Indonesia   |   English  
Saran Dan Pengaduan

DIREKTORAT JENDERAL PENGELOLAAN RUANG LAUT
Kilas Berita  
Mitigasi dan Adaptasi Kunci Menghadapi Perubahan Iklim

Oleh : Subandono Diposaptono, Budiman, dan Firdaus Agung

 

Tidak seperti halnya bencana tsunami yang dampaknya kadangkadang bersifat katastropis, namun sifatnya hanya sementara, perubahan iklim dampaknya sangat lamban dan kronis tapi bersifat pasti dan permanen.

 

Sehingga sulit membayangkan seperti apa masa depan bumi yang kita huni ini. Apalagi kalau tidak ada upaya yang sungguh-sungguh untuk mengerem laju perubahan iklim, dunia berada di ambang ketidakpastian.

 

Begitu juga dengan Indonesia. Negara yang memiliki belasan ribu pulau-pulau kecil ini sangat menderita akibat perubahan iklim. Betapa tidak, konsekuensi dari dampak perubahan iklim itu sangatlah buruk. Suhu udara rata-rata di muka bumi mengalami kenaikan drastis. Lebih dari itu, paras muka air laut juga bakal naik.

 

Luapan air laut ini bakal menggenangi dataran rendah yang berada di kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil. Fenomena ini tentu sangat merugikan pulau-pulau kecil yang memiliki daratan rendah. Bisa jadi, kenaikan tersebut menenggelamkan pulau-pulau kecil.

 

Kekhawatiran itulah yang kini melanda pemerintah Maladewa. Maklum, negara yang hanya terdiri pulau-pulau kecil itu memiliki dataran rendah. Jika terjadi kenaikan paras muka air laut, bisa jadi negara yang hanya mengandalkan devisa dari sektor pariwisata dan ikan tuna itu bakal tak punya lagi pulau.

 

Pemerintah Maladewa menyadari hal itu. Karena itulah, awal Desember 2008 lalu, secara resmi pemerintahnya ingin membeli pulau di luar kawasan negara itu sebagai antisipasi kelak jika pulau-pulau mereka tenggelam. Pulau yang akan dibeli itu nantinya dipakai sebagai tempat evakuasi oleh para penduduknya yang berjumlah beberapa ribu orang.

 

Indonesia memang tidak serupa dengan Maladewa. Namun melihat posisi secara geografis, kerugian yang diderita Indonesia jauh lebih besar. Bayangkan, hampir semua kota-kota besar di Indonesia berada di kawasan pesisir.

 

Kenaikan paras muka air laut akan berpengaruh terhadap perekonomian di banyak kota yang berada di kawasan pantai seperti Jakarta, Semarang, Surabaya, Padang, dan Makassar. Belum sirna dari ingatan kita ketika Jakarta dilanda banjir rob pada musim penghujan 2007 lalu. Aktivitas di Pelabuhan Perikanan Samudra Muara Baru lumpuh total dalam beberapa hari karena akses jalannya tergenang air. Padahal, pelabuhan itu merupakan urat nadi bagi kegiatan ekspor dan impor perikanan.

 

Begitu juga dengan akses menuju Bandara Internasional SoekarnoHatta Jakarta sempat lumpuh total. Jadwal penerbangan sempat dihentikan. Maklum, akses jalan tol yang menghubungkan Bandara tersebut tergenang banjir.

 

Itu belum seberapa. Sebagai gambaran umum, saat ini Indonesia memiliki sekitar 400 ribu ha lahan budidaya tambak dan berbagai infrastruktur perikanan. Ketika lahan tersebut tergenang akibat kenaikan paras muka air laut, maka produksinya bakal melorot tajam. Padahal, udang merupakan komoditas ekspor strategis bagi Indonesia.

 

Selain itu, dampak perubahan iklim juga akan memperburuk kondisi sosial ekonomi di sekitar 10.000 desa pesisir. Apalagi di situ bermukim sekitar 16 juta orang dengan indeks kemiskinan 32 %. Seberapa parah kerugiannya, masih memerlukan kajian yang mendalam.

 

Melihat kecenderungan semacam itu, ke depan sangatlah berat membangun kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil. Isu perubahan iklim global dengan berbagai dampaknya siap mengancam investasi, sarana, dan prasarana yang telah dan akan dibangun. Karena itu, tak ada cara lain, saatnyalah bagi kita secara bersama-sama mengantisipasi perubahan iklim.

 

Salah satu kunci paling mujarab dan terbukti efektif adalah dengan melakukan mitigasi dan adaptasi. Jadikanlah mitigasi dan adaptasi bagian dari keseharian kita untuk mendorong iklim perubahan yang lebih baik dan mengerem perubahan iklim.

 

Bukan apa-apa, mitigasi dan adaptasi berguna untuk menekan sekecil mungkin dampak negatif dari perubahan iklim. Dengan demikian, analisis kerentanan dan risiko terhadap perubahan iklim harus menjadi salah satu aspek penting bagi pengelolaan kawasan pesisir dan pulaupulau kecil secara terpadu. 

 

Mendorong iklim perubahan bermakna mengubah paradigma dari  fatalistik reaktif menjadi terencana proaktif melalui pengurangan risiko akibat perubahan iklim. Sedangkan mengerem perubahan iklim bermakna mengurangi laju emisi gas rumah kaca yang menimbulkan pemanasan global.

 

Sumber : Diposaptono, S., Budiman. dan Firdaus Agung. (2009). Menyiasati Perubahan Ilim Di Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. Bogor: Sain Perss.

Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut   07 April 2020   Dilihat : 1915



Artikel Terkait: