Indonesia   |   English  
Saran Dan Pengaduan

BALAI KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN NASIONAL KUPANG
DIREKTORAT JENDERAL PENGELOLAAN RUANG LAUT
Kilas Berita  

Ekosistem TWP Gili Matra


POTENSI EKOLOGIS – KEANEKARAGAMAN HAYATI

 

a.   Ekosistem Terumbu Karang

Gili Ayer, Gili Meno, dan Gili Trawangan dikelilingi oleh ekosistem terumbu karang. Tipe terumbu karang yang meliputi ketiga pulau tersebut secara morfologi merupakan tipe terumbu karang tepi (fringing reef). Ekosistem terumbu karang di kawasan TWP Gili Ayer, Gili Meno, dan Gili Trawangan merupakan obyek utama wisata bahari. Luas potensi terumbu karang yang terdapat di TWP Gili Ayer, Gili Meno, dan Gili Trawangan adalah 236,25 ha, dengan rincian; 101,27 ha di Gili Trawangan; 58,14 ha di Gili Meno, dan 76,84 ha di Gili Ayer.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Pardede et al, (2012)  di 25 titik pengamatan di kawasan TWP Gili Ayer, Gili Meno, dan Gili Trawangan dan 4 titik di luar kawasan, ditemukan bahwa rata-rata persen penutupan karang keras di kawasan TWP Gili Ayer, Gili Meno, dan Gili Trawangan adalah 23,7% yang terdiri dari 40 genera karang keras. Kelimpahan ikan rata-rata dari seluruh lokasi pengamatan adalah 29.298,57 no.ha-1 dan biomasa rata-rata adalah 556,9 kg.ha-1. Keragaman jenis ikan terumbu karang berdasarkan jumlah yang ditemukan dari transek pengamatan selama survei sensus visual adalah 344 jenis, tidak termasuk ikan-ikan dari Famili Gobiidae, Blennidae, dan Tripterygidae. Berdasarkan data dari survei time swim dalam rangka mencatat seluruh keragaman jenis ikan dalam suatu lokasi, nilai Coral Fish Diversity Index (CFDI) yang dikembangkan oleh Allen dan Werner (2002) mencapai 211 jenis ikan, yang menunjukkan tingkat keragaman yang cukup tinggi. Adapun estimasi jumlah seluruh jenis ikan yang ada di TWP Gili Ayer, Gili Meno, dan Gili Trawangan berdasarkan rumus penghitungan kekayaan jenis ikan dalam Allen dan Werner (2002) tersebut adalah sebanyak 511 jenis ikan.

Lebih lanjut Pardede et al. (2012) menyatakan bahwa tutupan karang keras yang tertinggi di Gili Ayer berada pada lokasi Bongkas Reef yaitu 41,5% dan yang terendah ada di Batfish Point, yaitu 9,2%; yang tertinggi di Gili Meno adalah di Halik Reef (33,3%) dan terendah adalah di Meno Slope (5,5%), sedangkan yang tertinggi di Gili Trawangan adalah di Trawangan Slope (61,5%) dan terendah di Shark Point (20%). Dibandingkan  dengan kondisi di sekitar ketiga gili, tidak ada perbedaan persentase tutupan karang yang ditemui pada terumbu karang di luar kawasan, sebagaimana tersebut pada Gambar 1.

 

 

Gambar 1.   Rata-rata (±SE) persen penutupan karang keras (%) di dalam dan luar kawasan TWP Gili Ayer, Gili Meno, dan Gili Trawangan

 

Pertumbuhan rekrutmen karang yang paling baik terjadi di daerah terumbu karang dengan kemiringan yang curam, misalnya di Air Wall (14 no.m-2) di Gili Ayer, Halik Reef (14 no.m-2) dan Meno Wall (13 no.m-2) di Gili Meno, dan Blue Coral dan Shinta’s Reef (17 no.m-2) di Gili Trawangan.  Kerapatan rekrutmen karang yang tertinggi ada di Gili Trawangan dengan rata-rata 9,8 koloni per m2.  Sebaliknya, rekrutmen karang paling sedikit ditemukan di daerah terumbu karang dengan kontur yang landai atau substrat yang loose, seperti di Corner Reef, Meno Slope, dan Shark Point, sebagaimana tersebut pada Gambar 2.

Gambar 2.   Rata-rata (±SE) kerapatan rekrutmen karang keras (no.m-2) di dalam dan luar kawasan TWP Gili Ayer, Gili Meno, dan Gili Trawangan.

 

Kelimpahan kima paling tinggi ada di Batfish Point (150 no.ha-1) di Gili Ayer. Namun dibandingkan dengan di ketiga Gili, kelimpahan kima signifikan lebih tinggi ditemukan di luar kawasan TWP (F3,21=4,198; P<0.05), yaitu di sekitar Tanjung Sire (Ujung Sire 183,3 no. ha-1 dan Tanjung Sire 150 no.ha-1) dan Teluk Medane (133,3 no.ha-1), di perairan utara Pulau Lombok, sebagaimana tersebut pada Gambar 3.

 

Gambar 3.   Rata-rata (±SE) kelimpahan kima (no.ha-1) dari 25 lokasi survei di dalam TWP Gili Ayer, Gili Meno, dan Gili Trawangan.

Kelimpahan ikan terumbu karang di TWP Gili Ayer, Gili Meno, dan Gili Trawangan berkisar antara 10.080 no.ha-1 di Meno Slope dan 58.486,67 no.ha-1 di Halik Reef, sedangkan kelimpahan yang lebih rendah ditemui di luar kawasan sebesar 8153,33 no.ha-1 di Teluk Medane. Secara umum, rata-rata kelimpahan ikan yang terbesar ditemukan di Gili Meno, diikuti oleh Gili Trawangan  dan Gili Ayer, lalu di luar kawasan (Gambar 4), walaupun tidak ada perbedaan yang signifikan (F3,21=2,084; P>0.05).         

 

Gambar 4.   Rata-rata (±SE) kelimpahan ikan terumbu karang (no.ha-1) di dalam dan luar kawasan TWP Gili Ayer, Gili Meno, dan Gili Trawangan.

 

Biomasa ikan terumbu karang berkisar antara 150,26 kg.ha-1 di Shinta’s Reef, Gili Trawangan dan 1222,86 kg.ha-1 di Meno Wall, Gili Meno. Namun dibandingkan dengan luar kawasan, biomasa ikan terumbu karang di luar kawasan jauh lebih rendah yaitu di Teluk Medane 138.29 kg.ha-1, walaupun tidak ada perbedaan yang signifikan (F3,21=1,644; P>0,05), sebagaimana tersebut pada  Gambar 5.

 

Gambar 5.   Rata-rata (±SE) biomasa ikan terumbu karang (kg.ha-1) di dalam dan luar kawasan TWP Gili Ayer, Gili Meno, dan Gili Trawangan.

 

Presentase Tutupan Terumbu Karang di TWP Gili Matra

 

 

b.  Ekosistem Padang Lamun

Lamun (Seagrass) merupakan tumbuhan berbunga (Angiospermae) yang mampu beradaptasi di perairan  yang salinitasnya tinggi, hidup terbenam di dalam air dan memiliki rhizoma, daun, serta akar sejati. Sebagai sebuah ekosistem, padang lamun merupakan habitat bagi beberapa organisme laut. Padang lamun memiliki fungsi secara ekologis diantaranya sebagai produsen detritus dan zat hara; mengikat sedimen dan menstabilkan substrat yang lunak; tempat berlindung, mencari makan, tumbuh besar dan daerah pemijahan bagi beberapa jenis biota laut (Bengen, 2004).  Luas potensi padang lamun yang terdapat di TWP Gili Ayer, Gili Meno, dan Gili Trawangan adalah 89,21 ha, dengan rincian; 21,30 ha di Gili Trawangan, 17,28 ha di Gili Meno, dan 50,63 ha di Gili Ayer.

Jenis padang lamun yang paling sering dijumpai adalah jenis Cymodocea rotundata dan Thalassia hemprichi, karena kedua jenis lamun ini dapat dijumpai di setiap stasiun pengamatan. Jenis lamun yang paling jarang dijumpai ialah Halophila spinulosa. Spesies ini hanya di jumpai pada sisi timur Gili Ayer. Jenis padang lamun yang dijumpai pada setiap stasiun pengamatan sangatlah bervariasi, begitu pula dengan persebarannya.  Jenis lamun yang paling bervariasi dijumpai pada sisi timur Gili Ayer, yakni 8 (delapan) jenis lamun, antara lain Cymodocea rotundata, Enhalus acoroides, Halodule pinifolia, Halophila spinulosa, Halodule uninervis, Halophila ovalis, Syringodium isoetifolium, dan Thalassia hemprichii, sedangkan sisi utara Gili Meno memiliki keragaman jenis padang lamun yang paling sedikit, hanya dijumpai dua spesies yakni Cymodocea rotundata dan Thalassia hemprichii. Variasi jenis padang lamun di ketiga pulau ini dapat disebabkan oleh perbedaan substrat yakni mulai dari pasir hingga lumpur. Persebaran padang lamun yang luas dapat dijumpai pada sisi barat Gili Ayer dan utara Gili Meno.

Secara keseluruhan jumlah padang lamun pada perairan yang tertutup memiliki jumlah yang relatif lebih banyak (sisi timur Gili Trawangan, sisi timur Gili Ayer, dan sisi barat Gili Meno) dibandingkan jumlah lamun pada perairan terbuka (sisi barat Gili Trawangan, sisi barat Gili Ayer, dan sisi utara Gili Meno).

Jumlah rata-rata individu per m² yang tertinggi dijumpai pada sisi timur Gili Trawangan sejumlah 1.358/m², sementara yang paling sedikit sejumlah 206,33/m² dijumpai pada sisi sebelah barat Gili Trawangan. Persebaran padang lamun yang terluas pada ketiga pulau yang berada di kawasan Gili Indah (Meno, Air, dan Trawangan) yakni pada Gili Meno dengan persentase tutupan lamun hampir menutupi setengah dari keliling pulau tersebut. Kondisi ini pulalah yang menyebabkan Gili Meno merupakan lokasi peneluran penyu dan tempat penyu mencari makan (feeding ground).

Secara keseluruhan terdapat 8 (delapan) spesies lamun yang dapat ditemukan di kawasan TWP Gili Ayer, Gili Meno, dan Gili Trawangan, yakni Cymodocea rotundata, Enhalus acoroides, Halodule pinifolia, Halophila spinulosa, Halodule uninervis, Halophila ovalis, Syringodium isoetifolium, dan Thalassia hemprichii.  Hal ini menunjukan suatu keragaman yang sangat tinggi, yang belum tentu dapat dijumpai di lokasi lain. Jumlah individu yang beragam, serta kerapatan yang berbeda-beda mengindikasikan adanya keberagaman kondisi lingkungan yang berpengaruh terhadap ekosistem padang lamun yang ada, baik dari kondisi substrat, genangan, gangguan, maupun suhu perairan (BKKPN 2011).

 

Presentase Tutupan Padang Lamun di TWP Gili Matra

 

 

c.   Ekosistem Mangrove

Mangrove merupakan sumberdaya alam yang memiliki berbagai manfaat dan berpengaruh luas ditinjau dari aspek ekologis dan ekonomis.  Peranan penting mangrove secara ekologis maupun ekonomis antara lain penyedia nutrien bagi biota perairan, tempat pemijahan, tempat pembesaran, penahan abrasi, peredam badai, pencegah intrusi air laut, penyedia kayu, daun-daunan, bahan baku obat-obatan dan lain sebagainya.  Luas potensi mangrove yang terdapat di TWP Gili Ayer, Gili Meno, dan Gili Trawangan adalah 1,81 ha dan ekosistem mangrove yang ada ditemukan di Gili Meno.

Di dalam kawasan TWP Gili Ayer, Gili Meno, dan Gili Trawangan terdapat 8 jenis pohon mangrove yang tergolong dalam 8 famili yaitu jenis-jenis Bruguiera cylindrica, Sonneratia alba, Avicennia alba, Lumnitzera racemosa, Excoecaria agallocha, Pemphis acidula, Acrostichum aureum dan Cynometra sp. Umumnya mangrove yang ada tumbuh berupa rumpun yang terpisah-pisah berbaur dengan tanaman pantai. Jenis Centigi (Pemphis acidula) merupakan jenis mangrove yang umumnya tumbuh di tepi pantai.

 

Gambar 6. Peta potensi biofisik kawasan TWP Gili Ayer, Meno, trawangan dan Laut sekitarnya

 

Di Gili Ayer hanya jenis Centigi (Pemphis acidula) saja yang tumbuh di beberapa tempat di tepi pantai sedangkan jenis mangrove yang lain tidak ditemukan. Di Gili Meno di samping jenis Centigi yang umumnya tumbuh di tepi pantai, komunitas mangrove juga ditemukan tumbuh di sepanjang tepian danau asin yang terdapat disebelah barat pulau. Jenis mangrove yang mendominasi adalah Avicennia alba, jenis mangrove lainnya adalah  Bruguiera cylindrica,  Excoecaria agallocha dan Lumnitzera racemosa yang tumbuh dengan ketebalan 4–20 meter berbaur dengan tumbuhan bawah seperti Acrostichum aureum dan jenis Acanthus ilicifolius. Di Gili Trawangan tumbuhan mangrove terdapat di bagian sebelah barat laut yang letaknya cukup jauh (120 meter) di belakang hamparan karang. Di samping jenis Pemphis acidula jenis mangrove lainnya yaitu Avecinnea alba, Bruguiera cylindrical, Excoecaria agallocha dan Lumnitzera racemosa yang tumbuh jarang dan tumbuh berbaur dengan tumbuhan pantai seperti Pandan (Pandanus sp), Waru laut (Hibiscus sp), Ketapang (Terminalia catappa), Cemara pantai (Casuarina equisetifolia), dan Kelapa (Cocos nucifera), serta jenis tumbuhan bawah seperti ambung (Scaevola sp).

Jenis tumbuhan pantai merupakan tumbuhan yang umum di jumpai di sepanjang pesisir Gili Indah, bahkan mendominasi vegetasi yang ada. Tumbuhan pantai dapat dijumpai langsung berhadapan dengan laut dan tumbuh berbaur dengan jenis mangrove Pemphis acidula.

Tumbuhan pantai yang terdapat di Gili Ayer, Gili Meno dan Gili Trawangan sebagian besar di dominasi oleh tanaman kelapa (Cocos nucifera).  Jenis tanaman lainnya yang dapat dijumpai antara lain Pandan (Pandanus sp), Waru laut (Hibiscus sp), Ketapang (Terminalia catappa), Cemara pantai (Casuarina equisetifolia) dan jenis tumbuhan darat seperti asam (Tamarindus indica), nyamplung (Callophylum inophylum) dan Jati pasir (Scaerota frustescens). Di beberapa tempat sepanjang pantai ditemukan tumbuhan bawah seperti Ipoemoa sp dan Scaevola sp

 

Presentase Tutupan Mangrove di TWP Gili Matra