Indonesia   |   English  
Saran Dan Pengaduan

BALAI KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN NASIONAL KUPANG
DIREKTORAT JENDERAL PENGELOLAAN RUANG LAUT
Kilas Berita  

Profil SAP Raja Ampat


Profil Kawasan Konservasi Perairan Nasional

Suaka Alam Perairan

Kepulauan Raja Ampat

dan laut sekitarnya

 

Nama Kawasan

Suaka Alam Perairan Kepulauan Raja Ampat dan Laut di Sekitarnya

 

Dasar Hukum :

Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor KEP.64/MEN/2009 tentang Penetapan Kawasan Konservasi Perairan Nasional Kepulauan Raja Ampat dan Laut di Sekitarnya di Provinsi Papua Barat

 

Luas Kawasan

60.000 Hektar

 

Letak, Lokasi dan Batas – batas kawasan

  • Letak Kawasan: Bagian selatan Pulau Waigeo
  • Lokasi Kawasan: Distrik Waigeo Barat, Kabupaten Raja Ampat, Provinsi Papua Barat
  • Batas-Batas Kawasan:
  • Sebelah Utara berbatasan dengan Pulau Waigeo
  • Sebelah Selatan berbatasan dengan perairan Kepulauan Fam
  • Sebelah Timur berbatasan dengan perairan Pulau Gam
  • Sebelah Barat berbatasan dengan perairan Pulau Batangpele dan Pulau Manyaifun

 

Target Konservasi :

  • Target Sumberdaya:

Menjaga ketersediaan sumberdaya ikan dan pengelolaan terumbu karang yang lestari.

  • Target Sosial Budaya dan Ekonomi:

SAP Kepulauan Raja Ampat sebagai sumber penghidupan dan kesejahteraan masyarakat.

 

Potensi Sosial Budaya dan Ekonomi:

 

Kampung-kampung yang terdapat disekitar SAP Kepulauan Raja Ampat ada 5 kampung, yaitu: Manyaifun, Waisilip, Bianci, Mutus, dan Meosmanggara. Selain Kampung Manyaifun, empat kampung lainnya terletak didalam SAP Kepulauan Raja Ampat. Walaupun Kampung Manyaifun berada diluar SAP Kepulauan Raja Ampat, namun sebagian besar masyarakatnya menangkap ikan di dalam dan di sekitar wilayah SAP Kepulauan Raja Ampat. Secara administratif, Kampung Manyaifun dan Kampung Meosmanggara berada dalam Distrik Waigeo Barat Kepulauan, sedangkan Kampung Waisilip, Kampung Bianci, dan Kampung Mutus berada dalam Distrik Waigeo Barat. Kampung Manyaifun terletak di Pulau Manyaifun dengan luas 21 Hektar yang dihuni 50 KK, demikian pulau dengan Kampung Meosmanggara, Kampung Mutus, dan Kampung Bianci terletak di pulau dengan luas masing-masing 75 Hektar dan dihuni 64 KK, 75 Hektar dan dihuni 95 KK, serta 140 Hektar dan dihuni 27 KK. Sedangkan Kampung Waisilip terletak di daratan besar Pulau Waigeo dengan luas 25 Hektar dan dihuni 46 KK. Kampung ini merupakan ibukota Distrik Waigeo Barat.

Suku/etnis yang tinggal di Kampung Manyaifun didominasi oleh suku Biak Beteu/Beser Raja Ampat 73.58%, di Kampung Waisilip suku Biak Betew/Beser Raja Ampat 94.28%, di Kampung Bianci didominasi 3 suku yaitu suku Kawe 30%, suku Tidore 42% dan suku Buton 26%, di Kampung Mutus suku Biak Betew/Beser Raja Ampat 91%, dan di Kampung Meosmanggarar suku Biak Betew/Beser Raja Ampat 94%. Setiap suku memiliki beberapa marga. Walaupun dalam satu kampung terdapat beberapa suku dengan marga-marganya, dalam kehidupan sehari-hari saling berinteraksi secara harmonis dan dinamis diantara masyarakat.  Hal ini tercermin  apabila suatu suku mengadakan kegiatan, maka suku-suku yang lain akan diundang untuk menghadiri kegiatan tersebut.

Kelembagaan di kelima kampung pada umumnya sama, terdapat kelembagaan formal dan informal.  Lembaga formal terdiri dari pemerintahan kampung dan badan musyawarah kampung (BAMUSKAM). Lembaga informal terdiri dari kelompok nelayan, kelompok keagamaan, dan kelompok jamaah masjid.  Di beberapa kampung terdapat Lembaga Pengelola Sumberdaya Terumbu Karang (LPSTK) dan Lembaga Keuangan Mikro (LKM) yang pembentukannya difasilitasi oleh Coremap II Raja Ampat  (Amrulla, 2010).

Pada umumnya mata pencaharian penduduk di kampung-kampung sekitar SAP Kepulauan Raja Ampat hampir sama dengan mata pencaharian penduduk di pulau-pulau kecil lainnya yaitu sebagai nelayan. Mata pencaharian sampingan dengan berkebun atau mengumpulkan hasil hutan disekitar kampung. Jumlah nelayan di Kampung Manyaifun sebanyak 41 orang (82%), Kampung Waisilip 23 orang (50%), Kampung Bianci 44 orang (73%), Kampung Mutus 83 orang (97%), dan Kampung Meosmanggarar 47 orang (74%). Hasil tangkapan ikan utamanya untuk konsumsi keluarga. Wilayah tangkap nelayan dari kedua kampung ini biasanya hanya di perairan dan pulau-pulau sekitar kampung.

 

Potensi Pariwisata :

Potensi karang dan ikan karang yang tinggi dengan kondisi yang secara umum masih baik, serta pemandangan pantai dan pulau-pulau yang indah, menjadikan Kabupaten Raja Ampat sebagai salah satu tujuan wisata laut seperti kegiatan menyelam dan snorkeling yang banyak dikunjungi oleh turis domestik maupun mancanegara. Data dari tahun ke tahun menunjukkan terjadinya kenaikan jumlah kunjungan wisatawan ke Kabupaten Raja Ampat. Selain itu, pendapatan dari conservation fee melalui tiket masuk dan jumlah resort yang ada juga menunjukkan peningkatan. Berbagai informasi tentang Raja Ampat telah dipublikasikan baik skala nasional maupun internasional.

Pemerintah Kabupaten Raja Ampat sejak pertengahan 1997 mengeluarkan Peraturan Bupati Raja Ampat No. 63, 64 dan 65 dan Peraturan Bupati No. 64 tahun 2012 terkait retribusi pariwisata dan pembentukan tim pengelola dana non retribusi.  Pembentukan peraturan tersebut didasari dengan semakin banyaknya wisatawan dalam dan luar negeri berkunjung ke Kabupaten Raja Ampat untuk menyelam tanpa memberikan kontribusi bagi pengelolaan sumberdaya laut Raja Ampat, masyarakat setempat dan pembangunan daerah.

Dalam peraturan tersebut disebutkan setiap wisatawan asing yang berkunjung ke Kabupaten Raja Ampat dikenakan tarif retribusi sebesar Rp 600.000,- berlaku selama setahun dengan diberikan pin, dan wisatawan dalam negeri sebesar Rp 250.000,-. Dana retribusi yang diperoleh sebesar 30% dialokasikan sebagai dana retribusi dan 70% sebagai dana non retribusi. Dana non retribusi ini dialokasikan sebesar 40% untuk dana konservasi, 40% untuk program ekonomi kreatif masyarakat, dan 20% untuk administrasi pengelolaan.   

Melalui promosi, pengelolaan obyek-obyek pariwisata dan wisatawan terlihat bahwa jumlah wisatawan ke Kabupaten Raja Ampat semakin meningkat dari pertengahan tahun 1997 sebanyak 998 orang menjadi 2.645 orang tahun 1998 dan 3.210 orang tahun 1999. Sedangkan pada tahun 2007 jumlah wisatawan mancanegara sebanyak 932 meningkat menjadi 6.073 orang pada tahun 2012. Sedangkan jumlah wisatawan domestik dari 66 pada tahun 2007 meningkat menjadi 1.717 orang pada tahun 2012. Secara umum wisatawan asing lebih banyak yang berkunjung ke Kabupaten Raja Ampat.

 

                Tabel Jumlah Lunjungan Wisatawan ke Kabupaten Raja Ampat

Wisatawan

2007

2008

2009

2010

2011

2012

Total

Mancanegara

932

2,366

2,872

3,858

5,159

6,037

21224

Domestik

66

279

338

652

1.246

1.717

4.298

Sumber: Dinas Pariwisata Raja Ampat 2013

 

Selain itu jumlah resort juga bertambah dari 2 resort tahun 1997 menjadi 6 resort tahun 1999, dan jumlah kapal pariwisata (liveabords) yang berkunjung dari 5 regular tahun 2007 menjadi 27 regular tahun 2010 (CI, 2010).

 

Aksesibilitas :

 

SAP Kepulauan Raja Ampat dapat dijangkau dengan menggunakan speedboat dari Waisai yang ditempuh dengan waktu kira-kira 1,5 jam. Untuk menjangkau Waisai (Ibu Kota Kabupaten Raja Ampat), lebih dulu menuju Kota Sorong. Dari Kota Sorong, perjalanan ke Waisai dapat menggunakan moda transportasi laut dan udara. Melalui laut tersedia kapal reguler setiap hari. Sedangkan moda transportasi udara terdapat penerbangan perintis Susi Air satu kali dalam seminggu.

 

Upaya Pengelolaan Kawasan:

Upaya Pengelolaan yang dilakukan dengan :

  • Pengawasan KKPN
  • Monitoring dan evaluasi KKPN
  • Sosialisasi KKPN
  • Sosialisasi Rencana Pengelolaan dan Zonasi KKPN
  • Mata pencaharian alternatif
  • Koordinasi dan sinkronisasi program dengan Stakeholders
  • Penyusunan SOP pengelolaan KKPN
  • Pemantauan kondisi biofisik KKPN
  • Percontohan pengelolaan penyu
  • Review Rencana Pengelolaan dan Rencana Zonasi KKPN

 

Download PDF