Indonesia   |   English  
Saran Dan Pengaduan

DIREKTORAT JENDERAL PENGELOLAAN RUANG LAUT
Kilas Berita  
Monitoring Mamalia Laut Di TWP Pulau Pieh dan Laut di Sekitarnya

Keberadaan cetacean di dalam kawasan konservasi perairan di Taman Wisata Perairan Pulau Pieh dan Laut di Sekitarnya (TWP Pieh) menjadi salah satu daya tarik wisata berbasis konservasi yang ada di TWP Pieh. Potensi ini dapat dikembangkan menjadi wisata minat khusus dolphin watching yang dapat memberikan keuntungan baik dari segi ekonomi maupun dari segi konservasi. Demi menjaga potensi tersebut, LKKPN Pekanbaru melalui Wilker TWP Pieh kembali melakukan monitoring terhadap keberadaan cetacean di dalam kawasan TWP Pieh pada tanggal 23-24 Juli 2019. Monitoring cetacean tersebut bertujuan untuk mengamati kemunculan lumba-lumba dan cetacean lainnya yang ada di dalam kawasan TWP Pieh. Pelaksanaan monitoring dilakukan oleh tim dari Wilker TWP Pieh dan LKKPN Pekanbaru dengan melibatkan Kelompok Masyarakat Penggiat Konservasi (KOMPAK) Tabuik Diving Club (TDC) dan juga Arsaloka Tours. Pelibatan kelompok TDC dan juga Arsaloka tours dalam kegiatan ini selain untuk membantu dalam proses monitoring, juga untuk memotivasi KOMPAK dan juga operator wisata agar dapat mengimplementasikan kegiatan wisata dolphin watching di kawasan TWP Pieh ke dalam program mereka. Selain tim teknis, empat mahasiswa UMT (Universiti Malaysia Terengganu) dan juga satu mahasiswa UNP (Universitas Negeri Padang) juga ikut serta dalam kegiatan monitoring cetacean dengan tujuan magang dalam bentuk kunjungan edukatif.

 

Monitoring cetacean dilaksanakan sesuai SOP dengan melakukan observasi selama dua hari berturut-turut melalui rute yang sama namun pada waktu yang berbeda. Pada hari pertama, tim berangkat menggunakan kapal TDC dari Muaro Pariaman menuju kawasan TWP Pieh dengan rute melewati Pulau Bando – Pulau Pieh – Pulau Pandan – Pulau Air – dan kembali ke Muaro Pariaman. Cuaca saat berangkat cukup berawan, namun kemudian mulai berubah cerah saat kapal sudah mendekati Pulau Bando. Terdapat empat sighting cetacean yang ditemukan dari hasil observasi hari pertama. Pemunculan pertama ditemukan di perairan sebelah Tenggara Pulau Bando, terlihat ada sekitar 6-7 ekor paus yang sedang berenang menuju arah Pulau Bando. Paus tersebut terindentifikasi jenis Paus Peponochepala electra (Melon-headed whale). Paus kepala melon ini menambah jumlah keaneka-ragaman cetacean yang pernah teridentifikasi muncul dalam kawasan, yang awalnya terdapat 8 jenis cetacean menjadi 9 jenis cetacean. Hal ini menjadi penambah daya tarik TWP Pieh sebagai lokasi yang berpotensi untuk dikembangkan menjadi lokasi wisata minat khusus dolphin watching.

 

Setelah pemunculan paus tersebut, pemunculan cetacean yang kedua ditemukan saat kapal belum jauh bergerak dari titik pemunculan pertama, yaitu di sebelah Tenggara Pulau Bando. Ada ratusan lumba-lumba yang terlihat sedang melompat dan berkelompok, beberapa memberikan respon aktif aksi adu kecepatan dengan kapal monitoring. Jumlah lumba-lumba yang muncul di titik kedua ini diperkirakan mencapai ±250-300 ekor, dengan jenis lumba-lumba yang teridentifikasi adalah Stenella longirostris (Spinner dolphin) dan Stenella longirostris roseiventris (dwarf Spinner dolphin). Selain itu, dari hasil pengamatan pada titik ini, juga teridentifikasi ada satu ekor lumba-lumba yang memiliki keunikan pada sirip punggungnya, yaitu berukuran lebih kecil atau lebih pendek dari ukuran normalnya.

 

Pemunculan ketiga ditemukan ketika kapal sudah bergerak menuju Pulau Pieh, terlihat kemunculan lumba-lumba Stenella longirostris (Spinner dolphin) di perairan antara Pulau Bando dan Pulau Pieh yang diperkirakan lebih banyak dari titik pemunculan sebelumnya, dengan perkiraan jumlah mencapai ±300-400 ekor. Lumba-lumba yang ditemukan berenang aktif di sekitar kapal monitoring seolah-seolah menyambut baik kedatangan kapal monitoring dan juga memberikan respon positif dengan mengajak kapal bermain adu kecepatan. Selain itu, ada beberapa ekor lumba-lumba yang menunjukkan aksi khas Spinner dolphin, yaitu melompat keluar permukaan laut sambil berputar (memilin/spin) di udara. Dalam kelompok ini juga terlihat ada beberapa ekor anakan. Pemunculan ke-empat kembali ditemukan tidak jauh dari titik ketiga, yaitu di perairan antara Pulau Bando dan Pulau Pieh. Lumba-lumba yang muncul adalah Stenella longirostris (Spinner dolphin) dengan jumlah yang lebih sedikit yaitu ±150-200 ekor, dan juga ditemukan beberapa anakan, berenang beriringan dalam kelompoknya menuju perairan Pulau Bando. Setelah pemunculan ke-empat ini, tidak terlihat lagi pemunculan cetacean sepanjang rute hingga kapal kembali ke Muaro Pariaman. Sehingga dari ke-empat sighting cetacean yang ditemukan, terdata ada satu jenis paus (Peponochepala electra) dan dua jenis lumba-lumba (Stenella longirostris dan Stenella longirostris roseiventris) selama observasi hari pertama.

 

Pada hari kedua tim berangkat menggunakan kapal Arsaloka Tours dari Muaro Padang menuju kawasan TWP Pieh dengan rencana rute melewati Pulau Toran – Pulau Pandan – Pulau Pieh – Pulau Bando – Pulau Air – dan kembali ke Muaro Padang. Cuaca saat berangkat tidak jauh berbeda dengan hari pertama, yaitu berawan. Namun setelah melakukan perjalanan kurang lebih 1 jam, cuaca semakin memburuk ditandai dengan angin yang cukup kencang dan laut bergelombang cukup tinggi sehingga tidak aman untuk melanjutkan observasi pemunculan cetacean. Oleh karena itu, demi keamanan dan keselamatan, tim memutuskan untuk kembali ke pelabuhan di Muaro Padang.

 

Dari hasil monitoring yang telah dilakukan, dapat dilihat potensi dari TWP Pieh sebagai lokasi wisata minat khusus dolphin watching dengan masih banyaknya ditemukan cetacean baik itu jenis lumba-lumba maupun paus yang memilih kawasan TWP Pieh sebagai jalur migrasinya. Ditambah juga dengan adanya jenis cetacean yang baru teridentifikasi kemunculannya di kawasan TWP Pieh, yaitu paus kepala melon. Keberadaan lumba-lumba dan cetacean lainnya di dalam kawasan dapat dijadikan sebagai rujukan dalam pembuatan kebijakan pengelolaan kawasan dan juga sebagai dasar pengembangan potensi wisata minat khusus dolphin watching di kawasan TWP Pieh. Dengan adanya informasi ini, maka penjagaan dan juga pengelolaan kawasan konservasi perairan di TWP Pieh perlu terus ditingkatkan agar terjaganya keaneka-ragaman cetacean yang ada di kawasan. (LKKPN Pekanbaru)

Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut   29 Juli 2019   Dilihat : 663



Artikel Terkait: