Indonesia   |   English  
Saran Dan Pengaduan

BALAI PENGELOLAAN SD PESISIR & LAUT PADANG
DIREKTORAT JENDERAL PENGELOLAAN RUANG LAUT
Kilas Berita  

Kantor Satker Tanjungpinang


PROFIL SATKER TANJUNGPINANG

 

Dalam melaksanakan tugas dan fungsi organisasi, Balai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut (BPSPL) Padang membawahi 3 (Tiga) Satuan Kerja (Satker) yang tersebar di wilayah kerjanya. Salah satunya adalah Satuan Kerja Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau yang dibentuk sesuai dengan Surat Keputusan Direktur Jenderal Kelautan, Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Nomor : Kep. 06A/KP3K/2011 tentang Pembentukan Satuan Kerja pada Unit Pelaksana Teknis Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut.

 

BPSPL Padang Satker Tanjungpinang berlokasi di Kota Tanjungpinang yang wilayah kerjanya melingkupi 5 Kabupaten (Bintan, Lingga, Karimun, Natuna, dan Kepulauan Anambas) serta 2 Kota (Tanjungpinang dan Batam). Provinsi Kepulauan Riau memiliki 2.408 pulau dengan garis pantai sepanjang 2.367,6 km. Luas wilayah Provinsi Kepulauan Riau adalah 251.810 km2 dengan proporsi 96 % wilayahnya adalah lautan dan 4 % adalah daratan. 

 

 Peta Kepri

Gambar oleh : Miko

 

Karena memiliki perairan yang luas, Provinsi Kepulauan Riau dianugerahi keanekaragaman jenis yang tinggi dan penting untuk dilestarikan. Setidaknya sudah terdata 11 jenis biota laut dari 20 jenis yang menjadi prioritas KKP. Jenis-jenis tersebut adalah: kuda laut, dugong, napoleon, kima, lola, hiu, penyu, teripang, hiu paus, labi-labi, dan karang hias. 

 

Kegiatan BPSPL Padang Satker Tanjungpinang:

  1. Upaya konservasi;
  2. Pengawasan dan pembinaan pemanfaat jenis ikan yang dilindungi/tidak dilindungi;
  3. Penanganan mamalia terdampar;
  4. Survei dan pemetaan biota yang termasuk kedalam jenis yang dilindungi;
  5. Analisa dampak lingkungan di wilayah pesisir;
  6. Pelayanan administrasi hiu/pari; dan
  7. Pendampingan dalam akselerasi pembentukan kawasan konservasi perairan daerah (KKPD).

 

Isu yang berkembang di Satker Tanjungpinang saat ini :

  1. Hampir setiap tahun terjadi kejadian Dugong sebagai bycatch Nelayan;
  2. Masih maraknya penjualan telur penyu untuk dikonsumsi di beberapa kota/kabupaten Kepulauan Riau;
  3. Masih rendahnya pengetahuan suku asli terhadap jenis ikan yang dilindungi, karena pemanfaatan yang dilakukan secara turun temurun;
  4. Pencemaran tumpahan minyak (sludge oil) disepanjang Pesisir Bintan terjadi hampir setiap tahun pada saat musim utara; dan
  5. Kejadian biota laut terdampar.

 

Upaya yang dilakukan :

  1. Sosialisasi secara intensif baik melalui pendekatan persuasif maupun melalui media elektronik;
  2. Melakukan pengawasan dan penertiban terhadap telur penyu yang diangkut dari luar Kota Tanjungpinang dan Kota Batam yang bertujuan untuk diperdagangkan; dan
  3. Penanganan mamalia terdampar maupun bycatch sebagai upaya penyelamatan/penanganan.

 

________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Halaman dikelola oleh :

Est 2020 - Now : Miko

 

Update Terakhir :