Indonesia   |   English  
Saran Dan Pengaduan

DIREKTORAT JENDERAL PENGELOLAAN RUANG LAUT
Kilas Berita  
Peredaran Hiu Dan Pari Di Wilayah Kerja Loka PSPL Sorong Tahun 2019 Dalam Angka

Indonesia memiliki sumberdaya laut yang besar sehingga Indonesia dikenal dengan julukan megabiodiversity, potensi yang besar dibidang kelautan dan perikanan menghiasi lalulintas perdagangan internasional dengan mengekspor produk hiu dan pari. Loka Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut Sorong Kementerian Kelautan dan Perikanan yang berada diwilayah timur Indonesia menjalankan fungsi kontrol peredaran hiu dan pari melalui pelayanan rekomendasi hiu dan pari yang berasal dari 4 wilayah kerja yakni Provinsi Papua, Papua Barat, Maluku dan Maluku Utara.

 

Dalam melaksanakan fungsi kontrol tersebut, lalu lintas produk hiu dan pari ini mengikuti ketentuan Convention on International Trade of Wild Fauna and Flora (CITES) serta mengikuti Permen 04/MEN-KP/2010 tentang Tata Cara Pemanfaatan Jenis dan Genetik juga Permen 5/MEN-KP/2018 tentang pelarangan jenis Hiu Koboi dan Hiu Martil dari Wilayah Indonesia. Berdasarkan data hingga bulan november 2019, total pengusaha yang sudah teregistrasi telah mencapai 102 pengusaha. Jumlah pengusaha yang banyak tentunya akan berujung pada tingginya jumlah produk yang diedarkan. Beberapa jenis Hiu Appendiks yang ditemui diwilayah kerja Loka PSPL Sorong adalah dari jenis Hiu Martil (Sphyrna lewiniSphyrna mokaran, Sphyrna Zygaena), Carcharhinus longimanus serta Alopias pelagicus dan Alopias superciliosus. Jenis Appendiks yang diedarkan adalah sirip hiu Carcharhinus falciformis merupakan jenis hiu yang paling banyak diedarkan yakni sebesar 18,940.64 Kg, kemudian diikuti oleh jenis sirip Sphyrna spp sebanyak 4,654.49 Kg. Sedangkan untuk jenis lainnya yang Non Appendiks yang diedarkan ada yang dari jenis Carcharhinus spp., Eusphyra blochiiGaleocerdo cuvierGlyphis sp, Hemigaleus microstoma, Hemipristis elongata, Isurus spp., Negaprion brevirostis, paragelus tengi, Prionace galuca, Triaenodon obesus, Rhina ancylostoma, Rhynobatos thouin, Glaucostegus thouin, Rhynchobatus australiae, Glaucostegus typus, dan Rhynobatos typus.

 

Gambar 1. Data Hiu Appendiks dan Non Appendiks 2019

 

Peningkatan data pada bulan September, Oktober dan November dipengaruhi oleh meningkatnya jumlah pengusaha serta adanya permintaan rekomendasi hiu dan pari dari wilayah-wilayah tertentu seperti di Jayapura, Kaimana, Tual, Manokwari, Halmahera Selatan, Halmahera Utara dan Kepulauan Sula. Selain produk sirip, produk lainnya dari jenis hiu dan pariyang juga dilalulintaskan dapat dilihat pada diagram dibawah ini.

 

Gambar 2. Data Produk Hiu dan Pari

 

Produk Hiu tanpa kepala, ekor dan sirip merupakan jenis Hiu yang paling besar diedarkan kurang lebih 140.466,50 Kg, diikuti jenis Hiu tanpa kepala sedangan untuk Pari, jenis daging pari sebesar 115.299,55 Kg.

 

 

Gambar 3. Tujuan Pengiriman Hiu dan Pari

 

Berdasarkan grafik diatas tujuan peredaran Hiu dan pari banyak dilalulintaskan ke Surabaya sebesar 350,474.30 Kg dan tujuan Jakarta sebesar 237,538.72 Kg dengan meningkatnya angka peredaran jenis Appendiks dan olahan lainnya, maka Loka PSPL Sorong melakukan edaran pembinaan kepada Pelaku Usaha yang mengirim produk Appendiks yang banyak, terdapat kurang lebih 12 pelaku usaha pengirim sirip Appendiks yang lebih dari 700 Kg diupayakan untuk dapat melalulintaskan jenis Non Appendiks menuju pelaku usaha Hiu Pari konservatif di Loka PSPL Sorong. [RH_LPSPLSORONG]

Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut   10 Januari 2020   Dilihat : 354



Artikel Terkait: