Indonesia   |   English  
Saran Dan Pengaduan

BALAI PENGELOLAAN SD PESISIR & LAUT MAKASSAR
DIREKTORAT JENDERAL PENGELOLAAN RUANG LAUT
Kilas Berita  
INILAH DATA KONDISI KEJADIAN BIOTA TERDAMPAR DI WILAYAH KERJA BPSPL MAKASSAR HINGGA TAHUN 2018

Kejadian biota laut terdampar merupakan kondisi ketidakberdayaan biota laut (baik dari Mamalia Laut maupun biota laut lainnya) untuk kembali ke habitat alaminya dengan usahanya sendiri. Banyak kemungkinan yang menjadi penyebab terjadinya biota laut terdampar, diantaranya : timbulnya penyakit; pemangsaan; perubahan iklim; terjadinya gempa di dasar laut; akibat dari tangkapan langsung maupun sampingan (by-catch); adanya gangguan dari aktivitas sonar oleh kapal laut; tingginya pencemaran fisik maupun kimia; tertabrak oleh kapal; adanya polusi suara dari aktivitas manusia di laut; dan kemungkinan dari pembangunan pesisir dan sungai yang tidak lestari yang memberi dampak negatif pada habitatnya. Untuk menentukan secara pasti penyebab kejadian terdampar ini sangat diperlukan adanya tindak lanjut berupa pemeriksaan secara khusus bagi biota laut yang terdampar.

Diantara kita mungkin timbul pertanyaan, mengapa kejadian terdampar perlu untuk ditangani ?. Ada tiga hal yang menjadi garis besar mengapa menjadi urusan kita untuk menangani kejadian terdampar ini.

Pertama, kejadian terdampar ini dapat membantu kita untuk paham terhadap kondisi lautan, baik kondisi secara alamiah maupun kondisi yang diakibatkan oleh aktivitas manusia itu sendiri. Hal ini dikaitkan karena perairan laut merupakan habitat bagi biota ini. Jika terjadi perubahan kondisi laut, maka akan memberi pengaruh terhadap kondisi biota itu sendiri.

Kedua, biota laut ini merupakan biota yang dilindungi oleh Pemerintah melalui Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 yang sampai sekarang telah didukung dengan berbagai turunan regulasi terkait. Tercatat ada 35 spesies dari paus dan lumba-lumba ditambah 1 spesies sirenia (dugong / duyung) yang tersebar di wilayah perairan Indonesia yang semuanya masuk dalam golongan Mamalia Laut. Sedangkan dari golongan biota laut lainnya seperti Hiu Paus dan Mola-mola juga kerap mengalami kejadian terdampar baik hidup maupun mati. Semua spesies tersebut memiliki status dilindungi secara penuh dan tidak boleh dimanfaatkan sama sekali.

Ketiga, bangkai yang umumnya terdampar di pantai / wilayah pesisir dapat membahayakan kesehatan manusia, potensi cemaran dan kontaminasi ke manusia jika melakukan kontak langsung dapat membawa resiko masuknya bakteri ke dalam tubuh kita yang jika tidak ditangani dapat menyebabkan infeksi hingga kematian. Mengingat anatomi dari Mamalia Laut hampir serupa dengan anatomi dari manusia, seperti organ paru-paru, hati, dan sistem pencernaan lainnya, yang dapat diindikasikan bahwa bakteri dari bangkai mamalia laut dapat menular dengan mudah ke manusia.

Dalam beberapa tahun terakhir, BPSPL Makassar yang memiliki salah satu tugas dan fungsi terhadap pelestarian sumber daya hayati laut melakukan penanganan terhadap biota laut terdampar di wilayah kerjanya. Hingga pada tahun 2018 ini tercatat lebih dari 90 kejadian terdampar dan sebagian besar ditangani oleh tim respon cepat BPSPL Makassar. Untuk grafik kejadian terdampar dapat dilihat pada gambar berikut.

Grafik kejadian terdampar di wilayah kerja BPSPL Makassar

Dari grafik tersebut terlihat kejadian terdampar terjadi peningkatan secara signifikan. Bahkan pada tahun 2015 terbilang tinggi, hal tersebut bersumber dari kejadian terdampar maupun temuan  salah satu spesies yakni Duyung (Dugong dugon) yang dilaporkan dan tercatat oleh Tim. Banyak hal yang menjadi penyebab, salah satu nya adalah tertangkap secara tidak sengaja oleh nelayan (by catch). Namun, penyebab pastinya harus melakukan pengkajian lebih lanjut secara mendalam.

Berdasarkan jenis mamalia laut, hasil pencatatan oleh Tim Respon Cepat BPSPL Makassar mengungkapkan, bahwa kejadian mamalia laut terdampar di dominasi dari jenis Duyung (Dugong dugon) sebesar 61% dari total kejadian, kemudian disusul dari jenis Paus (29% total kejadian), dan terakhir adalah jenis lumba-lumba (10% total kejadian).

Presentase jenis yang terdampar

Tim juga mencatat frekuensi data kejadian mamalia laut terdampar berdasarkan wilayah per provinsi. Dari hasil data tersebut, provinsi Sulawesi Tengah merupakan wilayah dengan kejadian terdampar tertinggi di wilayah Sulawesi, yang kemudian di susul oleh Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Barat. Sementara Provinsi Gorontalo, tim tidak menerima laporan ataupun penanganan mamalia laut terdampar hingga tahun ini, namun tim juga menemukan informasi terkait terjaring nya jenis paus pembunuh / killer whale (Orcinus orca) oleh nelayan di perairan Taluuda Teluk Tomini (sumber : http://mongabay.co.id/2017/02/23/terjerat-jaring-nelayan-gorontalo-berjibaku-selamatkan-paus-pembunuh/).

Frekuensi kejadian terdampar berdasarkan provinsi

Selain spesies dari golongan mamalia laut, spesies biota laut lain seperti Hiu Paus dan Mola-mola tercatat beberapa kali mengalami kejadian terdampar. Untuk spesies Hiu Paus (Rhincodon typus) kejadian terdampar maupun temuannya tersebar di berbagai provinsi, sementara untuk jenis Mola-mola dominan mengalami kejadian terdampar di wilayah Palu, Sulawesi Tengah.

kejadian terdampar hiu paus dan mola mola

Adanya data dan informasi yang dirangkum oleh Tim respon cepat BPSPL Makassar ini, selain sebagai bentuk laporan dari tugas yang diemban, Tim juga mengharapkan agar dapat menjadi bahan referensi terkait untuk pengkajian lebih lanjut, dari data dan informasi ini juga dapat menjadi bahan pertimbangan pengambilan keputusan terhadap pengelolaan penanganan biota laut terdampar di wilayah kerja BPSPL Makassar kedepannya. Semoga bermanfaat.

 

©BPSPL Makassar, 2018.

Pengarah : Andry Indryasworo Sukmoputro.

Penanggungjawab : Urif Syarifudin.

Penulis / editor : Muhammad Rizal B

Tim respon cepat BPSPL Makassar / kontributor data : Muhammad Rizal B, Munandar Jakasukmana, Ahmad Irdan, Andi Syahrudin (Satker Palu), Laode Mansyur (Satker Kendari), Jufri (Satker kendari), Indry Maharani Tenriabeng (Satker Kendari), Moh. Yasir (Satker Manado).

Balai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut Makassar   04 November 2018   Dilihat : 960



Artikel Terkait: