Indonesia   |   English  
Saran Dan Pengaduan

DIREKTORAT JENDERAL PENGELOLAAN RUANG LAUT
Kilas Berita  
Keindahan Bangkai Kapal Tenggelam di Kedalaman Talaud

Oleh: Prita Dwi Wahyuni

 

Berbicara tentang bumi porodisa tidak lepas dari sejarah perdagangan dunia yang pada akhirnya melibatkan terjadinya peristiwa kapal tenggelam di perairan Kabupaten Kepulauan Talaud. Berbagai jalur perdagangan kuno di dunia seperti jalur rempah dan jalur sutra juga melintasi perairan Indonesia. Dari beberapa jalur perdagangan kuno di dunia, dapat dikatakan bahwa jalur rempah merupakan jalur perdagangan penting dibandingkan dengan sejarah jalur sutra yang berhulu di China.

 

Sebagai pulau yang kaya akan rempah-rempah seperti pala dan cengkeh, Kepulauan Talaud juga menjadi “rebutan” bangsa asing sejak berabad-abad lampau. Rempah-rempah yang menjadi komoditi unggulan dan andalan perdagangan waktu itu dengan cepat mengubah peta dunia. Sejarah perdagangan rempah memang tidak selamanya mulus dan saling menguntungkan, tetapi juga dihiasi dengan penguasaan, pemaksaan dan peperangan hingga penaklukan. Armada-armada perdagangan kadang berisi pasukan perang yang siap mengamankan jalur perjalanan kapal selama di perjalanan. Perang di antara armada maupun perompakan bajak laut lokal seringkali terjadi. Peperangan demi peperangan yang terjadi membawa dampak yang luar biasa tidak hanya korban jiwa, jatuhnya pesawat tapi juga tenggelamnya kapal-kapal perang maupun logistik di perairan nusantara.

 

Berdasarkan estimasi yang dikeluarkan oleh Badan Riset Kelautan dan Perikanan, Kementerian Kelautan dan Perikanan (2000), ada sekitar 463 titik lokasi kapal tenggelam di perairan Indonesia yang tersebar sebagian besar di seluruh perairan nusantara. Salah satunya adalah kapal yang tenggelam di perairan Pantai Mala, Desa Mala, Kecamatan Melonguane, Kabupaten Kepulauan Talaud.

 

Sebaran kapal tenggelam tersebut umumnya tidak hanya kapal armada perang tapi juga kapal-kapal yang membawa komoditi dan barang dari China, Asia Barat dan Eropa seperti Belanda (VOC), Inggris dan Spanyol. Sayangnya untuk kapal tenggelam di Pantai Mala ini hanya diketahui berasal dari kapal Perang Dunia II tapi tidak diketahui dari negara mana kapal berasal, karena sampai saat ini belum ada penelitian lebih mendalam dari kapal ini.

Kita dapat melihat kondisi kapal yang tenggelam ini miring kurang lebih 90 derajat. Dengan melihat haluan dan lambungnya dapat diketahui bahwa kapal miring ke kiri karena dinding kirinya berada pada bagian bawah menyentuh langsung dasar laut lepas pantai Mala yang berpasir dan sedikit berlumpur pada kedalaman 7 sampai 24 meter. Sedangkan dinding kanan kapal yang terdiri atas haluan, dinding lambung bagian tengah dan dinding kanan buritan masing-masing memiliki kedalaman dari permukaan air sedalam 22 meter, 18 meter dan 28 meter.

Kapal tenggelam di Pantai Mala Kabupaten Kepulauan Talaud

Pada bagian palka terdapat tiga tiang yang diletakkan pada bagian tengah palka kearah buritan. Tiang pertama berada pada bagian palka dengan panjang 7 meter. Tiang kedua yang berada pada bagian tengah palka memiliki panjang kurang lebih 15 meter dan tiang ketiga yang berada pada bagian palka belakang dekat buritan dalam keadaan patah dimana tinggi atau panjangnya diperkirakan sama dengan tinggi tiang pertama yang berada di depan. Beberapa tali dari logam sebesar telunjuk masih terdapat pada tiang-tiang ini. Di bawah tiang tengah agak bergeser kearah belakang di tengah palka terdapat ruang kemudi yang berbentuk seperti ruang persegi empat yang dindingnya lebih tinggi dari pada tinggi dinding bagian lambung kapal.

 

Palka yang terdapat pada kapal ini bisa digolongkan terdiri atas dua bagian yaitu di bagian depan, yang terletak pada lambung bagian tengah, dan palka belakang yang terletak pada lambung bagian belakang. Masing-masing palka yang terdapat di dek bagian atas terdapat lubang palka berbentuk oval dan segi empat yang mungkin berfungsi sebagai jalan keluar dan masuknya barang muatan kapal. Lantai Dek pada bagian palka dikapal ini pada beberapa bagiannya sudah tidak lagi memiliki lantai sehingga yang terlihat hanya struktur tulang penyangganya saja.

Lambung kapal memiliki bentuk V namun pada bagian tengah dan dasarnya cenderung bulat. Di dalam lambung kapal yang terdapat di bagian buritan ditemukan dua mesin yang diperkirakan sebagai mesin penggerak. Kapal karam yang terdapat di lepas pantai Mala ini juga masih memiliki proveller yang terletak dibagian ujung bawah buritan dengan panjang baling-baling kurang lebih 1,5 meter. Di bagian ujung luar baling-baling terdapat kemudi berbentuk plat tebal yang berfungsi membelokkan arah kapal.

 

Kapal yang terbuat dari besi ini kondisinya dideskripsikan cenderung masih utuh kecuali pada dinding bagian buritan kiri yang sudah robek. Betapapun kondisinya secara umum cenderung utuh, tetapi serangan terjadinya korosi pada besi kapal berlangsung cukup cepat. Hal tersebut ditandai dengan keadaannya yang mulai rapuh dan keropos pada beberapa bagian yang ditandai dengan lubang-lubang kecil yang menyebabkan robeknya dinding kapal. Di samping terjadinya korosi pada besi kapal, di beberapa bagian dinding kapal juga telah ditumbuhi teritip dan koral. Biota laut yang tumbuh di dinding kapal dan yang mendominasi adalah soft coral atau karang lunak. Biota laut lainnya yang banyak terdapat di lingkungan tempat terendapnya kapal ini adalah ikan karang yang lebih menyukai hidup di daerah karang. Disini terlihat bahwa kapal yang tenggelam ini telah menjadi terumbu buatan (artificial reef) dan menjadi tempat hidup bagi biota-biota perairan laut.

 

Keindahan terumbu buatan kapal tenggelam hingga sejarah tenggelamnya kapal menjadi daya tarik tersendiri untuk dijadikan wisata bahari dari kapal tenggelam. Wisata kapal tenggelam dipandang mampu mengemban misi membangun wawasan dan kecintaan bahari masyarakat Indonesia. Suguhan pengetahuan dibalik kapal tenggelam diharapkan dapat membangkitkan kebanggaan, sekaligus pengingat bahwa betapa beruntungnya kita terlahir di tengah negeri yang dikelilingi laut yang saking kayanya mendapat julukan “mega marine biodiversity hotspot”. Disatu sisi, upaya penjarahan kapal tenggelam di Pantai Mala untuk diambil besinya juga pernah dilaporkan oleh masyarakat setempat namun berhasil digagalkan. Perlu kerjasama dari banyak pihak untuk dapat menyelamatkan potensi-potensi kapal tenggelam di Pantai Mala ini dan lokasi-lokasi lainnya.

Jadi rasanya belum lengkap jika anda mengunjungi Kabupaten Kepulauan Talaud tapi belum merasakan sensasi menyelam di kedalaman laut untuk menikmati indahnya kapal tenggelam di dasar perairan Pantai Mala. (Prita Dwi Wahyuni/Direktorat Jaskel)

Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut   26 Februari 2020   Dilihat : 1153



Artikel Terkait: