Indonesia   |   English  
Saran Dan Pengaduan

DIREKTORAT JENDERAL PENGELOLAAN RUANG LAUT
Kilas Berita  
Metamorfosis Pantai Losari Melalui Reklamasi

Oleh : Rommy Martdianto

 

Sejarah mengungkapkan bahwa perkembangan wilayah pesisir atau lebih dikenal dengan sebutan Kota Pantai yang berbasiskan pada perdagangan dan jasa lebih cepat dibandingkan dengan wilayah pedalaman yang berbasiskan pertanian. Akibat besarnya tarikan ekonomi kota pantai tersebut berdampak terhadap tingginya angka kepadatan penduduk kota pantai. Salah satu ruang publik yang sering dimanfaatkan oleh penduduk Kota Makassar ialah pantai Losari. Kondisi pantai yang membentang dari utara ke selatan sepanjang 950 meter dan menghadap matahari tenggelam menjadikan pantai Losari sebagai objek rekreasi yang sangat menarik. Pantai Losari juga memiliki permasalahan lain akibat laju abrasi yang cukup tinggi, padahal kawasan pantai Losari memiliki peran sebagai urat nadi utama jalur transportasi perkotaan di Makassar. Dengan mempertimbangkan kondisi tersebut, maka reklamasi pantai Losari memiliki arti yang sangat penting yaitu untuk penyediaan ruang publik, dan menjaga keberadaan pantai dari pengaruh abrasi.

Gambar 1. Degradasi lingkungan di sekitar pantai Losari (Sumber : Dokumentasi 2003)

Lokasi reklamasi Losari tertuang dalam Dokumen Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Makassar 2005-2015. Daerah rencana reklamasi dibagi kedalam beberapa zona, yang didalamnya memuat jenis peruntukan, yaitu areal parkir, jalanan becak-sepeda, pangkalan becak, jalur cepat, jalur lambat, arena bermain anak, tempat makan, taman/boulevard, plaza, dermaga, jalur kendaraan bermotor, lantai taman dan pedestrian.

Tabel 1. Penggunaan segmen-segmen pada lahan reklamasi Losari

Gambar 2. Konsep perencanaan pelataran reklamasi pantai Losari (Sumber : Pemprov. Kota Makassar, dan Departemen Kelautan & Perikanan, 2004)

Pada tanggal 11 September 2004 Presiden Megawati melakukan kunjungan ke Makassar dan meresmikan proyek-proyek Kelautan, Pertanian, dan Kehutanan. Pada kesempatan tersebut pemerintah menyatakan komitmen untuk membantu pelaksanaan revitalisasi pantai Losari. Komitmen tersebut kemudian diwujudkan melalui Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) dengan beberapa pertimbangan yaitu : (i) reklamasi dilakukan di kawasan pesisir dan laut, (ii) reklamasi menimbulkan pro dan kontra, (iii) pelaksanaan reklamasi harus dilakukan secara terpadu dan ramah lingkungan, yang secara substansi merupakan tugas dan tanggung jawab DKP. Dukungan DKP diwujudkan dalam hal (i) pembinaan teknis, (ii) fasilitasi penyiapan dokumen perencanaan pengelolaan wilayah pesisir terpadu, dan (iii) pembiayaan beberapa bagian dari keseluruhan rencana kegiatan revitalisasi.

 

Menindaklanjuti komitmen pemerintah tersebut maka DKP membentuk Tim Review Revitalisasi Pantai Losari Makassar melalui Surat Keputusan Direktur Jenderal Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil No. SK-75/P3K/XII/2004, tanggal 28 Desember 2004. Pada November 2004 Wakil Presiden Jusuf Kalla bersama Menteri Kelautan dan Perikanan sebagai representasi pemerintah melakukan kunjungan ke Makassar untuk meresmikan pemancangan tiang pertama sekaligus menegaskan komitmen pemerintah terhadap kegiatan revitalisasi Pantai Losari.

Gambar 3. Prasasti Losari (Sumber: Dokumentasi, 2004)

Secara keseluruhan, kegiatan reklamasi pantai Losari dilakukan tiga tahap, yaitu tahap pra-konstruksi, konstruksi, dan operasional. Pada tahap konstruksi dihadapkan pada berbagai kendala, diantaranya berdampak terhadap komponen fisik kimia, biologi, sosial-ekonomi dan budaya, serta kesehatan masyarakat.

Gambar 4. Tahap konstruksi reklamasi Losari (Sumber: Dokumentasi, 2007)

Pada tahun 2013 bertepatan dengan 10 tahun sejak program pemulihan pantai Losari yang dimulai sejak tahun 2003, dilaksanakanlah uji publik oleh Tim Direktorat Pesisir dan Lautan, Ditjen KP3K, Kementerian Kelautan dan Perikanan bekerjasama dengan Tim IPB dengan 3 (tiga) metoda pendekatan yaitu :

 

  1. Survey Persepsi Terhadap Reklamasi Losari

Dengan respon yang fantastis, 100 % responden mengatakan menerima keberadaan reklamasi Losari untuk kegiatan wisata dan ruang publik. Hal ini dicerminkan dengan 70% responden sangat setuju dan 30% setuju. Artinya, janji Pemerintah Kota Makassar yang akan menjadi Pantai Losari sebagai tujuan wisata dan ruang publik mendapatkan tempat di hati masyarakat, baik masyarakat sekitar maupun masyarakat luar (wisatawan). Sampel yang menjadi responden untuk menggali persepsi masyarakat pasca reklamasi Losari, yaitu rata-rata berumur 30 tahun dominan responden yang menjadi sampel adalah laki-laki sebesar 70%, dengan pendidikan rata-rata SMA/SLTA sebesar 60%, dan bekerja sebagai wiraswasta sebesar 60%.

  1. Survey Persepsi Penciptaan Lapangan Kerja

Keberadaan masyarakat yang membuka usaha di kawasan ini mendapatkan persepsi yang beragam dari para pengunjung. Sekitar 80 % pengunjung setuju terhadap pembukaan lapangan usaha di kawasan pantai Losari, karena keberadaan mereka membantu pengunjung dalam menyediakan makanan dan minuman serta pelayanan jasa bermain. Adapun 20 % pengunjung yang tidak setuju terhadap kegiatan usaha di kawasan ini disebabkan oleh belum teraturnya lokasi para pedagang, dimana pedagang menjual barang tersebar dihampir seluruh anjungan, sehingga sebagian pengunjung merasa kurang nyaman.

Gambar 5. Pemanfaatan lahan reklamasi Losari untuk fasilitas bermain anak (Sumber : Dokumentasi, 2013)

  1. Analisis Biaya Manfaat

Reklamasi Losari ternyata memberikan dampak yang sangat signifikan bagi usaha kecil. Paling signifikan adalah pedagang kaki lima (PKL) yang meningkat 746 %, rumah makan meningkat 71 %, dan pedagang ikan meningkat 30 %.

 

Secara keseluruhan, benefit atau keuntungan yang diterima setelah reklamasi Losari selesai dilaksanakan sebesar Rp 45,12 milyar/tahun untuk jenis usaha sampling atau mengalami peningkatan sebesar 9,08 % jika dibandingkan sebelum reklamasi Losari dilaksanakan yaitu sebesar Rp 41,36 milyar/tahun.

 

Mulanya pantai Losari dikelola oleh Unit Pelakasana Teknis Daerah (UPTD) Kebersihan Kota Makassar. Namun sejak 1 September 2013 dilimpahkan ke Kecamatan Ujung Pandang karena masalah perparkiran yang menyebabkan kemacetan dan kebersihan yang tidak terawat serta kerusakan sarana objek wisata. Untuk jasa parkir, pihak kecamatan bermitra dengan PD Parkir sehingga pengalihan pengelolaan tidak menimbulkan gejolak. Awalnya lahan parkir banyak dikuasai oleh beberapa ormas sehingga pelibatan PD Parkir merangkul para pihak untuk mengelola jasa parkir di pantai Losari. Sementara untuk aspek kebersihan, pihak kecamatan mengoptimalkan para PKL untuk membersihkan objek wisata pantai Losari setiap hari Jumat. Selain itu pihak kecamatan juga mewajibkan para PKL untuk senantiasa membersihkan lapak serta memungut sampah yang ada di sekitar lapak.

 

pantai Losari tergerus ombak, sehingga mempersempit ruang publik dan merusak jalan. Oleh karena itu, Pemerintah Kota Makassar berinisiatif untuk melakukan rehabilitasi pantai dengan cara reklamasi. Dengan kata lain reklamasi di pantai Losari bertujuan untuk menciptakan ruang publik dan menjaga kelancaran transportasi. Pada mulanya reklamasi Losari mendapatkan pertentangan antarpihak. Namun sosialisasi yang dilakukan secara terus menerus oleh Pemerintah Kota Makassar bertujuan untuk menciptakan ruang publik dan mendukung wisata bahari, maka perlahan-lahan masyarakat bisa menerimanya. Bahkan, kini anjungan-anjungan yang berada di kawasan pantai Losari menjadi pilihan warga, baik dari dalam maupun luar Kota Makassar untuk berwisata di tempat ini.

 

Reklamasi Losari memberikan pembelajaran mengenai pengaruh kegiatan reklamasi terhadap wilayah, lingkungan, dan masyarakat setempat. Reklamasi yang direncanakan dengan benar, menaati aturan, mendapat dukungan pemerintah setempat, dan masyarakat secara nyata telah memberikan kontribusi penting bagi pertumbuhan Kota Makassar.

 

(Rommy/Direktorat PRL)

Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut   03 Maret 2020   Dilihat : 3430



Artikel Terkait: