Indonesia   |   English  
Saran Dan Pengaduan

DIREKTORAT JENDERAL PENGELOLAAN RUANG LAUT
Kilas Berita  
Mengenal Pari Manta

Oleh : Yulina Irawati

 

sumber foto : pinterest

 

TAKSONOMI

Genus Manta memiliki dua spesies yaitu Manta alfredi dan Manta birostrisManta alfredi dikenal sebagai Reef Manta Ray atau Pari Manta Karang dan memiliki beberapa nama lokal yaitu Plampangan, Pari Kerbau (Lombok), Pari Cawang Kalung (Jawa Barat), dan Sarangah Bulan. Manta birostris dikenal dengan Oceanic Manta Ray (Pari Manta Oseanik), Giant Manta Ray, dan Devil Ray serta memiliki nama lokal Pari Plampangan, Pari Kerbau (Lombok), Pari Cawang Kalung (Jawa Barat), dan Sarangah Bulan.

Filum     : Chordata

Kelas     : Chondrichtyes

Bangsa  : Myliobatiformes

Suku     : Mobulidae

Marga    : Manta (Bancroft, 1829)

Spesies : (1) Manta birostris (Walbaum, 1792); (2) Manta alfredi (Krefft, 1868)

 

MORFOLOGI

Pari manta memiliki tubuh berukuran besar dan merupakan filter feeder, mereka menggunakan mulut dan insang yang telah mengalami modifikasi untuk menyaring plankton dan ikan-ikan kecil di kolom periaran. Pari manta dapat dibedakan dengan jenis pari lainnya dapat dilihat dari tubuhnya yang besar yang berbentuk berlian dengan sirip dada memanjang seperti sayap. Celah insang pari manta berada pada bagian perut, posisi mulut terminal (letak mulut diujung) dan memiliki sepasang cuping kepala. Variasi warna melanistik (hitam) dan leusistik (putih) dijumpai pada kedua spesies manta ini (Sadili et al, 2015).

 

Manta birostris memiliki bentuk kepala sangat lebar dan memiliki sepasang cuping memanjang di bagian sisi depan kepala. Lebar tubuhnya dapat mencapai 7 – 9 meter. Ciri khas dari Manta birostris yaitu posisi mulut di ujung (terminal), bagian sekitar mulut berwarna gelap, ekor tidak memiliki duri sengat, terdapat benjolan menonjol pada pangkal ekor, memiliki bercak hitam yang terletak di wilayah perut bagian bawah, di bagian bawah sepanjang bagian tepi sirip dada biasanya berbayang hitam, warna tapis insang seringkali berwarna hitam seperti bekas terbakar, bagian dalam diantara mulut dan siri kepala seringkali berwarna hitam, bagian atas tubuh berwarna hitam dengan corak-corak putih yang melintang, tanda pada bahu berwarna hitam membentuk pola huruf “T” hitam di atas kepala (Sadili et al, 2018).

 

Manta alfredi memiliki bentuk kepala sangat lebar dan memiliki sepasang cuping memanjang di bagian sisi depan kepala. Lebar tubuhnya dapat mencapai 4 – 5 meter. Ciri khas dari Manta alfredi yaitu posisi mulut di ujung (terminal), bagian sekitar mulut berwarna putih atau abu-abu muda, ekor tidak memiliki duri sengat, pangkal ekor rata tidak terdapat benjolan, memiliki bercak hitam terletak diantara celah insang, terdapat bercak hitam yang tersebar di sepanjang bagian ujung tepi sirip dada ke arah bagian perut, bagian dalam antara mulut dan sirip kepala seringkali berwarna putih pucat (kecuali Manta yang berwarna hitam), tanda pada bagian punggung lebih bervariasi daripada Manta birostris, batas transisi antara tanda putih dan hitam pada permukaan punggung tidak jelas (tidak seperti Manta birostris yang memiliki batasan lebih jelas) membentuk pola huruf “Y” dari bagian kepala kea rah tengah-tengah punggung (Sadili et al, 2018).

 

PERTUMBUHAN

Pari manta memiliki laju pertumbuhan yang sangat lambat, memiliki rentang hidup yang panjang, hasil reproduktif yang rendah dan waktu produktif yang panjang diperkirakan sekitar 25 tahun dan mencapai kedewasaan yang lambat sekitar 6 – 15 tahun atau lebih. Usia hidupnya diperkirakan sampai 40 tahun dan tingkat kematian alamainya rendah. Seekor pari manta betina hanya dapat melahirkan 5 – 15 anakan semasa hidupnya sehingga populasi pari manta sangat rentan mengalami kepunahan dan sulit untuk dipulihkan apabila tetap dieksploitasi. Manta birostris memiliki usia maksimum mencapai 40 tahun dengan kisaran usia pertama kali dewasa 8 – 10 tahun sedangkan Manta alfredi memiliki usia maksimum 40 tahun dengan kisaran usia pertama kali dewasa 6 - 8 tahun. Baik Manta birostris maupun Manta alfredi memiliki kemampuan reproduksi sangat rendah dengan periode reproduksi 2 – 5 tahun dan lama kehamilan 12 – 13 bulan. Dari satu periode reproduksi, manta betina akan menghasilkan 1 ekor anakan dan memerlukan waktu regenerasi selama 24 – 25 tahun (Sadili et al, 2018).

 

HABITAT

Manta alfredi sering dijumpai di perairan pesisir dan terkadang spesies ini berada di daerah terumbu karang lepas pantai, karang berbatu, dan gunung bawah laut. Spesies ini juga ditemukan di sepanjang garis pantai continental yang juga berasosiasi dengan daerah-daerah yang memiliki tingkat produktivitas tinggi (upwelling). Manta birostris senang mengunjungi pesisir pantai produktif yang memiliki upwelling rutin, gugusan pulau-pulau di laut lepas dan di sekitar puncak-puncak dan gunung bawah laut (Sadili et al, 2015).

 

SEBARAN

Manta birostris terdistribusi lebih luas dibandingkan dengan Manta alfredi. Hal ini dikarenakan Manta birostris merupakan jenis ikan peruaya yang melakukan migrasi lebih dari ribuan kilometer. Manta birostris tersebar mulai dari perairan tropis, subtropis hingga daerah beriklim sedang sedangkan Manta alfredi hanya dijumpai di perairan tropis dan subtropis dimana jarak migrasi musiman lebih pendek hanya beberapa ratus kilometer. Di Indonesia, Manta alfredi sering dijumpai di perairan karang yang masih relatif baik mulai dari perairan barat Sumatera, selatan Jawa, Bali, Nusa Tenggara, timur Kalimantan, Laut Cina Selatan, Laut Banda, perairan Sulawesi, Maluku, dan Papua sedangkan sebaran Manta birostris  mencakup perairan Samudera Hindia, Laut Cina Selatan dan sekitarnya (Sadili et al, 2018).

 

SISTEM PENDATAAN

Data dan informasi tentang pari manta di Indonesia belum banyak diketahui, data yang ada terbatas pada lokasi-lokasi perairan yang menjadi lokasi kegiatan ekowisata pari manta. Data diperoleh melalui pencatatan yang dilakukan oleh pendamping wisatawan saat melakukan penyelaman.

 

PEMANFAATAN

Hampir semua bagian tubuh pari manta dapat dimanfaatkan, namun insang pari manta mempunyai nilai jual yang tinggi di pasar internasional. Insang pari manta digunakan sebagai bahan baku obat-obatan tradisional. Harga insang pari manta di tingkat pedangan pengumpul sekitar 1,75 juta/kg kering (Sadili et al, 2015).

 

KEBIJAKAN PENGELOLAAN

Berdasarkan pengkategorian IUCN, pari manta masuk ke dalam kategori vulnerable yakni rawan mengalami ancaman kepunahan dan masuk ke dalam Apendiks II CITES. Di tingkat nasional, Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No. 4 Tahun 2014 menetapkan pari manta sebagai jenis ikan yang dilindungi secara penuh. Hal ini menandakan kegiatan penangkapan dan perdagangan pari manta adalah kegiatan yang dilarang dan pelanggaran yang terjadi atas keputusan ini dapat dikenakan hukuman 8 tahun penjara dan denda maksimal Rp 1.500.000.000,- seperti yang tertuang dalam Undang-Undang Perikanan.

 

ANCAMAN

Populasi pari manta di Indonesia terancam oleh aktivitas penangkapan, baik secara sengaja (spesies target) maupun yang tertangkap secara tidak sengaja (by catch) lewat jaring insang. Selain itu, kegiatan pariwisata yang belum dikelola dengan baik dan tidak bertanggungjawab seperti penggunaan jangkar dapat pula menyebabkan kerentanan populasi pari manta.

 

SUMBER

Sadili, D., C. Mustika., & Sarmintohadi. (2014). Pedoman Identifikasi dan Pengenalan Pari Manta. Direktorat Konservasi Kawasan dan Jenis Ikan. Jakarta.

Sadili, D., Dharmadi, Fahmi, Sarmintohadi, et al. (2015). Rencana Aksi Nasional (RAN) Konservasi Pari Manta (Manta spp.) Periode ke-1 : 2016 – 2020. Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut. Jakarta

Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut   30 Juni 2020   Dilihat : 3135



Artikel Terkait: