Indonesia   |   English  
Saran Dan Pengaduan

DIREKTORAT JENDERAL PENGELOLAAN RUANG LAUT
Kilas Berita  
KKP lakukan Pengumpulan Data Primer dan Sekunder KSNT PPKT Pulau Enggano

Pulau Enggano-Bengkulu, 5-11 November 2019. Kementerian Kelautan dan Perikanan melalui Direktorat Perencanaan Ruang Laut pada 5 – 11 November 2019 telah melaksanakan kegiatan pengumpulan data primer melalui survey lapang dan data sekunder untuk penyusunan Rencana Zonasi Kawasan Strategis Nasional Tertentu Pulau-Pulau Kecil Terluar (RZ KSNT PPKT) Pulau Enggano.

 

Anggota tim survey terdiri dari perwakilan Direktorat Perencanaan Ruang Laut, Universitas Bengkulu, dan Dinas Kelautan dan Perikanan. Tim Survey selama pengambilan data didampingi oleh Camat Pulau Enggano, Perwakilan Pos TNI AL Enggano, Perwakilan Koramil Enggano, Babinsa Enggano, dan perwakilan Polair Polsek Enggano.

 

Rangkaian kegiatan tersebut yaitu berikut: 5 November 2019: Tim dari Direktorat Perencanaan Ruang Laut berangkat dari Jakarta menuju Bengkulu. Setelah sampai di Bengkulu, Tim berkoordinasi dengan Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Bengkulu, dan perjalanan dilanjutkan menuju Pulau Enggano dengan Kapal Perintis (Sabuk Nusantara 52)

 

6 November 2019: Tim tiba di Pelabuhan Malakoni, Pulau Enggano dan dilanjutkan dengan pengambilan data kualitas air di sisi tenggara Pulau Enggano.

 

7 November 2019: Tim melaksanakan Diskusi Kelompok Terpumpun (FGD) dengan masyarakat yang dihadiri oleh Camat Pulau Enggano, Danramil Pulau Enggano, Wakapolsek Enggano, perwakilan Pos TNI AL, Kepala Desa se Kecamatan Enggano, Para Kepala Suku Pulau Enggano, Ketua Pabuki (Lembaga Adat Pulau Enggano) dan masyarakat dan dilanjutkan dengan pengambilan foto udara dengan drone di Pelabuhan Kahyapu (Sisi Selatan Pulau) dan di Pelabuhan Malakoni (Sisi Timur Pulau).

 

8 November 2019: Tim mengambil data kualitas air di sisi timur, utara dan barat Pulau Enggano.

 

9-10 November 2019: Tim mengambil foto udara dengan drone di sekitar Kantor Kecamatan (Sisi Timur Pulau) dan dilanjutkan perjalanan kembali ke Bengkulu.

 

11 November 2019: Tim dari Direktorat Perencanaan Ruang Laut kembali ke Jakarta.

 

Tim survey merangkum hasil sementara survey lapang untuk RZ KSNT PPKT Pulau Enggano, yaitu: Data-data kondisi perairan yang diambil adalah kualitas air antara lain suhu, pH, salinitas, DO, dan kecerahan sedangkan data ekosistem, biota dan oseanografi sudah tersedia pada dokumen RZWP-3-K Provinsi Bengkulu dan Universitas Bengkulu.

 

Terdapat dua pelabuhan sebagai pintu aksesibilitas ke Pulau Enggano yaitu Pelabuhan Malakoni (pelabuhan laut) dan Pelabuhan Kahyapu (pelabuhan penyebrangan). Saat ini, pelayaran ke Pulau Enggano hanya dilayani oleh Kapal Perintis (Sabuk Nusantara 52), sedangkan kapal feri saat ini tidak melayani pelayaran ke Pulau Enggano karena kerusakan kapal dan dermaga di Pelabuhan Kahyapu juga rusak.

 

Pemanfaatan ruang laut.

Di Pulau Enggano antara lain untuk perikanan tangkap, perairan Pulau Enggano merupakan fishing ground bagi kapal-kapal pukat cincin (purseine) dengan ukuran > 30 GT yang berasal dari Pulau Jawa (Muara Baru, Pekalongan), sedangkan para nelayan di Pulau Enggano mencari ikan hanya sejauh 1 – 2 mil dari pantai dengan tangkapan ikan karang dan pelagis kecil. Untuk kegiatan perikanan budidaya, terdapat kegiatan pemanfaatan ruang laut berupa Keramba Jaring Apung dengan komoditas ikan kerapu macan di sisi barat pulau (Sawang Bugis). Untuk Kawasan Konservasi Perairan Daerah terdapat di sisi utara dan selatan pulau

 

Prasarana dan sarana.

Di Pulau Enggano terdapat menara suar, PDAM, Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLN), Pembangkit Listrik Tenaga Surya (2 unit), tugu perbatasan, Pos TNI AL, Koramil, Polsek Enggano, Pos Polair, jalan (kondisi rusak), pelabuhan laut, pelabuhan penyebrangan, bandara (tidak berfungsi). Sarana yang tersedia di Pulau Enggano antara lain sarana pendidikan berupa Sekolah Dasar (setiap desa), Sekolah Menengah Pertama (1 buah), Sekolah Menengah Atas (1 buah), sarana kesehatan berupa Puskesmas (1 unit) dan Rumah Sakit Bergerak, dan sarana peribadatan berupa Masjid (setiap desa) dan gereja (4 buah).

 

Penggunaan lahan.

Di Pulau Enggano penggunaan lahan sebagian besar berupa hutan, permukiman, bangunan lainnya, kebun, semak belukar, pasir putih, dan batu karang. Sebagian pantai Pulau Enggano merupakan tempat pendaratan penyu hijau dan penyu sisik.

 

Potensi perairan dan pertanian.

Di Pulau Enggano, potensi perairan berupa lobster, Lola, ikan karang, budidaya laut (rumput laut, keramba jaring apung), dan wisata bahari (menyelam), sedangkan potensi pertanian di Pulau Enggano berupa pisang yang mecapai 600 ton/bulan, coklat, dan kelapa.

 

Isu dan permasalahan

Tim survey mendapatkan beberapa issu dan permasalahan yang berhasil dijaring selama survey lapang RZ KSNT PPKT Pulau Enggano dan FGD dengan masyarakat antara lain:

 

Pertama, permasalahan utama di Pulau Enggano adalah masalah konektivitas. Pulau Enggano sangat bergantung pada transportasi laut yang saat ini hanya dilayani oleh Kapal Perintis (Sabuk Nusantara 52). Sedangkan kapal ferri saat ini tidak melayani rute ke Pulau Enggano karena kerusakan kapal dan dermaga di Pelabuhan Kahyapu rusak. Hal ini diperparah dengan terhentinya penerbangan ke Pulau Enggano sejak bulan September 2019. Masalah transportasi ini menyebabkan arus pergerakan orang dan barang dari dan ke Pulau Enggano tersendat. Masyarakat Pulau Enggano berharap permasalahan konektifitas Pulau Enggano segera dituntaskan.

 

Kedua, Pulau Enggano rawan terisolasi pada saat cuaca buruk khususnya pada saat musim angin barat dan angin tenggara.

 

Ketiga, terdapat konflik pemanfaatan ruang antara para nelayan lokal dari Pulau Enggano dengan kapal-kapal pukat cincin (purseine) yang beroperasi di perairan sekitar Pulau Enggano. Hal ini dikarenakan jaring yang dioperasikan oleh kapal pukat cincin membentang hingga dekat dengan pantai (1 – 2 mil dari pantai) yang merupakan daerah penangkapan ikan nelayan – nelayan Pulau Enggano. Untuk mengatasi hal tersebut masyarakat mengusulkan jarak 3 – 5 mil dari garis pantai sebagai zona perikanan tradisional.

 

Keempat, tidak ada armada pengawasan perikanan di Pulau Enggano, sehingga menyulitkan penegakan hukum terhadap pelanggaran di wilayah perairan Pulau Enggano.

 

Kelima, saat ini belum ada pelabuhan perikanan di Pulau Enggano, sehingga potensi perikanan di Pulau Enggano tidak bisa dikembangkan. Masyarakat mengusulkan lokasi untuk pelabuhan perikanan di Desa Kahyapu.

 

Selain itu, tidak ada tanda batas kawasan konservasi/lindung sehingga masyarakat tidak mengetahui kalau mereka berada di kawasan konservasi/lindung, terdapat permasalahan lahan Nominee di pulau – pulau sekitar Pulau Enggano, listrik hanya beroperasi setiap jam 5 pagi – 12 siang dan jam 5 sore – 12 malam, tidak ada jalan lingkar pulau dan jalan menuju sisi barat pulau, jaringan telekomunikasi internet sangat terbatas (2G) dan hanya tersedia di Kantor Desa, radio dan televisi hanya bisa diakses dengan antena parabola, potensi pisang sebanyak ± 600 ton/bulan tidak dapat dimanfaatkan secara optimal karena tidak ada sarana pengolahan, sehingga jika tidak ada transportasi pisang-pisang tersebut terancam busuk, pernah disurvey lahan seluas 4 hektar di Desa Kaana untuk stasiun riset kelautan yang digagas oleh DKP Provinsi Bengkulu dan pihak desa sudah setuju untuk menyediakan lahannya tetapi sampai sekarang tidak ada kejelasannya, dan Pulau Enggano pernah ditetapkan sebagai Kawasan Strategis Pariwisata tetapi tidak ada tindak lanjutnya.

Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut   21 November 2019   Dilihat : 736



Artikel Terkait: