Indonesia   |   English  
Saran Dan Pengaduan

DIREKTORAT JENDERAL PENGELOLAAN RUANG LAUT
Kilas Berita  
Mengenal Sedimen

KKP | Kementerian Kelautan dan Perikanan

Sedimen adalah bahan utama pembentuk morfologi (topografi dan batimetri) pesisir. Sedimen berasal dari fragmentasi (pemecahan) batuan. Pemecahan tersebut terjadi karena pelapukan (weathering) yang dapat berlangsung secara fisik, kimiawi, atau biologis. Berubahnya morfologi pesisir/estuari terjadi sebagai akibat berpindahnya sedimen yang berlangsung melalui mekanisme erosi, pengangkutan (transpor) dan pengendapan (deposisi). Sedimen yang dipindahkan adalah sedimen yang terletak pada permukaan dasar perairan (Poerbondone dan Djunasjah, 2005). Sedimentasi di lingkungan pantai berawal dari kehadiran sedimen yang berasal dari daratan dan pada dasarnya merupakan faktor utama dalam membentuk pantai. Sedimentasi berkaitan erat dengan agen geomorfik yang bekerja didalamnya. Agen geomorfik utama yang menyebabkan atau mempengaruhi proses dan dinamika perairan pantai adalah gelombang, arus dan angin.

 

Sedimen dapat dikelompokkan berdasarkan asalnya dalam 4 kelompok (Gross, 1992; Hutabarat dan Evans, 1984) :

 

I).  Sedimen Lithogenous; terdiri dari mineral silikat primer yang berasal dari penghancuran akibat kondisi fisik (proses pemanasan dan pendinginan secara bergantian dan kontinyu) serta dari letusan gunung api.

 

II). Sedimen Biogenous; terbentuk dari sisa tulang yang tidak dapat dipecahkan atau terdiri dari kerangka organisme (Gambar 1). Berdasarkan jenis organisme, asal, serta macam bahan yang dikandung organisme, maka jenis sedimen ini dapat dibagi atas :

 

  • Tipe sedimen yang mengandung kalsium. Sedimen ini dibagi atas:
    • Globigerina Ooze; salah satu organisme bersel tunggal, dikenal sebagai Foraminifera. Kulitnya mengandung kalsium karbonat, cocoolith, yang biasa dikenal sebagai calcite.
    • Pteropod Ooze; golongan moluska yang bersifat sebagai plankton, tubuh mereka mempunyai kulit yang mengandung zat kapur kalsium karbonat yang dapat dihancurkan.
  • Tipe sedimen yang mengandung silika, terdiri dari :
    • Diatom Ooze; adalah golongan tumbuhan bersel satu dengan kulit mengandung silika.
    • Radiolarian Ooze; adalah golongan protozoa bersel satu.
    • Tanah liat merah Ooze; mengandung silika yang tinggi.

III).  Sedimen Hidrogenous; terbentuk dari hasil reaksi kimia dalam air laut. Sebagai contoh, nodul mangan (bongkahan mangan) dari endapan lapisan oksidasi, hidroksida besi, dan mangan. Endapan ini berukuran 1–6 inci dengan bentuk seperti kentang yang mengandung 25–35% Mangan, 1–2% Tembaga, dan 0,1–0,5% Kobalt.

 

IV).  Sedimen Cosmogenous; tersusun dari partikel-partikel yang berasal dari objek-objek luar angkasa yang jatuh ke bumi. Objek-objek tersebut berukuran besar sehingga mampu bertahan terhadap gesekan atmosfer. Objek tersebut umumnya dikenal dengan sebutan meteorid. 

 

inggrid artikel 1

 Gambar 1. Beberapa Bagian Dari Organisme Laut Yang Membentuk sedimen Biogenous; (a) Globigernia, (b) Pteropods, (c) Foraminifera, (d) Diatom (Gross 1992).

 

Ukuran sedimen dicirikan atau dikarakterisasi menurut sifat-sifat alami, antara lain: ukuran butir (grain size), densitas, kecepatan jatuh, komposisi, porositas dan bentuk. Dalam studi angkutan sedimen, ukuran butir merupakan karakter sedimen yang sangat penting karena dipakai untuk merepresentasikan resistensi terhadap agen pengangkut (Poerbondono dan Djunasjah, 2005). Berdasarkan ukuran partikel sedimen, para ahli geologi mengklasifikasikan sedimen dengan menggunakan dua jenis skala yaitu Wentworth-Udden dan skala AFNOR seperti yang terlihat pada Tabel 1.

 

Tabel 1.     Klasifikasi sedimen Menurut Skala Wenworth-Udden dan Skala AFNOR

 

Skala Wenworth

Skala AFNOR

Jenis Sedimen

Ukuran, mm (φ)

Jenis Sedimen

Ukuran, mm (ά)

Bongkah

>256 (<-8)

Batu

>20 (<-13)

Berangkal

256 - 64 (-8 - -6)

Kerikil

20 - 2 (-13 - -3)

Kerakal

64 – 4 (-6 - -2)

Pasir Kasar

2 - 0,8 (-3 - 1)

Granul

4 - 2 (-2 - -1)

Pasir Sedang

0,8 - 0,315 (1 - 5)

Pasir Sangat Kasar

2 -1 (-1 - 0)

Pasir Halus

0,315 - 0,125 (5 - 9)

Pasir Kasar

1 - 0,5 - 0,25 (1 - 2)

Pasir Sangat Halus

0,125 - 0,05 (9 - 13)

Pasir Sedang

0,5 - 0,25 (1 - 2)

Debu

<0,05 (>13)

Pasir Halus

0,25 - 0,125 (2 - 3)

 

Pasir Sangat Halus

0,125 – 0,062 (3 – 4)

 

Debu

0.062 - 0,004 (4 - 8)

 

Liat/Lumpur

<0,004 (>8)

 

 

Butiran yang berukuran besar akan mengendap pada daerah yang dekat dengan tempat pertama kali sedimen tersebut masuk ke laut, sedangkan untuk butiran yang berukuran kecil bisa ditransportasikan lebih jauh. Misalnya untuk jarak 4 km sedimen dengan ukuran debu akan mengendap membutuhkan waktu kurang lebih 185 hari. Secara teoritis partikel berukuran debu bisa ditansportasikan di seluruh samudera dan akan mengendap sampai ke dasar setelah 50 tahun.

 

 

Daftar Pustaka :

Gross, M. G., 1992. Oceanography A View Of Earth. Sixth Edition. Prentice-Hall Inc. New Jersey.

Hutabarat, S. dan S. M. Evans, 1984. Pengantar Oseanografi. UI-Press Inc. Jakarta. 159 hal.

Poerbondono, E. D., 2005. Survei Hidrografi. Refika Aditama Bandung. 166 hal.

 

 

 

Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut   21 Januari 2020   Dilihat : 25939



Artikel Terkait:

Sedimen adalah bahan utama pembentuk morfologi (topografi dan batimetri) pesisir. Sedimen berasal dari fragmentasi (pemecahan) batuan. Pemecahan tersebut terjadi karena pelapukan (weathering) yang dapat berlangsung secara fisik, kimiawi, atau biologis. Berubahnya morfologi pesisir/estuari terjadi sebagai akibat berpindahnya sedimen yang berlangsung melalui mekanisme erosi, pengangkutan (transpor) dan pengendapan (deposisi). Sedimen yang dipindahkan adalah sedimen yang terletak pada permukaan dasar perairan (Poerbondone dan Djunasjah, 2005). Sedimentasi di lingkungan pantai berawal dari kehadiran sedimen yang berasal dari daratan dan pada dasarnya merupakan faktor utama dalam membentuk pantai. Sedimentasi berkaitan erat dengan agen geomorfik yang bekerja didalamnya. Agen geomorfik utama yang menyebabkan atau mempengaruhi proses dan dinamika perairan pantai adalah gelombang, arus dan angin.

 

Sedimen dapat dikelompokkan berdasarkan asalnya dalam 4 kelompok (Gross, 1992; Hutabarat dan Evans, 1984) :

 

I).  Sedimen Lithogenous; terdiri dari mineral silikat primer yang berasal dari penghancuran akibat kondisi fisik (proses pemanasan dan pendinginan secara bergantian dan kontinyu) serta dari letusan gunung api.

 

II). Sedimen Biogenous; terbentuk dari sisa tulang yang tidak dapat dipecahkan atau terdiri dari kerangka organisme (Gambar 1). Berdasarkan jenis organisme, asal, serta macam bahan yang dikandung organisme, maka jenis sedimen ini dapat dibagi atas :

 

  • Tipe sedimen yang mengandung kalsium. Sedimen ini dibagi atas:
    • Globigerina Ooze; salah satu organisme bersel tunggal, dikenal sebagai Foraminifera. Kulitnya mengandung kalsium karbonat, cocoolith, yang biasa dikenal sebagai calcite.
    • Pteropod Ooze; golongan moluska yang bersifat sebagai plankton, tubuh mereka mempunyai kulit yang mengandung zat kapur kalsium karbonat yang dapat dihancurkan.
  • Tipe sedimen yang mengandung silika, terdiri dari :
    • Diatom Ooze; adalah golongan tumbuhan bersel satu dengan kulit mengandung silika.
    • Radiolarian Ooze; adalah golongan protozoa bersel satu.
    • Tanah liat merah Ooze; mengandung silika yang tinggi.

III).  Sedimen Hidrogenous; terbentuk dari hasil reaksi kimia dalam air laut. Sebagai contoh, nodul mangan (bongkahan mangan) dari endapan lapisan oksidasi, hidroksida besi, dan mangan. Endapan ini berukuran 1–6 inci dengan bentuk seperti kentang yang mengandung 25–35% Mangan, 1–2% Tembaga, dan 0,1–0,5% Kobalt.

 

IV).  Sedimen Cosmogenous; tersusun dari partikel-partikel yang berasal dari objek-objek luar angkasa yang jatuh ke bumi. Objek-objek tersebut berukuran besar sehingga mampu bertahan terhadap gesekan atmosfer. Objek tersebut umumnya dikenal dengan sebutan meteorid. 

 

inggrid artikel 1

 Gambar 1. Beberapa Bagian Dari Organisme Laut Yang Membentuk sedimen Biogenous; (a) Globigernia, (b) Pteropods, (c) Foraminifera, (d) Diatom (Gross 1992).

 

Ukuran sedimen dicirikan atau dikarakterisasi menurut sifat-sifat alami, antara lain: ukuran butir (grain size), densitas, kecepatan jatuh, komposisi, porositas dan bentuk. Dalam studi angkutan sedimen, ukuran butir merupakan karakter sedimen yang sangat penting karena dipakai untuk merepresentasikan resistensi terhadap agen pengangkut (Poerbondono dan Djunasjah, 2005). Berdasarkan ukuran partikel sedimen, para ahli geologi mengklasifikasikan sedimen dengan menggunakan dua jenis skala yaitu Wentworth-Udden dan skala AFNOR seperti yang terlihat pada Tabel 1.

 

Tabel 1.     Klasifikasi sedimen Menurut Skala Wenworth-Udden dan Skala AFNOR

 

Skala Wenworth

Skala AFNOR

Jenis Sedimen

Ukuran, mm (φ)

Jenis Sedimen

Ukuran, mm (ά)

Bongkah

>256 (<-8)

Batu

>20 (<-13)

Berangkal

256 - 64 (-8 - -6)

Kerikil

20 - 2 (-13 - -3)

Kerakal

64 – 4 (-6 - -2)

Pasir Kasar

2 - 0,8 (-3 - 1)

Granul

4 - 2 (-2 - -1)

Pasir Sedang

0,8 - 0,315 (1 - 5)

Pasir Sangat Kasar

2 -1 (-1 - 0)

Pasir Halus

0,315 - 0,125 (5 - 9)

Pasir Kasar

1 - 0,5 - 0,25 (1 - 2)

Pasir Sangat Halus

0,125 - 0,05 (9 - 13)

Pasir Sedang

0,5 - 0,25 (1 - 2)

Debu

<0,05 (>13)

Pasir Halus

0,25 - 0,125 (2 - 3)

 

Pasir Sangat Halus

0,125 – 0,062 (3 – 4)

 

Debu

0.062 - 0,004 (4 - 8)

 

Liat/Lumpur

<0,004 (>8)

 

 

Butiran yang berukuran besar akan mengendap pada daerah yang dekat dengan tempat pertama kali sedimen tersebut masuk ke laut, sedangkan untuk butiran yang berukuran kecil bisa ditransportasikan lebih jauh. Misalnya untuk jarak 4 km sedimen dengan ukuran debu akan mengendap membutuhkan waktu kurang lebih 185 hari. Secara teoritis partikel berukuran debu bisa ditansportasikan di seluruh samudera dan akan mengendap sampai ke dasar setelah 50 tahun.

 

 

Daftar Pustaka :

Gross, M. G., 1992. Oceanography A View Of Earth. Sixth Edition. Prentice-Hall Inc. New Jersey.

Hutabarat, S. dan S. M. Evans, 1984. Pengantar Oseanografi. UI-Press Inc. Jakarta. 159 hal.

Poerbondono, E. D., 2005. Survei Hidrografi. Refika Aditama Bandung. 166 hal.

 

 

 

Tanggal Publish : 21 Januari 2020

 

  Dilihat : 25939 Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut

   

 

-->