Indonesia   |   English  
Saran Dan Pengaduan

DIREKTORAT JENDERAL PENGELOLAAN RUANG LAUT
Kilas Berita  
Manfaat Biologi, Ekonomi, Sosial Perikanan Karang di Kawasan Konservasi Perairan Nasional Kepulauan Anambas

Oleh: Leny Dwihastuty, Supriyadi, Ummi Muawannah, Roni, dan Yogi Yanuar

 

Isu kebijakan pembentukan kawasan konservasi masih menimbulkan pro dan kontra  di kalangan masyarakat pesisir, karena masih diragukannya dampak ekonomi bagi mereka, terutama nelayan. Sebagian besar nelayan beranggapan bahwa penetapan KKP akan berdampak bagi penurunan kesejahteraan mereka, salah satu sebab adalah biaya melaut yang cukup tinggi karena jarak memancing yang jauh karena ditutupnya sebagian dari kawasan penangkapan ikan mereka. Selain itu, masih belum banyaknya penelitian mengenai dampak ekonomi KKP ini juga menjadi masalah yang cukup menjadi ganjalan bagi pemerintah untuk menerapkan kebijakan ini.

 

Untuk itu diperlukan Kajian Analisis Manfaat Biologi, Ekonomi, Sosial Perikanan Karang di Kawasan Konservasi Perairan, khususnya di Kawasan yang dikelola oleh pemerintah pusat (KKP). Salah satunya Kawasan Konservasi yang perlu dilakukan  kajian adalah Taman Wisata Perairan  Kepulauan Anambas.

 

TWP Anambas merupakan kawasan konservasi yang terletak di Kepulauan Riau dengan luas kawasan 1,262,686.20 ha. Kawasan ini telah ditetapkan oleh Menteri Kelautan dan Perikanan pada tahun 2014 melalui Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No 37 Tahun 2014. TWP Kepulauan Anambas merupakan habitat penting ekosistem terumbu karang dengan luasan teridentifikasi 3.705,84 hektar, yang terdiri dari jenis terumbu karang tepi (fringing reef),  terumbu karang penghalang (barrier reef), dan terumbu karang cincin (atoll) yang tumbuh mengelilingi pulau-pulau kecil yang terdapat di dalam kawasan. Hasil identifikasi dan inventarisasi yang dilakukan LKKPN Pekanbaru di 116 titik pengamatan sepanjang tahun 2011-2013 menunjukkan tutupan tutupan terumbu karang hidup di dalam kawasan berkisar antara 6,67% hingga 81%, dengan rata-rata tutupan karang 47,84% atau termasuk kategori sedang (Gomez dan Yap, 1988).

 

Dari sisi keanekaragaman hayati laut, TWP Kepulauan Anambas memiliki ekosistem lengkap dan sumberdaya hayati laut tinggi yang perlu dilindungi dan dikelola. Kawasan ini mempunyai potensi ikan Napoleon (Cheilinus undulatus), dan merupakan habitat penting bagi Penyu Hijau (Chelonia mydas) dan Penyu Sisik (Eretmochelys imbricata) yang ditemukan bertelur di pantai Pulau Durai dan Pulau Pahat. Kedua pulau tersebut diduga merupakan habitat penyu sisik yang cukup signifikan di Indonesia bagian barat. Selain kedua pulau tersebut, habitat dan tempat peneluran penyu lainnya di TWP Anambas adalah di Pulau Mangkai dan Pulau Keramut.

 

Dari kajian analisis yang dilakukan, didapatkan beberapa temuan pokok yang dapat menggambarkan besaran manfaat yang dihasilkan dari suatu kawasan konservasi perairan dari sisi biologi, ekonomi, dan sosial. Manfaat biologi dihitung dari biomasa sumberdaya ikan maksimum (MSY) yang dihasilkan oleh suatu kawasan konservasi perairan termasuk potensi besaran biomasa sumberdaya ikan yang dapat dilimpahkan ke luar kawasan (koefisien spill over). Manfaat ekonomi dihitung dari nilai keuntungan maksimum lestari atau pada titik MEY. Sementara untuk manfaat sosial dihitung dengan pendekatan jumlah nelayan yang dapat memanfaatkan sumberdaya ikan karang. Penelitian ini mengambil lokus di KKPN Kepulauan Anambas. Sumberdaya ikan yang menjadi fokus penelitian adalah 4 (empat) jenis sumberdaya ikan karang yang ditangkap di dalam kawasan yaitu ikan Kerapu karang (Ephinephelus fuscoguttatus), ikan Kuwe/Manyuk (Caranx sexfasciatus), ikan Kurisi bali (Pristipomoides  filamentosus), ikan Kakap merah (Lutjanus bitaeniatu .  Data yang dianalisis dalam penelitian ini adalah data primer dan data skunder. Data primer berupa data panjang ikan hasil tangkapan nelayan pancing dan jawaban responden hasil wawancara menggunakan kuisioner. Data skunder berupa hasil tangkapan tahunan dan upaya penangkapan tahunan yang terdapat dalam laporan tahunan Dinas Kelautan dan Perikanan setempat.

 

Berdasarkan analisis yang dilakukan  diperoleh hasil bahwa Kawasan Konservasi Perairan Nasional Kepulauan Anambas berdampak positive untuk 2 jenis ikan karang yaitu ikan kakap merah dan ikan kuwe/manyuk hal ini dikarenakan Ikan kakap merah nilai biomasa maksimum lestari per tahun ikan tersebut yang boleh ditangkap di dalam kawasan dari hasil analisis awal (MSY aktual) sebelum dilakukan hybrid dengan nilai laju eksploitasinya adalah sebesar 996,05 ton per tahun. Setelah dilakukan hybrid nilai biomasa maksimum lestari per tahun ikan tersebut sebesar 1.025,13 ton per tahun. Sedangkan nilai biomasa existing yang ditangkap oleh nelayan KKPN Anambas sebesar 476,40 ton per tahun.  Hal ini menunjukkan penangkapan yang dilakukan oleh nelayan KKPN Anambas terhadap ikan kakap merah masih berada di bawah stok sumberdaya ikan kakap merah yang tersedia di KKPN Kepulauan Anambas, namun demikian jika mengacu pada JTB 50% maka jumlah tangkapan eksisting yang ditangkap oleh Nelayan KKPN Anambas sudah melebihi batas maksimumnya yakni sebesar 512,56 ton per tahun. 

 

Untuk  ikan kuwe/manyuk, Setelah dilakukan hybrid nilai biomasa maksimum lestari per tahun ikan tersebut sebesar 3.867,73 ton per tahun. Sedangkan nilai biomasa existing yang ditangkap oleh nelayan KKPN Anambas sebesar 1.223 ton per tahun.  Hal ini menunjukkan penangkapan yang dilakukan oleh nelayan KKPN Anambas terhadap ikan kue/manyuk masih berada di bawah stok sumberdaya ikan kue/manyuk yang tersedia di KKPN Kepulauan Anambas, namun demikian jika mengacu pada JTB 50% maka jumlah tangkapan eksisting yang ditangkap oleh Nelayan KKPN Anambas saat inipun menunjukkan belum melebihi batas maksimumnya yakni sebesar 1.933,87 ton per tahun.

 

Berbeda hasil analisis terhadap dua jenis ikan karang lainnya yang diamati yakni ikan kerapu karang dan ikan kurisi Bali.  Setelah dilakukan hybrid nilai biomasa maksimum lestari per tahun ikan kerapu karang yang boleh ditangkap di dalam kawasan dari hasil analisis awal (MSY aktual) sebelum dilakukan hybrid dengan nilai laju eksploitasinya adalah sebesar 1.675,45 ton per tahun. Setelah dilakukan hybrid nilai biomasa maksimum lestari per tahun ikan kerapu karang sebesar 1.762,38 ton per tahun. Sedangkan nilai biomasa existing yang ditangkap oleh nelayan KKPN Anambas sebesar 1.508 ton per tahun.  Hal ini menunjukkan penangkapan yang dilakukan oleh nelayan KKPN Anambas terhadap ikan kerapu karang masih berada di bawah stok sumberdaya ikan kerapu karang yang tersedia di KKPN Kepulauan Anambas, namun demikian jika mengacu pada JTB 50% maka jumlah tangkapan eksisting yang ditangkap oleh Nelayan KKPN Anambas sudah melebihi batas maksimumnya yakni sebesar 881,19 ton per tahun. 

 

Untuk Ikan Kurisi Bali setelah dilakukan hybrid nilai biomasa maksimum lestari per tahun ikan kerapu karang yang boleh ditangkap di dalam kawasan dari hasil analisis awal (MSY aktual) sebelum dilakukan hybrid dengan nilai laju eksploitasinya adalah sebesar 1.817,86 ton per tahun. Setelah dilakukan hybrid nilai biomasa maksimum lestari per tahun ikan kurisi bali sebesar 1.329,67 ton per tahun. Sedangkan nilai biomasa existing yang ditangkap oleh nelayan KKPN Anambas sebesar 1.296 ton per tahun.  Hal ini menunjukkan penangkapan yang dilakukan oleh nelayan KKPN Anambas terhadap ikan kurisi bali hampir mendekati maksimum ketersiaan stok sumberdaya ikan kurisi bali yang tersedia di KKPN Kepulauan Anambas, namun demikian jika mengacu pada JTB 50% maka jumlah tangkapan eksisting yang ditangkap oleh Nelayan KKPN Anambas sudah melebihi batas maksimumnya yakni sebesar 664,83 ton per tahun.

 

Sedangkan analisis nilai ekonomi keempat jenis ikan karang yang dikaji dalam penelitian ini menghasilkan 301.481.685.170 rupiah per tahun dengan rincian 38.247.299.860 rupiah per tahun untuk ikan kerapu karang, 50.110.736.110 rupiah untuk ikan kakap merah, 35.712.250.200 rupiah per tahun untuk ikan kurisi bali, dan 177.411.399.000 rupiah per tahun untuk ikan kuwe/manyuk. Sementara nilai keuntungan (profit) maksimum keempat jenis ikan karang yang dianalisis dalam penelitian ini sebesar 296.793.855.170 rupiah per tahun dengan rincian 38.247.299.860 rupiah per tahun untuk ikan kerapu karang, 48.956.576.110 rupiah untuk ikan kakap merah, 34.331.290.200 rupiah per tahun untuk ikan kurisi bali, dan 176.386.389.000 rupiah per tahun untuk ikan kuwe/manyuk.

 

Tabel 1. nilai MSY hybrid, MEY, nilai ekonomi, profit, nilai ekonomi ideal, dan nilai ekonomi potensial

Jenis Ikan

MSY Hybrid (ton/tahun)

MEY (ton/tahun)

Nilai Ekonomi

Profit

NILAI EKONOMI IDEAL

NILAI EKONOMI POTENSIAL

Kerapu Karang

 1,762.38

 1,761.98

   38,247,299.86

   37,119,599.86

 19,123,649.93

 19,123,649.93

Kakap Merah

 1,025.13

 1,024.99

   50,110,736.11

   48,956,576.11

 25,055,368.06

 25,055,368.06

Kurisi Bali

 1,329.67

 1,329.57

   35,712,250.20

   34,331,290.20

 17,856,125.10

 17,856,125.10

Ikan Manyuk/Kue

 3,867.73

 3,867.70

 177,411,399.00

 176,386,389.00

 88,705,699.50

 88,705,699.50

Sumber : data primer diolah,2019

 

REKOMENDASI KEBIJAKAN

  1. Kebijakan pengelolaan pemanfaatan sumber daya ikan karang di wilayah pengelolaan perikanan indonesia (WPPRI) mengacu pada kebijakan FAO sebesar JTB 80% dari potensi lestari maksimumnya. Khususnya di KKPN Kepulauan Anambas, telah dikeluarkan aturan penangkapannya berdasarkan KepmenKP no 47 tahun 2016 sebesar JTB 50% dari potensi lestari maksimumnya . Berdasarkan hal tersebut, terhadap kebijakan yang mengacu pada 80% JTB menunjukkan bahwa ikan kakap merah,ikan kue/manyuk, ikan kerapu karang masih menunjukkan kondisi eksisting jumlah tangkapan yang dilakukan oleh nelayan di KKPN Kepulauan Anambas masih berada di bawah kondisi maksimum biomasa lestari yang disediakan di kawasan konservasi tersebut yang bisa menghasilkan profit maksimumnya. Namun demikian, jika mengacu pada Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 47 Tahun 2016 jumlah tangkapan maksimum per tahun yang diperbolehkan (JTB) dalam kawasan konservasi perairan adalah sebesar 50% dari MSY kondisi eksisting jumlah tangkapan yang dilakukan oleh nelayan di KKPN Kepulauan Anambas terhadap ketiga jenis ikan karang tersebut sudah melebihi batas maksimum ideal yang ditentukan. Berdasarkan hal tersebut, kebijakan yang mengacu pada JTB 50% akan menghasilkan biomasa yang lestari dan potensial yang disisakan untuk menjadi spill over cukup besar namun nelayan masih jauh mendapatkan profit maksimalnya.  Berdasarkan hal tersebut rekomendasi yang diusulkan menggunakan  dua opsi kebijakan tersebut untuk dijadikan sebagai acuan batas maksimum jumlah tangkapan per tahun untuk pengelolaan pemanfaatan sumberdaya ikan karang di KKPN Kepulauan Anambas.

 

  1. Melakukan pengaturan terhadap penerbitan TDKPI-NK dengan pertimbangan kajian dan ketersediaan daya dukung dan daya tampung di KKPN Kepulauan Anambas.

 

  1. Mengurangi Jumlah unit armada pancing ikan karang yang beroperasi didalam KKPN Kepulauan Anambas dari total 2910 unit pada tahun 2018 (eksisting) menjadi 1860 unit yang memberikan keuntungan maksimum lestari atau sebesar 520 unit  (JTB 50%) jika mengacu pada kelestarian sumberdaya berkelanjutan.

 

  1. mengalihkan lokasi fishing ground ke luar kawasan konservasi perairan nasional dengan melakukan peningkatan kapasitas armada dan alat bantu penangkapan ikan dari armada 1 GT menjadi maksimum 10 GT.

 

(Lenny/Direktorat KKHL)

 

 

 

 

Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut   11 Maret 2020   Dilihat : 1199



Artikel Terkait: