paloh yang memikili panjang sekitar 63 km ini termasuk dalam kawasan konservasi daerah sesuai dengan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 93 Tahun 2020 tentang Kawasan Konservasi Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Paloh dan Perairan Sekitarnya di Provinsi Kalimantan Barat.

 

“Penyu mempunyai peran yang sangat penting dalam ekosistem laut. Keberadaannya menjadi salah satu indikator kesehatan suatu perairan. Kemunculan jenis Penyu Belimbing dengan ciri khas karapasnya yang berbentuk juring-juring seperti buah belimbing ini sangat jarang terjadi, apalagi rute jelajahnya yang sangat tinggi antar negara bahkan benua. KKP3K Paloh dan Perairan Sekitarnya memberikan harapan kita bersama bahwa kawasan konservasi mampu meningkatkan kelestarian kehidupan biota laut di sekitarnya dan harus dikelola lebih baik yang berpedoman kepada Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 31 Tahun 2020 tentang Pengelolaan Kawasan Konservasi dan Keputusan Direktur Jenderal Pengelolaan Ruang Laut Nomor 28 Tahun 2020 tentang Pedoman Teknis Evaluasi Efektivitas Pengelolaan Kawasan Konservasi,”terangnya.

 

Sementara itu, Kepala BPSPL Pontianak, Andry I. Sukmoputro melaporkan hasil identifikasi terhadap Penyu Belimbing yang ditemukan.

 

“Berkoordinasi dengan enumerator BPSPL Pontianak dan para mahasiswa PKL Ilmu Kelautan Untan serta WWF Indonesia, diperoleh informasi bahwa tim di lapangan telah melakukan identifikasi melalui pengukuran morfometri dengan hasil panjang lengkung karapas 174 cm, lebar karapas 114 cm, dan lebar jejak 194 cm,” lapornya.

 

Dikarenakan perilaku penyu yang mendarat di pantai dengan menggali lubang untuk bertelur, Andry mengungkapkan bahwa jenis kelamin Penyu Belimbing ini teridentikasi jenis betina.

 

“Berdasarkan informasi dari tim di lapangan, Penyu Belimbing tersebut sayangnya tidak sampai pada fase bertelur, padahal sudah menggali lubang badan. Tim sudah berupaya meminimalisir gangguan sesuai SOP pemantauan, namun nampaknya faktor alami yang menyebabkan penyu tidak sampai pada fase betelur. Saya memberikan apresiasi kepada tim monitoring yang sudah semaksimal mungkin dalam melakukan monitoring dan pendataan penyu,” imbuhnya.

 

Andry menambahkan sebagai upaya perlindungan dan pelestarian penyu, BPSPL Pontianak telah melakukan kegiatan monitoring dan pendataan populasi penyu di Pantai Peneluran Penyu Paloh dimulai pada tahun 2016 yang berkolaborasi dengan WWF Indonesia dengan menugaskan enumerator untuk melakukan pendataan populasi dan melaporkan hasilnya setiap bulan.

 

“Enumerator yang ditugaskan di lapangan dengan memberdayakan masyarakat lokal setempat yang tergabung dalam kelompok masyarakat Wahana Bahari Paloh dan Pokmaswas Kambau Borneo. Tercatat bahwa penyu yang mendarat di Pantai Peneluran Paloh mencapai lebih dari 2000 ekor tiap tahunnya yang didominasi oleh Penyu Hijau (Chelonia mydas). Selain itu ada Penyu Sisik (Eretmochelys imbricataI) dan Penyu Lekang (Lepidochelys olivacea) yang juga mendarat. Pada tahun 2021, sampai saat ini jumlah penyu yang telah mendarat sudah lebih dari 1000 ekor yang masih didominasi oleh Penyu Hijau. Kejadian Penyu Belimbing (Dermochelys coriacea) yang mendarat baru ini dengan kondisi hidup dan memeti merupakan pertama kalinya yang terjadi pada tahun 2021 di Pantai Peneluran Penyu Paloh,” jelasnya.

Balai Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut Pontianak   16 September 2021   Dilihat : 108



Artikel Terkait: