Indonesia   |   English  
Saran Dan Pengaduan

BALAI PENGELOLAAN SD PESISIR & LAUT MAKASSAR
DIREKTORAT JENDERAL PENGELOLAAN RUANG LAUT
Kilas Berita  
BAMBU LAUT, KEINDAHAN BAWAH LAUT YANG TERUS DI EKSPLOITASI

Oleh : Andi Syahruddin (BPSPL Makassar Satker Palu)

 

Ekosistem terumbu karang di perairan tropis seperti Indonesia, sudah dikenal sebagai gudang keanekaraaman biota. Didalam ekosistem ini, biota karang merupakan unsur utama pembentuk maupun penyusun terumbu. Salah satu penyusun terumbu karang ialah karang lunak (Octocorallia). Bambu laut (Isis spp) merupakan salah satu jenis oktokoral yang hidup di perairan tropis Indo-Pasifik. Di Indonesia jenis ini mendominasi perairan Indonesia bagian timur seperti, Sulawesi, Maluku dan Papua. Pemanfaatannya banyak dilakukan oleh masyarakat pesisir. Hal ini dilatarbelakangi oleh tingginya permintaan pasar yang berasal dari pedagang atau pengumpul yang membeli langsung, sehingga bambu laut banyak diburu dan diperdagangkan oleh masyarakat.

 

Kondisi Bambu Laut di Alam

Kondisi Bambu Laut (Isis spp) di alam. (Sumber foto : Jupri, BPSPL Makassar)

 

Bambu laut (Isis spp) juga merupakan salah satu faktor keindahan bawah laut dengan memancarkan warna yang sangat menarik di bawah laut, warna unik yang dipancarkan oleh bambu laut berwarna keemasan, kuning terang, kehijau hijauan dan coklat. tak kalah hebatnya bambu laut ini menjaga kesinambungan ekosistem terumbu karang dan menjadi bagian sumberdaya ikan.

 

Namun, sayang pemanfaatannya yang bersifat destruktif dan berlebihan sangat membahayakan ekosistem khususnya terumbu karang. Bambu laut diambil dengan peralatan yang sederhana, yaitu dengan linggis dan parang. Cara atau teknik pengambilan sebagian besar dilakukan dengan mengambil koloni bambu laut secara utuh dan merusak karang keras di bawahnya.

 

Kementerian Kelautan dan Perikanan menetapkan bambu laut sebagai biota laut yang dilindungi penuh berdasarkan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 8/KEPMEN-KP/2020 tentang Perlindungan Penuh Bambu Laut (Isis spp). Keputusan Menteri tersebut menggantikan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 46 Tahun 2014 tentang perlindungan terbatas bambu laut selama lima tahun. Dengan ditetapkannya bambu laut sebagai biota laut yang dilindungi penuh, pemanfaatannya yang selama ini sangat massif bisa ditekan sehingga keindahan bawah laut ini dapat terus dinikmati oleh siapa saja, dan tentunya kelestarian ekosistem terumbu karangnya. Masyarakat perlu menimbulkan rasa sadar untuk melestarikan kembali populasi bambu laut karena saat ini kelestarian Bambu laut telah terancam punah dikarenakan ulah masyarakat itu sendiri.

 

Implementasi ditetapkannya Perlindungan Bambu Laut

 

Konservasi telah menjadi tuntutan dan kebutuhan yang harus dipenuhi sebagai harmonisasi atas kebutuhan ekonomi masyarakat dan keinginan untuk terus melestarikan sumber daya yang ada bagi masa depan. Upaya konservasi bambu laut dilakukan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan sudah cukup lama dimulai dengan menetapkan bambu laut sebagai biota prioritas target konservasi, penetapan status perlindungan terbatas sampai dengan perlindungan penuh. Upaya ini dilakukan untuk tetap menjaga kelestariannya di alam.

 

Bambu laut pada awalnya tidak termasuk ke dalam biota laut yang dilindungi, pemanfaatannya yang berlebihan (over exploitation) dan cara pengambilannya dengan cara destruktif, sehingga dapat mengancam kelestarian ekosistem terumbu karang. Maka diperlukan langkah-langkah strategis dalam pengelolaannya kearah yang lebih baik. Maka dengan itu pemerintah melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan menetapkannya sebagai biota laut yang dilindungi secara penuh.

 

Meskipun bambu laut saat ini ditetapkan sebagai biota laut yang dilindungi secara penuh, namun pemanfaatannya masih terus dilakukan. Sebagai salah satu contoh, penggagalan pengiriman bambu laut sebanyak 1 (satu) kontainer 20 feet seberat 20 ton di pelabuhan Pantoloan Palu Provinsi Sulawesi Tengah pada tanggal 2 April 2020 oleh Kemeterian Kelautan dan Perikanan. Artinya, pemanfaatan bambu laut dalam bentuk apapun setelah dikeluarkannya aturan perlindungan penuh bambu laut ini tidak diperbolehkan. Penggagalan pengiriman bambu laut di pelabuhan Pantoloan Palu adalah bukti nyata bahwa penerapan aturan perlindungan bambu laut ini berjalan dengan baik.

 

Nilai jual yang rendah ditingkat masyarakat nelayan yang tidak terlalu tinggi bahkan boleh dibilang sangat rendah. Namun karena adanya permintaan yang besar maka biota laut yang indah-indah ini terus menjadi target pemanfaatan (perburuan). Berbanding terbalik dengan tingkat kerusakan ekosistem terumbu karang yang di akibatkan dari pemanfaatan biota laut eksostis ini.

 

Penggagalan pengiriman 20 ton Bambu Laut di Pelabuhan Pantoloan, Palu. (02/04/2020) (Sumber foto : BPSPL Makassar Satker Palu)

 

Aspek Pengawasan

 

Dengan ditetapkannya bambu laut sebagai biota laut yang dilindungi penuh, tentunya dibutuhkan pengawasan yang ekstra ketat dari semua pihak. Masih adanya permintaan bambu laut dipasaran baik lokal maupun internasional menjadikan biota laut dilindungi ini akan terus dimanfaatkan baik secara sembunyi-sembunyi maupun secara terang-terangan.

 

Sinergitas antar lembaga baik pusat maupun daerah serta pelibatan masyarakat dalam melakukan pengawasan pemanfaatan biota laut yang dilindungi oleh undang-undang sangat penting untuk dilakukan guna mencegah pemanfaatan biota laut ini secara terus menerus. Pelibatan masyarakat dalam melakukan pengawasan dapat dilakukan melalui penyampaian laporan dan/atau pengaduan kepada pihak yang berwenang.

 

 

Balai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut Makassar   15 Mei 2020   Dilihat : 335



Artikel Terkait: