Indonesia   |   English  
Saran Dan Pengaduan

DIREKTORAT JENDERAL PENGELOLAAN RUANG LAUT
Kilas Berita  
KKP Terus Lakukan Evakuasi Penanganan Hiu Paus Di Inlet PLTU Paiton

Berita PRL, Jakarta (16/9) - Pemantauan Kemunculan Hiu Paus (Rhincodon typus) pada 29 Agustus 2019 di inlet canal unit 2 PLTU (Pembangkit Listrik Tenaga Uap) Paiton terus dilakukan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan melalui BPSPL (Balai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut) Denpasar. Hal ini dilakukan sehubungan adanya laporan dari pihak PT.PJB UP (PT. Pembangkitan Jawa Bali Unit Pembangkit ) Paiton ke Dinas Perikanan Kab. Probolinggo kemudian di teruskan kepada BPSPL Denpasar. "Kita melakukan koordinasi penanganan dengan membentuk tim terpadu dan menyusun rencana aksi agar evakuasi hiu paus dapat dilakukan segera, evakuasi hiu paus menjadi penting karena PLTU Paiton merupakan objek vital nasional dan hiu paus merupakan ikan yang dilindungi oleh Pemerintah Indonesia", Direktur Jenderal Pengelolaan Ruang Laut Kementerian Kelautan dan Perikanan, Brahmantya Satyamurti Poerwadi.

  

Penanganan awal Hiu Paus di PLTU Paiton telah dilakukan sejak  Jumat 30 Agustus 2019 melalui penyisiran sepanjang canal oleh Tim yang terdiri dari BPSPL Denpasar, Dinas Perikanan Kab. Probolinggo, Cabang Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jawa Timur Wilayah Situbondo , PT. PJB UP Paiton, PT. YTL Jawa Power dan PT. POMI. Dari hasil penyisiran, tim tidak menemukan Hiu Paus. PT. PJB UP Paiton melakukan pengamatan lanjutan dan Hiu Paus terdeteksi terlihat kembali di inlet unit 1-2 pada Kamis 5 September 2019. Kemudian petugas tidak melihat ikan hiu paus selama satu pekan.

 

Pada Rabu, 11 September 2019 pukul 16:33 WIB, Dinas Perikanan Kab. Probolinggo meneruskan laporan kemunculan Hiu Paus di inlet canal kepada BPSPL Denpasar. Kemunculan hiu paus terpantau kembali berada di inlet unit 6 pada pukul 09:30 WIB sebagaimana dilaporkan oleh PT. PJB UP Paiton, dan bergerak menuju unit 2. BPSPL Denpasar Kementerian Kelautan dan Perikanan melanjutkan pemantauan kembali pada Kamis 12 September 2019 dan Jumat 13 September 2019 dengan melakukan pemantauan dan uji respon Hiu Paus.  Penanganan terpadu ini merupakan yang kali kedua setelah pernah dilakuakn penangan terpadu sama pada tahun 2015 oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan.

 

Rencana aksi disusun untuk mengevakuasi hiu paus keluar dari saluran inlet canal menuju ke perairan laut lepas.  Prioritas tim yang dilakukan saat ini adalah mengevakuasi hiu paus dalam keadaan hidup. aksi ini ditargetkan akan menghalau hiu paus yang berada di inlet canal unit 7 menuju / ke arah timur ke arah laut. Tim memperkirakan upaya ini dapat dilakukan selama 3 hari, mulai Sabtu 14 September 2019 hingga Senin 16 September 2019 dan dapat dievaluasi setiap hari. Penentuan jumlah hari percobaan berdasarkan pengamatan terhadap kondisi hiu paus pada tanggal 13 September 2019 pukul 14:00-15:15 WIB. Pada pengamatan tersebut tim melakukan uji respon dan ikan memberikan respon aktif juga terlihat saat dilemparkannya batu disisi kanan mata hiu tanpa mengenai tubuh.

  

Dalam perkembangannya BPSPL Denpasar diperkuat oleh Pejabat Fungsional PELP Madya Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut KKP meninjau ulang kemunculan hiu paus pada Minggu 15 September 2019 dan menginisiasi rapat teknis evakuasi. Rapat teknis evakuasi dilaksanakan pada Senin, 16 September 2019 dengan hasil pembentukan tim khusus evakuasi yang dipimpin oleh Dandim Probolinggo, Letkol Imam Wibowo.

 

Tim khusus yang dibuat terdiri dari Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut - KKP, Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati - KLHK, BPSPL Denpasar, Satwas PSDKP Probolinggo, BBKSDA Jawa Timur, Kantor Cabang Dinas Kelautan dan Perikanan Wilayah Situbondo - Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jawa Timur, Dinas Perikanan Kabupaten Probolinggo, Dandim Probolinggo, Danlanal Banyuwangi, Polres Probolinggo, Danposal Paiton, Polair Polres Probolinggo, Danramil Paiton, FKH Univ. Airlangga, WSI, Flying Vet, PT. Pembangkitan Jawa Bali Unit Pembangkit (PJB UP) Paiton, PT. YTL Jawa Power, PT. Paiton Operation & Maintenance Indonesia (POMI) dan Kelompok Masyarakat Pengawas - Kuda Laut.

 

Penanganan terpadu ini merupakan yang kali kedua setelah pernah dilakukan penangan terpadu yang sama pada tahun 2015 oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan. Jelas Brahmantya.

 

Perlindungan Hiu Paus

Ikan hiu paus (Rhincodon typus) adalah ikan yang dilindungi oleh Pemerintah Republik Indonesia dengan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 18/KEPMEN-KP/2013. Hiu paus yang dikenal dengan hiu totol oleh nelayan setempat dilindungi dengan alasan jumlahnya semakin berkurang akibat mudah tertangkap secara tidak sengaja oleh nelayan (by-catch).

 

Indonesia merupakan salah satu jalur migrasi dari ikan hiu paus, hal ini terbukti dengan seringnya jenis ikan ini ditemui di beberapa wilayah perairan Indonesia seperti perairan Sabang, Situbondo, Bali, Nusa Tenggara, Alor, Flores, Sulawesi Utara, Maluku, dan Papua. Sepanjang tahun ikan ini dapat ditemukan di perairan Probolinggo - Situbondo, Jember - Tulungangung pada bulan September - Oktober setiap tahunnya. BPSPL Denpasar melakukan pengamatan kemunculan di perairan Bayeman Probolinggo dan menemui munculnya hiu paus pada Kamis 5 September 2019 sebanyak 12 ekor dan Sabtu 7 September 2019 sebanyak 3 ekor.

 

Saat ini ikan hiu paus masuk ke dalam Appendiks II CITES dan juga termasuk kedalam daftar merah IUCN dengan kategori Rentan (Vulnerable), karena memiliki karakter yang spesifik seperti berumur panjang, fekunditas rendah, jumlah anakan sedikit, lambat dalam mencapai matang kelamin dan pertumbuhannya lambat, sehingga sekali terjadi over eksploitasi, sangat sulit bagi populasinya untuk kembali pulih.

 

Hiu paus memberikan banyak manfaat. Manfaat dari penetapan status perlindungan penuh ikan ini adalah untuk menjaga keseimbangan ekosistem (rantai makanan) perairan laut, menjaga kelestarian biota laut langka (eksotik), menjaga nilai dan keanekaragaman sumberdaya ikan dan lingkungan secara berkelanjutan, serta memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat melalui pengembangan pariwisata bahari berbasis ikan hiu paus seperti yang dilakukan di Pantai Botubarani, Gorontalo. (Humas PRL/BPSPL Denpasar)

Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut   16 September 2019   Dilihat : 254



Artikel Terkait: