Indonesia   |   English  
Saran Dan Pengaduan

BALAI PENGELOLAAN SD PESISIR & LAUT MAKASSAR
DIREKTORAT JENDERAL PENGELOLAAN RUANG LAUT
Kilas Berita  
Tidak Merusak Ekosistem Karang, Begini Cara Pengambilan Karang Hias untuk Perdagangan.

Oleh : David Simajuntak

 

Kembali dibukanya perdagangan karang hias tentunya akan menjadi mesin penggerak baru perekonomian dibidang kelautan. Setelah ditutup selama 20 bulan sejak tahun 2018, pembahasan dan penyusunan regulasi terkait perdagangan karang hias terus dilakukan untuk mengurangi dampak negatif dari kegiatan tersebut. Salah satu solusi dari permasalahan perdagangan karang hias ialah dengan ditetapkannya penerbitan SKK (Surat keterangan Ketelusuran) melalui UPT Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut yang tersebar diseluruh Indonesia. Melalui memorandum No. 276/DJPRL/IV/2020 tanggal 3 April 2020 tentang Pemanfaatan Karang hias Hasil Trasplantasi dan Pengambilan dari Alam untuk Perdagangan, kini perdagangan karang memenuhi asas ketelusuran.

Dirga Adhi Putra S. Selaku ketua umum AKKII menyampaikan dalam paparannya bahwa perdagangan karang hias berasal dari 2 sumber utama, yaitu karang hasil Trasplantasi dan karang Pengambilan dari Alam. Menurut Dirga, karang hias alam memiliki nilai jual yang tinggi. “Karang hias alam ini memiliki nilai jual yang lebih tinggi karena eksotika warna dan bentuknya,” ungkapnya.

Perdagangan karang hasil alam tentunya banyak menjadi bahan diskusi karena dampaknya secara langsung pada alam. Meskipun telah melalui regulasi yang ketat dimana kuota karang hias alam direkomendasikan oleh LIPI sebagai Scientific Authority (SA) dan ditetapkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) sebagai Management Authority (MA), masalah akan timbul saat proses pengambilan/penangkapan karang yang tidak ramah lingkungan.

Dalam audiensi (7/11) bersama Menteri Kelautan dan Perikanan, Dirga berpandangan bahwa pengambilan karang hias harus dilakukan dengan cara ramah lingkungan karena karang hias yang diambil diperlukan dalam kondisi hidup dan tidak terluka sedikit pun agar dapat dijual. Hal ini tentunya menjelaskan bahwa pengambilan/penangkapan karang tidak mungkin menggunakan cara yang merusak, seperti penggunaan alat Keruk, bom dan trawler (pukat Harimau).

Dari web resmi Asosiasi Koral Karang dan Ikan Hias Indonesia terdapat beberapa cara teknis yang dapat dilakukan untuk melakukan pengambilan karang alam yang ramah lingkungan.

  1. Pengambilan karang hias dilakukan pada lereng dasar dari terumbu karang dan pada kedalaman yang relatif dalam (lebih dari 15 m) Jauh dari kegiatan masyarakat pesisir dan bukan daerah ikan berkembang biak. Nelayan karang hias hampir tidak pernah mengambil karang hias dari rataan terumbu karang (lebih dangkal dari 15 meter) karena pada kedalaman tersebut karang didominasi jenis bercabang dengan kombinasi warna yang relatif sedikit.
  2. Pengambilan karang hias dalam satu perahu sebaiknya dilakukan oleh 3-5 orang. Satu sebagai pemegang kemudi, satu sebagai pengatur selang kompresor dan yang lainnya sebagai penyelam. Penyelaman dapat dilakukan dengan menggunakan tabung selam dan kompresor bersaringan.
  3. Pengambilan karang hias dengan menggunakan palu kecil dan pahat berukuran 10-15 cm untuk meminimalisir kerusakan karang target dan habitat sekitar karang. Sedangkan untuk karang yang hidup pada dasar yang lunak dapat diambil menggunakan tangan kosong.

Dalam proses pengambilan/penangkapan karang di acara audiensi bersama AKKII (7/11), Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo menekankan  bahwa pengambilan karang hias di daerah konservasi dan daerah wisata tidak diperbolehkan sama sekali. Selain itu pengambilan karang diluar dua kawasan tersebut juga hanya boleh dilakukan di daerah yang tutupannya diatas 50%. “Dulu ketika dilakukan groundcheck dan juga info dari LIPI ada yang mengambil di kawasan yang tutupannya di bawah 50%. Untuk itu hari ini kita bertemu untuk bicara dan menyelami masalah lebih detail agar ke depan ini harus ada solusi,” ujar Menteri Edhy.

Perdagangan karang hasil alam tentunya memerlukan regulasi yang ketat. Hal ini dilakukan agar sumber daya alam berupa terumbu karang tidak mengalami kerusakan dan berdampak pada ekosistemnya. Menaati segala regulasi dan peraturan serta menggunakan metode yang tepat dalam pemanfaatannya dapat menjadi cara kita untuk menjaga kelestarian dan keberlangsungan secara ekonomi pemanfaatan sumber daya alam terumbu karang.

SUMBER :

Pregiwati, Lilly Aprilya.2019.Carikan Solusi Terbaik, Menteri Edhy Tampung Aspirasi Pedagang Karang Hias Indonesia.https://kkp.go.id/artikel/14967-carikan-solusi-terbaik-menteri-edhy-tampung-aspirasi-pedagang-karang-hias-indonesia(diakses tanggal 10 Mei 2020)

Asosiasi Koral Karang dan Ikan Hias Indonesia.2018.Cara Pengambilan Karang Hias Untuk Perdagangan. https://akkii.id/teknis/ (diakses tanggal 10 Mei 2020)

 

Balai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut Makassar   03 Juni 2020   Dilihat : 640



Artikel Terkait: