Indonesia   |   English  
Saran Dan Pengaduan

DIREKTORAT JENDERAL PENGELOLAAN RUANG LAUT
Kilas Berita  
Profil Pulau Enggano, Bengkulu Utara

Secara administratif Pulau Enggano terletak di Kecamatan Enggano, Kabupaten Bengkulu Utara, Provinsi Bengkulu. Di sini terdapat enam desa: Malakoni, Apoho, Meok, Banjar Sari, Kaana dan Kahyapu. Pusat pemerintah berada di Desa Apoho. Kecamatan Enggano memiliki empat pulau: Dua, Merbau, Bangkai dan Satu. Keempatnya terletak di sebelah Barat Enggano. Luas Kecamatan Enggano, 400,62 kilometer persegi dan luas daratan 397,18 kilometer persegi. Panjang pantainya 123,23 kilometer dan luas lautan sebesar 912.887,84 kilometer persegi. Berada di perairan Samudera Hindia, Enggano merupakan batas terluar dengan India. Di sini terdapat titik dasar TD.154 dan titik referensi TR.154 dan terletak di koordinat 05º31’13” LS dan 102º16’00” BT.

  

Secara proporsional dapat dikatakan 63,39% dari pulau ini mempunyai kemiringan landai (0 - 8%), 27,95% agak miring (8 - 15%) dan sisanya daerah miring sampai terjal (15 - 40%). Berdasarkan klasifikasi tanah, kawasan daratan Pulau Enggano didominasi oleh jenis tanah kambisol, litosol, dan alluvial. Selain itu, tanah di Pulau Enggano memiliki tekstur lempeng berliat.

 

Karakteristik pantai yang ada dapat dikategorikan dalam lima tipe utama: pasir berlumpur, pasir, pasir berkarang, pasir karang berlumpur, dan pantai karang berbatu. Karakteristik pantai erat kaitannya dengan keberadaan ekosistem terumbu karang dan mangrove. Tipe pantai pasir berlumpur ditemukan di Kahyupu, Tanjung Harapan, dan muara Sungai Banjarsari sampai Teluk Berhau. Tipe pantai pasir berkarang terdapat di Kaana dan Meok, sedangkan tipe pantai pasir karang berlumpur ditemui di Malakoni dan Banjarsari. Pantai karang berbatu dijumpai di bagian timur Enggano.

 

Jarak Pulau Enggano ke Ibukota Provinsi Bengkulu sekitar 156 km atau 90 mil laut sedangkan jarak terdekat adalah ke kota Manna, Bengkulu Selatan sekitar 96 km atau 60 mil laut.

 

Untuk mengunjungi Enggano dapat menggunakan transportasi Laut dengan menggunakan kapal Raja Enggano dengan kapasitas 40 unit kendaraan dan 400 orang penumpang menuju ke Pelabuhan Kahyapu yang mempunyai luas dermaga 360 m2 dengan rute Bengkulu-Enggano-Bengkulu. Frekuensi pelayaran dua kali seminggu yaitu Sabtu dan Rabu setiap jam 18.00 WIB dari Pelabuhan Bengkulu dan sampai di Pulau Enggano pukul 04 - 05 WIB (sekitar 8 jam). Selain kapal Raja Enggano, transportasi ke Pulau Enggano dapat juga menggunakan kapal perintis dari Pelabuhan Bengkulu menuju Pelabuhan Malakoni yang mempunyai luas dermaga 560 m2 dan melayani rute Bengkulu - Malakoni - Bengkulu.

 

Pada tahun 2011, jumlah penduduk tercatat sebanyak 2.760 jiwa (843 KK) yang tersebar di enam desa. Jumlah penduduk terbanyak terdapat di Desa Banjarsari (759 jiwa), sedangkan jumlah penduduk terkecil terdapat di Desa Apoho (244 jiwa). Kepadatan penduduk rata-rata Pulau Enggano adalah  6 jiwa/km2. Permukiman penduduk menurut masing-masing desa masih terpencar-pencar membentuk klaster (kelompok permukiman). Setiap desa tersedia beberapa kelompok permukiman.

Matapencaharian penduduk umumnya bergantung pada pertanian (petani) dan nelayan. Pertanian yaitu mengolah sawah (irigasi, semi irigasi, tadah hujan), perkebunan (kelapa, melinjo, cengkeh, coklat, pisang), peternakan (kerbau, sapi, kambing, ayam/itik), nelayan tangkap dan pengolahan hasil perikanan. Artinya, pada saat kondisi perairan tenang, penduduk beralih menjadi nelayan dan pada saat sebaliknya dimana kondisi perairan berarus deras dan bergelombang maka penduduk beralih jadi petani.

 

Penduduk asli adalah suku Enggano, yang terbagi menjadi enam puak asli (penduduk setempat menyebutnya suku). Semuanya berbahasa sama, bahasa Enggano. Suku atau Puak Kauno yang mulai menempati tempat ini pada zaman Belanda (sekitar tahun 1934). Di Pulau Enggano masyarakat terbagi atas sukusuku dimana masing-masing suku dikepalai seorang Ketua Suku. Penduduk asli Pulau Enggano terdiri dari Suku Kauno, Suku Kaahoao, Suku Kaharuba, Suku Kaitaro, Suku Kaaruhi, dan Suku Kaamay.

 

Masyarakat masih teguh memegang adat istiadat peninggalan nenek moyang. Beberapa ketentuan adat yang ada antara lain larangan menebang pohon bakau, larangan membuka kebun yang berjarak lebih dari 3 km dari jalan utama, dan budaya menangkap penyu pada saat pesta pernikahan dan pesta adat lainnya. Menurut struktur adat masyarakat Pulau Enggano, ada pemimpin tertinggi dari suku-suku yang ada yang disebut Paabuki yaitu pemimpin tertinggi dai lembaga adat masyarakat. Pemimpin tertinggi ini dipilih oleh kepala-kepala suku yang ada dan menjabat selama 6 bulan.

 

Nilai budaya masyarakat Pulau Enggano sangat dipengaruhi oleh budaya Islam. Sebagian besar masyarakat Pulau Enggano beragama Islam (55,3%), dan yang lainnya beragama Kristen (44,7%). Kondisi kerukunan antar umat beragama sangat baik sehingga tidak pernah terjadi konflik horizontal. Jumlah masjid dan gereja di Pulau Enggano 12 buah, masing-masing desa memiliki satu masjid dan satu gereja.

 

Transportasi antar desa menggunakan kendaraan angkot carteran dan ojek motor. Sarana transportasi yang mendukung pergerakan internal penduduk dan perekonomian adalah jalan raya sepanjang 35,5 km dengan lebar 4 meter, sedangkan sisanya 18 km masih merupakan jalan tanah. Jalan raya ini menghubungkan Desa Banjarsari, Malakoni, Kaana dan Kahyapu. Untuk mengantisipasi kebutuhan sarana perhubungan ke depan, tersedia lahan untuk lapangan terbang seluas 310 ha yang terletak di Desa Banjarsari namun sampai saat ini belum dikembangkan.

 

Masyarakat juga belum tersentuh oleh keberadaan sarana air bersih seperti PAM. Untuk kepentingan sehari-hari, masyarakat mengandalkan sumber air bersih dari sungai-sungai dan sumur galian. Untuk kepentingan penerangan terdapat PLTS sebanyak 443 unit dan fasilitas penerangan listrik kantor Pelabuhan Kahyapu menggunakan generator yang berfungsi hanya pada saat tertentu saja. Fasilitas pelayanan telekomunikasi juga belum tersedia, hanya Radio SSB yang berada di kantor Kecamatan Enggano.

 

Potensi Sumberdaya Alam

Potensi sumberdaya kelautan dan perikanan yang dominan adalah perikanan tangkap, dengan potensi lestari wilayah perairan sebesar 3468,97 ton. Jenis sumberdaya ikan yang terdapat di wilayah perairan laut dapat dikelompokkan menjadi lima kelompok besar yaitu ikan pelagis besar (cakalang, tongkol, tenggiri, madidihang, tuna albakor, layaran dll), pelagis kecil (kuwe, selar, belanak, kembung), udang (udang penaid, lobster), demersal (kakap merah, pari,  kerapu, bawal, ekor kuning), dan ikan karang (Chaetodon reticulatus, C. barronesa, C. vagabundus, Zanclus cornutus dan Paracanthurus hepatus).

 

Untuk melakukan penangkapan ikan, nelayan Enggano menggunakan armada perahu tanpa motor dan perahu dengan motor tempel. Sedangkan alat penangkapan ikan yang digunakan antara lain jaring insang, trammel net, pukat payang, rawai, pancing toda, jala, dan pancing ulur.

 

Potensi sumberdaya kelautan lainnya adalah mariculture (budidaya ikan laut, budidaya rumput laut, lobster, dan teripang). Faktor pendukung pengembangan budidaya rumput laut adalah ditemukannya 5 (lima) spesies rumput laut di perairan sekitar Pulau Enggano, dua diantaranya adalah jenis Eucheuma dan Gelidium yang merupakan jenis rumput laut yang berekonomis penting. Kegiatan budidaya ikan dapat dilakukan dalam media berbentuk keramba jaring apung untuk jenis ikan kakap, kakap merah, kerapu bebek, dan kerapu macan. Lokasi yang cocok untuk mariculture adalah di perairan Teluk Tanjung Harapan (sepanjang tahun), perairan Teluk Labuho, perairan Teluk Kioyo, perairan Desa Kaana dan Kahyapu (tergantung kondisi musim). Selain itu, Enggano juga berpotensi untuk pengembangan perikanan air tawar mengingat tingginya potensi yang dimiliki dengan keberadaan sejumlah sungai yang mengalir dalam kondisi yang cukup bagus. Potensi lainnya yang berpotensi untuk dikembangkan adalah usaha pembesaran kepiting bakau di areal hutan mangrove.

 

Beberapa obyek wisata alam berupa kawasan konservasi antara lain Hutan Suaka Alam Kioyo I dan Kioyo II, Hutan Suaka Alam Teluk Klowel, Hutan Wisata Alam Tanjung Laksaha, Hutan Suaka Alam Bahuewo. Penjelajahan hutan mangrove di Pulau Merbau dan Banjar Sari, Kaana (pengamatan burung).

 

Kawasan Enggano juga berpotensi untuk dikembangkan sebagai obyek wisata bahari seperti selancar, memancing, wisata selam, snorkeling, wisata pantai pantai, berenang, dan wisata desa binaan. Lokasi wisata bahari terdapat di perairan Pulau Dua, Pulau Merbau, Kahyapu, Pantai Teluk Harapan, Teluk Labuho, Teluk Berhawe, Tanjung Kioyo (cocok untuk selancar), Tanjung Koomang (tempat penampakan ikan paus, dan pantai di Kaana. Potensi wisata bahari lainnya yang belum banyak terungkap adalah wisata sejarah di perairan Tanjung Laksaha – Teluk Berhau, yaitu berupa lokasi tenggelamnya kapal-kapal penjelajah milik Portugis.

 

Perkebunan yang dikembangkan merupakan jenis perkebunan rakyat jenis cokelat, melinjo, cengkeh, kelapa, buah-buahan dan kopi. Masyarakat mengelola peternakan kerbau, sapi, kambing, ayam, dan itik dalam skala kecil. Hasil peternakan ini biasanya digunakan untuk pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari.

 

Dalam bidang kehutanan, Enggano memiliki beragam jenis vegetasi hutan yang beranekaragam dan cukup bernilai ekonomis. Beberapa produk kehutanan antara lain kayu merbau, kayu jambu, nehek, abihu, rengas, cemara laut, bakau, dan beringin. Berdasarkan potensi sumberdaya alam yang ada, industri yang dapat dikembangkan adalah industri kerajinan tangan (seperti bahan rotan, kerang, mutiara), industri pengolahan cokelat, melinjo dan buah-buahan, industri pengawetan  atau pengolahan ikan, industri budidaya seperti rumput laut dan anggrek hutan.

Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut   05 September 2019   Dilihat : 5632



Artikel Terkait: