Indonesia   |   English  
Saran Dan Pengaduan

DIREKTORAT JENDERAL PENGELOLAAN RUANG LAUT
Kilas Berita  
Struktur Pelindung Pantai untuk Mengatasi Abrasi di PPI Salibabu, SKPT Talaud

Oleh: Erva Kurniawan

 

Kabupaten Kepulauan Talaud adalah sebuah kabupaten yang terdiri dari kepulauan atau kumpulan pulau-pulau yang terletak di utara pulau Sulawesi dan di sebelah timur Kepulauan Sangihe. Kabupaten Kepulauan Talaud juga merupakan wilayah paling utara dari Indonesia bagian Timur dan berbatasan dengan Filipina. Kepulauan Talaud sendiri terdiri dari Pulau Salibabu, Pulau Kabaruan, dan banyak pulau lainnya.

 

Sebagai pulau kecil di bibir pasifik, kondisi cuaca perairan sangat rentan terkena badai dan gelombang yang dapat menggerus garis pantai, sehingga berdampak pada berkurangnya luas daratan serta potensi kerusakan infrastruktur pesisir pantai. Dengan ditetapkannya PPI Salibabu sebagai Lokasi Sentra Kelautan dan Perikanan (SKPT), maka diperlukan sarana penunjang salah satunya adalah bangunan pelindung pantai untuk melindungi aset-aset penting yang ada di kawasan SKPT Kab. Kepulauan Talaud sehingga nantinya SKPT dapat dikelola secara baik, efektif, efisien, dan optimal. Pembangunan bangunan pelindung pantai dimaksud dibangun dengan APBN pada Tahun Anggaran 2018.

 

Terjadinya erosi dan abrasi pantai yang diakibatkan oleh aktifitas gelombang merupakan permasalahan yang utama di daerah pesisir pantai. Salah satu metode penanggulangan erosi pantai adalah penggunaan struktur pelindung pantai, dimana struktur tersebut berfungsi sebagai peredam energi gelombang (absorbver) pada lokasi pesisir. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, diperlukan struktur pengaman pantai yang berfungsi untuk memecahkan, merefleksikan dan menyerap energi gelombang. Salah satu cara yaitu dengan menggunakan konstruksi pengaman pantai yang terbuat dari struktur material alam dan buatan dalam bentuk konstruksi revetment.

 

Desain pelindung pantai di SKPT Talaud yang digunakan adalah revetment atau seawalls dengan panjang 264 meter. Struktur pelindung pantai ini menempel daratan sehingga sisi miring tumpukan batu dan tetrapod pada sisi menghadap ke arah laut. Desainnya dibuat dalam beberapa lapis dengan pemecah gelombang terbuka ke arah laut pada satu sisi. Sisi yang menghadap laut dan menerima serangan gelombang dibuat dengan kemiringan landai untuk mendapatkan stabilitas unit lapis lindung yang lebih besar.

Gambar Layout Pelindung Pantai SKPT Talaud

Revetment atau seawalls merupakan struktur yang digunakan untuk melindungi struktur pantai dari bahaya erosi dan gelombang kecil. Revetment atau seawalls direncanakan pada sepanjang garis pantai yang diprediksikan mengalami abrasi yang dimaksudkan untuk melindungi pantai dan daerah dibelakangnya dari serangan gelombang yang dapat mengakibatkan abrasi dan limpasan gelombang. Struktur revetment menggunakan Tetrapod secara konstruktif dirancang dan disusun sedemikian rupa sehingga struktur satu sama lainnya saling mengikat sehingga stabilitas dapat menyatu dan kuat menahan energi gelombang laut.

 

Pelindung pantai yang didesain untuk melindungi kawasan SKPT Talaud terdiri dari 2 (dua) lapis antara lain:

  1. Lapis lindung utama (primary cover layer), yaitu lapis paling luar yang menerima langsung serangan gelombang. Berat unit lapis lindung harus cukup besar sehingga stabil terhadap hantaman gelombang. Desain yang dipilih menggunakan tetrapod 2.700 kg/unit sejumlah 1.100 unit, dari beton bertulang K-225.
  2. Lapis pelindung sekunder (secondary cover layer), yaitu lapis lindung luar yang berada pada elevasi di bawah lapis pelindung utama. Berat unit lapis lindung lebih kecil dari pada lapis lindung utama. Pada revetment atau pelindung pantai SKPT Talaud desain menggunakan pasangan batu kosong warna abu-abu dengan pori-pori padat bukan batu kapur, dengan berat 80-100 kg/unit.

Gambar Potongan Melintang Pelindung Pantai SKPT Talaud

Sebagai lapis pelindung utama pelindung pantai ini menggunakan konstruksi tetrapod yaitu sebuah struktur beton berkaki empat yang berfungsi sebagai unit pelindung pada breakwater atau revetment. Bentuknya dirancang sedemikian rupa untuk menyerap energi gelombang dengan cara mengalirkan gelombang laut melalui sela-selanya dan bukan untuk menahan gelombang, dan juga mengurangi kemungkinan struktur amblas dengan menerapkan sebaran acak tetrapod agar saling mengunci. Tetrapod didesain berukuran besar dan berat dan dapat tetap stabil bahkan di bawah kondisi cuaca yang paling ekstrem. Tetrapod kemudian disusun bersama-sama dengan membentuk suatu interlocking, namun ikatannya berpori untuk meredam gelombang laut. Tetrapod yang digunakan pada bangunan pelindung pantai SKPT Talaud memiliki ukuran tinggi dan lebar 1,8 meter, dengan diameter buhul 46 cm. Sedangkan pada lapisan pelindung sekunder yang digunakan adalah pasangan batu alam (querry stone). Lapisan ini sering disebut juga lapisan penyaring yang melindungi lapisan inti atau tanah urugan di sisi belakang terhadap penghanyutan material. Ukuran batu alam yang digunakan juga bervariasi, yaitu antara 50 cm- 75 cm. Hal ini dimaksudkan agar terjadi ikatan dan saling mengisi material batu satu dengan yang lainnya.

Gambar Pemasangan Pelindung Pantai

SKPT Talaud terdapat dermaga kecil pada bagian timur yang berfungsi untuk pendaratan kapal nelayan dengan bobot kurang dari 30 GT. Penempatan revetment ini dilakukan pada sisi belakang dermaga dimaksud. Kondisi tanah pada sisi bagian timur ini, sebelum dipasang revetment cukup parah karena abrasi akibat gelombang tinggi yang terjadi di perairan Salibabu. Data dari BMKG, perairan Kabupaten Kepulauan Talaud sering mendapatkan potensi gelombang tinggi yang mencapai 4 meter terutama pada musim barat. Gelombang yang terjadi di Talaud dapat terjadi karena terdapat tekanan rendah di sekitar wilayah Filipina yang menarik massa udara dari selatan ke utara. Kondisi ini berakibat gelombang tinggi dapat sewaktu-waktu menerjang kawasan PPI Salibabu terutama pada sisi dermaga yang pada saat itu belum dilindungi oleh revetment, sehingga dapat menyebabkan abrasi pantai. Masa air laut yang naik ke daratan membawa butiran ke arah laut yang mengakibatkan tanah akan terkikis. Jika dibiarkan terus menerus, abrasi akan menggerus daerah pantai, menyebabkan kerusakan infrastruktur SKPT Talaud dan air laut akan menggenangi pantai dan kawasan SKPT Talaud.

 

Bagian depan SKPT Talaud terdapat infrastruktur Integrated Cold Storage (ICS) dengan kapasitas 200 Ton yang dibangun oleh Direktorat Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan. Sebelumnya oleh Ditjen PDSPKP telah dibangun pula pelindung pantai yang terdiri dari pasangan batu kosong sepanjang hampir 200 meter, namun karena terjangan ombak bangunan pelindung pantai lama-kelamaan sebagian hancur dan tergerus gelombang. Akibatnya mengalami penurunan tanah dan berkurangnya luasan pantai di belakang dermaga.

Untuk mengembalikan lagi seperti kondisi dan elevasi tanah seperti semula, diperlukan upaya rehabilitasi kawasan pada bagian depan dengan melakukan penimbunan tanah berpasir di sisi bagian dalam pasangan batu kosong dan tetrapod. Selanjutnya dipasang geotekstil yang berfungsi sebagai separasi atau pemisah antara lapisan tanah pasir dan pasangan batu kosong tanpa mencegah sirkulasi air. Fungsi lain dari geoteksil yang dipasang ini adalah sebagai filtrasi yaitu untuk mencegah migrasi partikel-partikel tanah atau lumpur bersama aliran air. Geotekstil yang digunakan adalah non woven yang bersifat permeable atau tembus air, jadi air dapat lewat pada geotextile tetapi partikel tanah tertahan atau tersaring oleh lapisan geotekstil. Hal ini berguna untuk mencegah berkurangnya volume tanah berpasir yang telah diaplikasikan pada lahan SKPT.

Pelindung pantai di SKPT Talaud yang dibangun pada Tahun 2018 ini kemudian dilakukan monitoring dan evaluasi secara rutin untuk mengetahui ketahanan struktur dalam menghadapi terjangan gelombang laut. Struktur pelindung pantai ini diharapkan dapat berfungsi sebagaimana mestinya sebagai pelindung abrasi pantai dan tidak terdapat kerusakan berarti pada struktur, sehingga dapat melindungi kawasan SKPT Talaud untuk keberlanjutan mendukung pembangunan perikanan dan kelautan di kawasan perbatasan.

Gambar kondisi sebelum dibangun pelindung pantai

Gambar kondisi setelah dibangun pelindung pantai

(Erva Kurniawan/Direktorat Jaskel)

Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut   26 Februari 2020   Dilihat : 1692



Artikel Terkait: