Indonesia   |   English  
Saran Dan Pengaduan

DIREKTORAT JENDERAL PENGELOLAAN RUANG LAUT
Kilas Berita  
Mitos-Mitos Tsunami

Oleh : Subandono Diposaptono

 

Mengapa jumlah korban tsunami Jepang 20 relatif kecil? Salah satu faktornya adalah karena masyarakat Jepang memiliki pengetahuan tsunami yang sangat baik. Hal ini berbeda dengan di Indonesia, Thailand, dan Sri Lanka yang minim pengetahuan sehingga menelan lebih banyak korban.

 

Pengetahuan yang baik tentang tsunami akan membantu kita selamat dari amukan si gelombang pembunuh. Lalu, apa mitos-mitos yang selama ini berkembang di masyarakat yang membuat mereka menjadi korban, termasuk juga di Jepang pada tempo dulu?

 

Mitos pertama adalah tsunami terjadi akibat gempa yang kuat, sebagaimana anggapan masyarakat Mentawai. Pengetahuan ini diperoleh dari pengalaman gempa Bengkulu (2007). Gempa tersebut terasa kuat hingga ke Mentawai, namun tsunami tak terjadi di Mentawai.

 

Memori inilah yang melekat di benak mereka ketika 25 Oktober 200 Mentawai digoyang gempa dan getarannya lemah. Mereka pun merasa tenang-tenang saja dan tidak melakukan evakuasi. Sekitar 4 menit setelah gempa, tsunami menyapu mereka yang tak sigap. Fakta menunjukkan, hampir 0 persen tsunami yang terjadi di dunia diakibatkan oleh gempa bumi di laut yang getaran gempanya terasa lemah.

 

Mitos kedua adalah tsunami didahului laut surut secara mendadak. Ketika terjadi tsunami 2004, sebagian masyarakat Sri Lanka memiliki mitos bahwa tsunami akan didahului laut surut secara mendadak. Ternyata mereka keliru, tsunami langsung menyapu kawasan pesisir, tidak didahului oleh laut surut  mendadak.

 

Akibatnya, banyak korban berjatuhan. Fakta menunjukkan, hampir 10 persen tsunami di dunia tidak didahului laut surut mendadak. Hal ini juga terjadi di Papua akibat tsunami Jepang 2011.

 

Mitos ketiga adalah tsunami tidak terjadi ketika getaran gempanya kuat, di musim dingin, dan langit yang cerah. Pada 15 Juni 1896 saat terjadi gempa, langit di Sanriku (Jepang) berawan tebal dengan cuaca sangat panas dan lembab. Getaran gempa terasa sangat lemah. Setelah itu, Sanriku disapu tsunami dahsyat setinggi 38 meter.

 

Berdasarkan peristiwa tersebut, masyarakat lalu membuat persepsi sendiri: “Jika getaran gempanya lemah maka tsunami yang terjadi besar, dan tsunami terjadi pada musim panas ketika udara lembab dan hujan.” Ketika pengetahuan ini diceritakan turun-temurun maka berkembanglah mitos baru yang yang keliru: “Apabila getaran gempanya kuat maka tsunami yang terjadi lemah (kecil), tsunami tidak terjadi pada musim dingin, dan tsunami tidak terjadi di hari cerah.”

 

Kemudian pada 3 Maret 933, Sanriku dihentak gempa kuat pada musim dingin dengan cuaca cerah. Apa yang terjadi? Masyarakat yang menganut mitos keliru tadi tidak melakukan evakuasi. Mereka yakin, tsunami tidak terjadi ketika getaran gempanya kuat, di musim dingin, dan langit yang cerah. Akibatnya korban pun berjatuhan.

 

Padahal tsunami dapat terjadi pada gempa yang lemah atau kuat dengan berbagai kondisi cuaca apa pun. Syarat terjadinya tsunami adalah gempa di laut berkekuatan lebih dari 6,5 SR, pusat gempanya kurang dari 60 km, dan mengalami deformasi vertikal dasar laut yang cukup besar.

 

Mitos keempat, gelombang pertama tsunami merupakan gelombang terbesar.  Akibat mitos keliru ini seorang warga Holtekamp Jayapura menjadi korban tsunami Jepang 2011. Setelah gelombang pertama setinggi satu meter yang menghantam Holtekamp pukul 21.15 WIT berlalu, dia bermaksud kembali ke rumah.

 

Tetapi apa daya, ia dihantam gelombang kedua setinggi 2-3 meter yang datang pada pukul 21.50 WIT. Fakta menunjukkan, tsunami terdiri dari 1- 5 gelombang dengan gelombang ke-2 atau ke-3 yang terbesar.

 

Sumber: Diposaptono, Subandono. (2011). Mitigasi Bencana dan Adaptasi Perubahan Iklim. Jakarta: Kementerian Kelautan dan Perikanan, Ditjen Kelautan, Pesisir, dan Pulau-Pulau Kecil.

Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut   07 April 2020   Dilihat : 897



Artikel Terkait: