Indonesia   |   English  
Saran Dan Pengaduan

DIREKTORAT JENDERAL PENGELOLAAN RUANG LAUT
Kilas Berita  
Pengakuan dan Perlindungan Masyrakat Hukum Adat: Sasi Laut di Nuwewang Pulau Leti, Maluku

Pemerintah Indonesia mempunyai basis hukum yang kuat untuk merealisasikan perlindungan sosial terhadap masyarakat hukum adat. Pasal 18 B UUD 1945 menyatakan negara mengakui dan menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat serta hak-hak tradisonalnya sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang diatur dalam undang-undang. Frase diatur dalam undang-undang menunjukkan bahwa wujud pengakuan dan penghormatan terhadap masyarakat hukum adat dan hak-hak tradisionalnya itu dilakukan bukan dengan undang-undang baru. Artinya, pengaturannya tidak mensyaratkan adanya satu undang-undang khusus tentang pengakuan tersebut, melainkan dilakukan menurut undang-undang yang sudah ada. Hampir semua undang-undang yang mengatur tanah dan kekayaan alam telah mengatur pengakuan dan penghormatan terhadap keberadaan dan hak-hak masyarakat hukum adat.

 

Berdasarkan UU No 1 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 Tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir Dan Pulau-Pulau Kecil Pasal 1 Angka (33) menyatakan Masyarakat Hukum Adat adalah Sekelompok orang yang secara turun-temurun bermukim di wilayah geografis tertentu di Negara Kesatuan Republik Indonesia karena adanya ikatan pada asal usul leluhur, hubungan yang kuat dengan tanah, wilayah, sumber daya alam, memiliki pranata pemerintahan adat, dan tatanan hukum adat di wilayah adatnya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Selain itu, sudah ada beberapa regulasi terkait Masyarakat Hukum Adat, yaitu Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 52 Tahun 2014 tentang Pedoman Pengakuan dan Perlindungan Masyarakat Hukum Adat, Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No. 8 tahun 2018 tentang Tata Cara Penetapan Wilayah Kelola Masyarakat Hukum Adat dalam Pemanfaatan Ruang di Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil serta Peraturan Direktur Jenderal Pengelolaan Ruang Laut No 14 tentang 2018 tentang Petunjuk Teknis Tata Cara Penetapan Wilayah Kelola Masyarakat Hukum Adat.

 

Desa Nuwewang

 

Secara administratif Desa Nuwewang berada di Kecamatan Pulau Letti di wilayah Kabupaten Maluku Barat Daya, Provinsi Maluku dengan luas 55,26 km². Kecamatan Letti berada di Pulau Letti yang merupakan pulau terdepan Indonesia (berdasakan Kep Presiden No 6 tahun 2017) yang terletak di Laut Timor dan berbatasan dengan negara Timor Leste. Kecamatan Letti Pulau Letti berada di sebelah Barat gugus pulau Letti-Moa-Lakor dengan posisi astronomis pada 08°09’35” – 08°14’41” Lintang Selatan dan 127°36’30” – 127°45’10” Bujur Timur.

 

 

Peta Lokasi Desa Nuwewang Kecamatan Pulau Leti

 

Masyarakat Adat Nuwewang

 

Ada beberapa versi tentang kesejarahan asal-muasal masyarakat Letti. Dari tuturan lisan para tokoh masyarakat, Nuwewang sudah ada sebelum kedatangan bangsa Barat di kepulauan Maluku. Moyang Nuwewang bernama Lirlewna Paluewna yang bisa disingkat Lira Pau, yang berasal dari Malay (melalui jalur selatan, Timor). Perahu (hpuoku atau slupe) yang ditumpangi adalah seekor ular. Dari Malayu berlayar ke arah timur memiliki tujuan mencari lokasi baru bertempat tinggal. Saat akan melanjukan perjalanan, ombak di lautan masih tinggi dan berhenti di sisi pantai yang ombaknya lebih rendah. Di pantai tempat singgah ini rupanya telah ada seorang yang telah berlabuh, yang bernama Tuwilaihera Kolpitaman, di bagian barat pantai pulau ini. Konon, Tuwilaihera Kolpitaman datang dari arah timur. Kedua orang tersebut kemudian hidup berdampingan dengan damai. Dalam perjalanan waktu hidup damai dua pendahulu di pulau ini, datang kemudian seorang dari Seram bernama Para-Para, yang dalam perjalanannya singgah di Tounwawan, Wakarleli (P. Moa) baru kemudian datang ke Pulau Letti. Dengan demikian, Nia Warat dihuni tiga pendatang, dan mereka bertiga hidup berdampingan dengan damai. Ketiganya datang ketika ketinggian laut masih tinggi, menutupi sebagian hamparan dan pantai di Pulau Letti. Dalam waktu berselang, ketinggian laut surut dan mereka baru menyadari bahwa mereka tinggal di sebuah bukit. Hingga waktu cukup lama mereka amati, hamparan di bawah bukit terlihat aman untuk ditinggali dan kemudian mereka berpindah ke dekat pantai. Perpindahan tempat tinggal ini hanya diikuti dua pendahulu penghuni pulau ini, Lira para dan Tuwilaihera Kolpitaman. Sementara Para-para disepakati memiliki tanggungjawab menjaga bagian selatan pulau ini. Lokasi pindahnya hunian ini tepatnya di sekitar kantor kepala desa, yang dikenal selanjutnya dengan nama Nia Wewar, yang artinya ular yang melingkar. Nama Nia Wewar ini pada saat kedatangan bangsa barat berganti menjadi Nuwewang.

 

Sistem kekerabatan dan bermasyarakat sebagai warisan leluhur negeri Nuwewang dikembangkan oleh semua keluarga melalui Luwu-Luwu, Aane-Aane dan Lete atau negeri. Leww atau Luwu adalah gabungan dari beberapa keluarga atau mata rumah. Aane atau Soa adalah gabungan dari beberapa Luwu. Luwu dipimpin oleh seorang Lalauwne atau Saniri yang diangkat dari mata rumah tertentu. Soa dipimpin oleh kepala Soa yang di angkat oleh warga soa. Lete di pimpin oleh Orang Kay atau Raja yang diangkat secara marna. Tugas dan wewenang Lalauwne atau Kepala Soa dan Orang Kay atau Raja berlangsung secara kekerabatan dan adatis. Terdapat enam soa yang diketahui, keenam Soa mempunyai mata-mata rumah tersendiri. Keenam Soa-soa itu adalah Soa Ruwnyone, Soa worsupun, Soa Polwunu, Soa wetwai  - Kapoit, Soa Upsian Lyore (Laut) dan Soa Upsian Riae (Darat) (H.N.Christiaan. 2011)

 

Aset Adat

 

Beberapa sumber daya, terkait aset adat yang masih ada, baik benda maupun tak benda. Warisan budaya berbentuk benda antara lain: Tambahkan penjelasan singkat terkait benda tersebut

  • Rumah pertama di Gunung Watar yang terdapat pula mezbah dan kendi
  • Rumah tua Soa masing-masing Soa memiliki rumah tua yang dianggap sebagai symbol dari alur keluarga besar (mata rumah utama) sebagai penetu sistem kekerabatan
  • Batu Mezbah; Terdapat tiga mezbah di desa Nuwewang. Dua diantaranya di sebelahnya terdapat pohon ara. Tumpukan batu yang disusun dengan ukuran berbeda ini merupakan salahatu tempat berlangsungnya kegiatan-kegiatan adat. Salah satu mezbah, yang posisinya di dekat kantor balai desa, juga difungsikan sebagai tempat pengukuhan kepala desa/raja terpilih.
  • Emas keluarga; Hampir semua keluarga memiliki emas ini, yang biasanya digunakan pada acara adat. Bentuk emas seperti bulan, sehingga disebut emas bulan
  • Dewala merupakan struktur tumpukan batu yang mengelilingi desa
  • Pohon Ara, pohon khas Timur Tengah yang telah tumbuh di pulau Letti selama berabad-abad.

 

Warisan Budaya

 

  • Upacara pernikahan secara adat; upacara ini memiliki unsur paling sakral dalam pranata adat Letti.
  • Upacara pemakaman; proses saat ini telah beralih dari Soa kepada Gereja, namun nilai tradisi tidak ditinggalkan, upacara ritual pemakaman dilakukan di rumah keluarga dengan dihadiri seluruh anggota keluarga, mata rumah dan Soa, kemudian dibawa ke balai desa, dibacakan kidung, dan dimakamkan
  • Ritual adat tutup dan buka Sasi; Pelaksanaan sasi dilakukan dengan beberapa ritual adat yang dipimpin oleh para pemuka adat yang berasal dari soa tertentu dan dilakukan oleh gereja. Setiap desa di Pulau Letti memiliki ritual sasi yang hampir sama.
  • Tari Walkey dilakukan untuk menyambut masa panen baik
  • Tari Kerpopo merupakan warisan tradisi sebagai tarian persiapan perang.

 

 

Alat Musik Tifa

 

  • Pembuatan Sagero; yang merupakan minuman tradisional hasil air suling yang difermentasi yang disadap dari pohon enau atau aren atau pohon rumpun kelapa
  • Makanan tradisional; disebut dendeng Kerbau dan juga Jagung Hasa (makanan yang terbuat dari butiran jagung dicampur irisan ketela, kacang merah dan santan)
  • Tenun khas pulau Letti yang menghasilkan kain khas pulau Letti; Pengetahuan tradisional pembuatan kain tenun letti memiliki kharakter tersendiri, baik pola maupun penggunaan warnanya

 

 

Masyarakat sedang Menenun

 

Struktur Kelembagaan Adat

 

 

Aturan dan Sanksi

 

Aturan adat yang berlaku belum ada kodifikasinya. Dengan melihat struktur kelembagaan adat dapat diketahui kewenangan tertinggi aturan adat dipegang oleh Raja. Dengan demikian, aturan yang berlaku maka yang menetapkan adalah raja. Meski demikian, bila ada permasalahan yang menyangkut bersama, raja akan meminta pertimbangan dengan dewan adat. Aturan adat ini menyangkut segala aspek kehidupan masyarakat, dan seiring masuknya pengaruh gereja dan hukum nasional, aturan adat menyesuaikan dan menjadi bagian penting dalam pengaturan kemasyarakatan.  Khusus aturan adat pengelolaan sumberdaya alam, baik darat maupun laut, dikenal dengan sebutan sasi (hwere)

 

Sasi laut diberlakukan dengan beberapa aturan adat yang mengatur tentang ritual adat, aturan pemanfaatan, serta sanksi yang diberlakukan kepada para pelanggar sasi yang melanggar aturan sasi laut pada saat hukum adat sasi laut diberlakukan diseluruh petuanan sasi laut. Praktiknya Sasi laut dilakukan dengan membuka dan menutup wilayah adat, pada perairan sepanjang pantai dengan jarak dari pantai ke-arah alut lepas sejauh kemampuan kayuhan perahu tradisional. Pada waktu-waktu yang telah ditetapkan menutup wilayah laut ini sebagai masa biota berkembang dan tidak boleh ditangkap, dan dibuka sebagai masa biota boleh ditangkap. Menutup bisa diartikan masa menunggu, menabung. Menutup bisa diartikan masa mengambil tabungan.  Pada masa tutup, siapapun yang mengambil biota yang dilarang maka akan dikenakan sangsi. Di masa ini warga saling menjaga dan mengawasi. Pada masa buka, warga desa diperbolehkan mengambil dalam waktu yang telah ditetapkan. Di sini kecakapan dan tenaga akan mempengaruhi jumlah tangkapan. Dengan menyelam tanpa menggunakan alat. Marthin seorang nelayan mengungkapkan, pada sasi meti ia mendapatkan hasil tangkapan sebanyak 42 kg. Berbeda dengan Yoel, yang berusia sekitar 65 tahun hanya mendapatkan lola sebanyak 11 kg (wawancara dengan Marthin dan Yoel, nelayan Nuwewang,)

 

 

Wilayah Kelola Adat

 

 

Wilayah kelola Desa Nuwewang (Sumber KKP 2019)

 

REKOMENDASI

 

Guna menjaga praktik adat yang secara filosofis tidak jauh dengan praktik konservasi, maka keberadaan hukum adat, lembaga adat Nuwewang Letti perlu dilindungi keberadaanya. Bukankah tantangan jaman yang mengglobal tidak bisa dihadapi oleh masyarakat hukum adat Nuwewang Letti. Bentuk konkritnya adalah pengakuan dan perlindungan masyarakat hukum adat. Selain itu, perlu ada upaya-upaya strategis, progresif dan produktif dari semua pihak untuk keberlangsungan kehidupan sosial masyarakat hukum adat Nuwewang ini.

 

Untuk menjaga kelestarian Lembaga Adat Nuwewang Letti dan fungsinya ada dua langkah yang bisa diambil. Pertama, terkait langsung dengan lembaga adat bersangkutan, dan kedua, memberi jalan penciptaan mata pencaharian alternatif pada penduduk. Berikut langkah-langkah yang direkomendasikan:

  • Penyelenggaraan ritual, upacara dan kegiatan adat secara rutin dan bermakna. Ritual pesta adat dan ritual syukuran perlu diselenggarakan lagi secara rutin, sesuai kalender masyarakat hukum adat. Pesta adat dan ritual syukuran dibuat seperti moyang mereka dengan mengadaptasi perubahan-perubahan tanpa mengurangi makna dan nilai adat;
  • Penyelenggaraan Kegiatan adat secara independen. Untuk menghindari intervensi atau oportunitas pihak luar untuk dipergunakan sebagai legitimasi kepentingan baik ploitik, ekonomi maupun kepentingan di luar adat dan di luar kentingan masyarakat Nuwewang;
  • Modernisasi armada dan sarana tangkap nelayan, nelayan di wilayah Nuwewang sebagian besar adalah nelayan tradisional.
  • Instrumentasi penanganan pasca tangkap, pengolahan hasil tangkap dan pemasaran hasil tangkap. Sebagai derivasi kegiatan ekonomis tangkap untuk rumah tangga yang terlibat dalam akitifitas perikanan tangkap sebagai pendukung dan sulih kegiatan ekonomis.
  • Intensifikasi dan lahan layak tanam di wilayah daratan, dilakukan agar dapat layak ditanami tanaman produktif sesuai dengan klasifikasi tanaman produktif yang layak konsumsi dan layak pemasaran.
  • Penetapan situs-situs diduga sebagai situs dan/benda cagar budaya Nuwewang Letti agar tidak hilang/rusak/dijual/dipindah/diambil oleh otoritas kebudayaan di registrasi nasional pada Balai Pelestarian Cagar Budaya setempat, atau sesuai dengan jenjangnya hierarki.

 

(Direktorat P4K)

Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut   08 April 2020   Dilihat : 35218



Artikel Terkait: