Indonesia   |   English  
Saran Dan Pengaduan

DIREKTORAT JENDERAL PENGELOLAAN RUANG LAUT
Kilas Berita  
Tradisi Masyarakat Hukum Adat Pulau Selaru, Maluku

Pulau Selaru merupakan pulau terluar Indonesia yang terletak di Laut Timor dan berbatasan langsung dengan Australia. Secara administratif, Pulau Selaru merupakan bagian dari wilayah Pemerintah Kabupaten Maluku Tenggara Barat, Provinsi Maluku.

 

Masyarakat Pulau Selaru memiliki budaya dan tradisi yang sangat beragam, mulai dari tarian adat, keterampilan tenun kain, budaya maritim dalam rancang-bangun kapal kayu, tradisi sasi laut dan sasi darat dalam pengelolaan sumber daya laut dan pertanian/perkebunan, serta tradisi-tradisi sosial lainnya seperti tradisi penerimaan tamu di desa. Tradisi dan budaya di atas hampir dapat dijumpai di seluruh desa yang ada di Pulau Selaru.

 

Tradisi Kekerabatan Semangat Duan-Lolat

Adat duan-lolat menjadi semangat kekerabatan dalam relasi kekeluargaan dan sosial dalam masyarakat Kecamatan Selaru, khususnya Desa Adaut. Dalam relasi adat ini, kedudukan seorang paman menjadi kunci utama penyelesaian masalah serta konflik yang terjadi dalam suatu marga atau keluarga kecil. Seorang paman (duan) menjadi pelindung atas suatu masalah atau konflik pribadi/sosial yang menimpa seorang dulat (keponakan). Demikian halnya, setinggi apa pun kedudukan sosial maupun jabatan struktural dalam birokrasi seorang lolat, ia tetap harus tunduk dan hormat kepada seorang duan.

 

Tradisi Tikam Tanah

Upacara adat tikam tanah merupakan ritual adat yang wajib dilakukan kepada orang luar yang masuk ke Pulau Selaru untuk kepentingan apa pun. Dalam kepercayaan masyarakat adat Pulau Selaru, seluruh wilayah petuanan desa, terutama beberapa kawasan yang dikeramatkan oleh masyarakat, masih dihuni oleh leluhur-leluhur mereka. Karena itu, masyarakat dari luar desa harus diberi ritual perkenalan yang disebut dengan ritual adat tikam tanah sebagai pemberitahuan kepada leluhur bahwa tamu-tamu desa tersebut tidak boleh diganggu. Ritual dimaksud menandai bahwa tamu-tamu desa telah dianggap sebagai bagian dari warga desa tersebut.

 

 

Tradisi Duduk Adat

Tradisi duduk adat merupakan filosofi dasar bahwa segala masalah dan konflik yang dihadapi oleh warga bisa diselesaikan secara adat. Jika ada masalah atau konflik di tengah masyarakat, mekanisme penyelesaian masalah di Desa Adaut dilakukan dengan cara duduk adat. Pihak-pihak yang memiliki masalah atau terlibat konflik akan dipanggil untuk mencari penyelesaian atas masalah atau konflik yang dihadapi. Prosesi duduk adat bergantung pada tingkat masalah atau konflik yang dihadapi. Semakin besar masalah/ konflik yang dihadapi, makin luas pula pihak-pihak yang terlibat dalam prosesi duduk adat. Proses ini biasa dilakukan jika terjadi masalah di dalam internal desa seperti masalah kawin lari, perkelahian antarwarga, konflik rumah tangga, dan lainnya.

 

Semangat Ngri Mase

Semangat ngri mase merupakan semangat masyarakat desa untuk selalu meletakkan keamanan dan perdamaian warga sebagai dasar pokok dalam hubungan antarmasyarakat. Ngri mase berarti segala masalah bisa dibicarakan dan diselesaikan dengan penuh rasa aman, tertib, dan nyaman. Pepatah ini menjadi simbol musyawarah desa yang dituliskan pada Balai Musyawarah Warga Desa Adaut.

 

Ritual Adat Tutup dan Buka Sasi Darat dan Sasi Laut

Kearifan lokal sasi di Pulau Selaru, baik sasi darat maupun sasi laut, sudah menjadi budaya yang melekat dalam kehidupan masyarakat. Sasi laut dan sasi darat dilaksanakan dengan beberapa ritual adat yang dipimpin oleh para pemuka adat yang berasal dari soa tertentu. Setiap desa di Pulau Selaru memiliki ritual sasi yang hampir sama.

 

 

Sumber : Satria dkk. (2017). Laut dan Masyarakat Adat. Jakarta: Kompas Media Nusantara

Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut   08 April 2020   Dilihat : 3400



Artikel Terkait: