Indonesia   |   English  
Saran Dan Pengaduan

BALAI KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN NASIONAL KUPANG
DIREKTORAT JENDERAL PENGELOLAAN RUANG LAUT
Kilas Berita  
Akselerasi Tindak Lanjut Laporan Masyarakat, KKP Lakukan Respon Cepat Penanganan Mamalia Laut Terdampar di Desa Wadu Maddi, Kecamatan Hawu Mehara, Kabupaten Sabu Raijua, Provinsi Nusa Tenggara Timur

 

 

Sabu Raijua [08/04] – Kementerian Kelautan dan Perikanan melalui Balai Kawasan Konservasi Perairan Nasional (BKKPN) Kupang melakukan respon cepat laporan masyarakat terkait adanya kejadian mamalia laut terdampar di Desa Wadu Maddi, Kecamatan Hawu Mehara, Kabupaten Sabu Raijua, Provinsi Nusa Tenggara Timur.

 

Victor Gustaaf Manoppo selaku Dirjen Pengelolaan Ruang Laut menjelaskan bahwa mamalia laut yang ditemukan terdampar tersebut merupakan jenis Paus Sperma (Physeter macrocephalus). “Dari hasil identifikasi dan pengukuran morfometrik yang dilakukan tim di lapangan diketahui bahwa Paus Sperma tersebut berjenis kelamin betina dengan ukuran panjang total tubuh sekitar 12,65 m dan lingkar dada 8,30 m. Paus tersebut ditemukan sudah dalam kondisi bangkai kode 3.” Jelas Victor di Jakarta

 

Paus Sperma tersebut pertama kali ditemukan oleh Bapak Natam Rohi Rabe pada Jumat [08/04] sekitar pukul 05.00 WITA di pesisir Desa Wadu Maddi dan selanjutnya beliau melaporkan informasi tersebut kepada Kepala Desa Wadu Maddi. Lebih lanjut informasi tersebut diteruskan ke forum komunikasi pemerintah daerah Kabupaten Sabu Raijua dan selanjutnya diterima oleh Tim BKKPN Kupang wilayah kerja (wilker) Taman Nasional Perairan (TNP) Laut Sawu. Tim kemudian segera meluncur ke lokasi setelah berkoordinasi dengan Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Sabu Raijua dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sabu Raijua.

 

Proses penguburan bangkai paus tersebut diawali dengan ritual adat penghormatan oleh salah satu tokoh adat di pesisir pantai Desa Wadu Maddi dan selesai sekitar pukul 20.30 WITA. Untuk membantu percepatan penanganan mamalia laut terdampar tersebut, tim juga turut melibatkan berbagai pemangku kepentingan salah satunya yaitu dokter hewan dari Dinas Pertanian dan Pangan sebagai tenaga medis veteriner, Polsek Hawu Mehara untuk membantu mengamankan area penanganan dan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang berkaitan dengan alat berat (ekskavator) untuk membantu proses evakuasi. "Kolaborasi antar pihak menjadi salah satu kunci keberhasilan dalam penanganan mamalia laut terdampar, dimana merupakan bentuk implementasi dari Kepmen KP Nomor 79 Tahun 2018 tentang Rencana Aksi Nasional Konservasi Mamalia Laut," terang Andi selaku Direktur Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut, Ditjen PRL

 

 

Imam Fauzi selaku Kepala BKKPN Kupang juga menjelaskan bahwa TNP Laut Sawu merupakan salah satu habitat dan koridor migrasi dari mamalia laut, sehingga kejadian mamalia laut terdampar sering terjadi di perairan ini. “Sebagai salah satu biota laut dilindungi penuh oleh negara berdasarkan PP No. 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa, Paus Sperma merupakan mamalia laut yang sering terdampar di TNP Laut Sawu. Sebelum kejadian hari ini, dalam kurun waktu Tahun 2022 saja, sudah ada 2 kejadian Paus Sperma terdampar yaitu di Kabupaten Kupang pada Bulan Januari dan di Kabupaten Sumba Barat Daya pada Bulan Maret. Oleh karena itu, perlu juga dilakukan studi lebih mendalam terkait penyebab mamalia laut tersebut terdampar sehingga dapat menjadi bahan pendukung dalam kebijakan pengelolaan kawasan konservasi,” tutup Imam di Kupang.

Balai Kawasan Konservasi Perairan Nasional Kupang   08 April 2022   Dilihat : 98



Artikel Terkait: