Indonesia   |   English  
Saran Dan Pengaduan

DIREKTORAT JENDERAL PENGELOLAAN RUANG LAUT
Kilas Berita  
Dampak Covid -19 Terhadap Aktifitas Wisata Hiu Paus Botubarani-Gorontalo

Oleh: Fahri

Editor : Moh. Yasir  & Kris Handoko

 

Botubarani (31/3). Sudah dua minggu belakangan ini geliat wisata hiu paus Botubarani sepi pengunjung. Musababnya bukan karena ketidakmunculan hiu paus di zona interaksi seperti biasanya, tapi karena efek pandemi virus Corona yang membikin suasana kekinian tak lagi ramah berwisata. Orang-orang seperti hilang gairah, kurang selera, tumpul semangat dan bahkan mati minat untuk melancong ketempat-tempat wisata. Mereka lebih sibuk memperkokoh pengamanan diri di rumah masing-masing lewat seruan social distancing ataupun physical distancing.

IMG-20200401-WA0001

 

Virus Corona benar-benar membuat aktivitas wisata hiu Paus Botubarani jadi merana. Coronavirus disease 2019 atau biasa disingkat Covid-19 ini ibarat ombak tertampar angin. Tak terlihat oleh mata tapi mampu memukul ombak dengan telak hingga pecah ke tepian pantai. Virus ini tidak hanya mampu menyerang dan melemahkan tubuh manusia, tapi juga mampu melemahkan sendi-sendi penggerak wisata di Botubarani. Sebelum Covid-19 mewabah, ratusan wisatawan berkunjung dari berbagai daerah setiap harinya dan rela mengantri untuk dapat melihat Hiu Paus dari dekat. 

 

Selama bulan Januari hingga Maret 2020, tercatat jumlah wisatawan yang berkunjung ke Botubarani sejumlah 2.690 orang , dari beberapa negara seperti Francis , Jerman, Amerika, Australia, dan China, dengan jumlah sekitar 700 orang, sedangkan wisatawan domestik jumlahnya sekitar 1.990 org. Namun sejak dua minggu belakangan ini, kegiatan wisata Hiu Paus Botubarani nyaris tanpa pengunjung.

 

Bagi masyarakat Botubarani, kehadiran Hiu Paus adalah berkah tak terbilang. Semakin banyak wisatawan yang berkunjung, semakin besar pula daya dan upaya masyarakat sekitar meraup manfaat ekonomi dari tampias jasa wisata baik secara langsung maupun tak langsung.

 

Dari sisi ekonomi, jelas peluang ini baik untuk kepulan asap dapur mereka. Namun dari sisi konservasi, kondisi ini kurang menguntungkan untuk hiu paus karena akan berimbas pada pola pergerakannya akibat pemberian pakan teratur. Dari bergerak aktif di perairan bebas, menjadi terpusat di satu tempat yang kecil dengan jumlah banyak dan dalam waktu yang cukup lama. Dan tentu saja, Hiu Paus akan menjadi jinak, dan cenderung diam.

 

Sejak dikeluarkannya Surat Edaran Bupati Bone Bolango tentang pencegahan corona virus (COVID-19) di objek wisata yang ada di wilayah Kabupaten Bone Bolango, nyaris tak ada lagi wisatawan yang berkunjung. Salah satu poin penting pada surat edaran tersebut adalah seruan penutupan sementara aktifitas objek wisata yang ada di wilayah Kabupaten Bone Bolango mulai 24 Maret - 6 April 2020. Hal ini tentunya berakibat langsung pada perekonomian masyarakat pesisir Botubarani yang pendapatan hariannya sudah bergantung pada kehadiran para wisatawan. “Situasi seperti ini sangat tidak baik bagi masyarakat pesisir Botubarani namun tetap harus kita patuhi apa yang sudah di tetapkan oleh pemerintah” kata Olis Latif, ketua kelompok Sadar Wisata Orca Botubarani.

 

Lalu, rezeki macam apa yang bisa diharap dari giat Wisata tanpa pengunjung? Tentu saja tidak ada yang bisa diharap untuk sementara waktu. Mau tidak mau Masyarakat Botubarani yang sudah bergantung dari hasil jasa wisata, harus kembali ke mata pancaharian semula sebagai nelayan agar tetap bisa menafkahi keluarganya. Adapun kegiatan monitoring oleh enumerator BPSPL Makassar seperti mengumpulkan data kemunculan hiu paus, pengambilan foto ID, pengukuran panjang tubuh Hiu paus, pengukuran kualitas air di perairan Botubarani, akan terus berlajut. Hal ini dianggap penting mengingat ketersediaan data sangat dibutuhkan dalam menyusun rencana pengelolaan wisata Hiu Paus di Botubarani ke depannya.

 

Adapun jumlah hiu paus yang muncul di Botubarani bulan Januari 2020 sebanyak 6 individu selama 18 hari, Februari 2020, muncul 9 individu, selama 28 hari, Maret 2020 muncul 8 individu selama 28 hari. Dengan total foto ID yang sudah terkumpul sejak 2016 hingga saat ini 40 foto ID, dengan jenis kelamin semuanya jantan dan panjang antara 3,5 - 8 meter.

 

 Namun demikian adanya, mewabahnya Covid-19 ini harus bisa dilihat dengan cara pandang optimis dan cara berpikir positif. Mungkin sudah waktunya Hiu Paus diberi kesempatan beristirahat bebas sementara waktu, agar bisa berenang kian kemari tanpa bising wisatawan layaknya kondisi alaminya, sembari menyiapkan pengelolaan wisata yang lebih baik pasca wabah Covid-19. 

 

Termasuk didalamnya menggalakkan edukasi kepada seluruh stakeholders terkait. Mengingat Hiu Paus ini berstatus perlindungan penuh, maka strategi pengelolaannya harus mengacu pada kaidah konservasi tanpa mengesampingkan asas manfaat dari sisi ekonomi. Semoga kualitas pengelolaan Wisata Hiu Paus Botubarani di masa mendatang akan jauh lebih maju dengan sisa-sisa harapan untuk pulih kembali seperti sedia kala, andai kata memang ada bersisa. Adapun tugas kita yang terpenting saat ini adalah berjuang melawan Covid-19 dan memastikan bahwa hari esok akan lebih baik lagi. (BPSPL Makassar)

Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut   02 April 2020   Dilihat : 887



Artikel Terkait: