Indonesia   |   English  
Saran Dan Pengaduan

DIREKTORAT JENDERAL PENGELOLAAN RUANG LAUT
Kilas Berita  
Upaya Rehabilitasi Berkelanjutan Kawasan Hutan Mangrove di Desa Lifuleo, Kupang

Hutan mangrove merupakan salah satu faktor penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem di kawasan konservasi. Selain menjadi penyambung daratan dan lautan, mangrove juga berperan sebagai peredam gejala-gejala alam yang ditimbulkan oleh abrasi, badai, gelombang dan penyangga bagi kehidupan biota laut dan pesisir lainnya.

 

Lifuleo, Kupang Barat, Kupang, Nusa Tenggara Timur adalah salah satu desa di selatan Pulau Timor yang memiliki kawasan hutan mangrove. Wilayah hutan mangrove ini dikelola oleh Balai Kawasan Sumber Daya Alam (BKSDA) NTT bekerjasama dengan Balai Kawasan Konservasi Perairan Nasional (BKKPN) Kupang. Dulunya kawasan hutan mangrove di Lifuleo tumbuh cukup lebat melindungi wilayah pesisir selatan Kabupaten Kupang, namun sejak tahun 2016 pohon mangrove di kawasan ini mulai mengalami kekeringan dan mati. Berdasarkan kajian dari penulis hingga tahun 2018, dari total luas mangrove kurang lebih 126 ha terhitung 54% wilayah telah mengalami kekeringan dan kerusakan yang cukup hebat.

 

Penyebab utama kerusakan mangrove di Lifuleo adalah terjadinya sedimentasi di wilayah pesisir pantai yang menutup aliran air ke wilayah kawasan. Hal ini menyebabkan pasokan air ke kawasan menjadi terputus dan mengakibatkan kekeringan hebat di wilayah hutan mangrove. Penyebab lain kerusakan hutan mangrove adalah adanya penebangan liar oleh warga sekitar namun tidak menimbulkan dampak yang signifikan karena warga sekitar menggunakan pohon mangrove hanya untuk kebutuhan pribadi seperti sebagai bahan bangunan untuk pagar atau atap rumah.

 

Kerusakan hutan mangrove menimbulkan dampak yang cukup buruk untuk lingkungan sekitar. Beberapa diantaranya adalah perubahan garis pantai yang cukup cepat dalam beberapa tahun terakhir, suhu udara di sekitar kawasan semakin panas dan kering karena berkurangnya mangrove yang berperan sebagai penghasil oksigen, serta bertambah banyaknya populasi nyamuk sehingga mengganggu dan membahayakan kesehatan warga sekitar.

 

Untuk mengembalikan fungsi hutan mangrove sebagai pelindung kawasan pesisir maka diperlukan perencanaan program rehabilitasi berkelanjutan mangrove yang menyeluruh dan melibatkan seluruh elemen penting kawasan konservasi yaitu masyarakat, pengelola kawasan dan pemerintah daerah. Upaya rehabilitasi berkelanjutan hutan mangrove di Lifuleo dapat dilaksanakan dalam beberapa program utama yaitu program rehabilitasi, program pengawasan dan monitoring, program eduwisata, dan program pemberdayaan masyarakat.

 

Program rehabilitasi disusun dengan mempertimbangkan faktor utama kerusakan hutan mangrove di Desa Lifuleo yaitu karena sedimentasi pasir di bibir pantai. Rehabilitasi kawasan diawali dengan membuat kembali jalur air laut agar air dapat masuk kembali ke kawasan. Jalur air dibuat dengan bantuan alat berat. Langkah selanjutnya adalah pembuatan gorong-gorong dari wilayah mangrove ke wilayah laut lepas pantai . Fungsi gorong-gorong adalah untuk mengalirkan air laut ke kawasan hutan mangrove. Untuk langkah jangka panjang rehabilitasi dapat dilakukan dengan membuat bangunan penangkal sedimentasi. Bangunan ini dapat berupa bangunan Groin atau Jetty. Kedepannya bangunan ini tidak hanya sebagai penangkal sedimentasi namun juga bisa dikembangkan sebagai salah satu lokasi wisata pantai dan mangrove. Untuk memudahkan program rehabilitasi dalam mendapatkan bibit mangrove maka perlu dikembangkan lahan pembibitan mangrove disekitar Desa Lifuleo.

 

Program pengawasan dan monitoring secara berkala diperlukan untuk mengetahui perkembangan rehabilitasi dan sebagai fungsi kontrol untuk mencegah kerusakan mangrove. Pengawasan dapat dilakukan dengan kerjasama masyarakat sekitar atau tokoh masyarakat peduli lingkungan. Salah satu kelompok masyarakat yang cukup aktif dan sadar akan lingkungan di Desa Lifuleo adalah Kelompok Masyarakat Pengawas (POKMASWAS) yang diketuai oleh Bapak Oktaf.

 

Program eduwisata disusun untuk mengembangkan kawasan agar bernilai ekonomis dengan melibatkan peran masyarakat sekitar sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Selain itu juga untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga hutan mangrove. Dalam eduwisata mangrove nantinya dapat dibuat beberapa aktivitas wisata seperti wisata trail trek, wisata sampan air, penanaman mangrove, sosialisasi dan pendidikan mangrove usia dini.

 

Program pemberdayaan masyarakat merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar. Jika masyarakat merasakan langsung manfaat dari adanya kawasan hutan mangrove, maka secara tidak langsung akan timbul kesadaran diri dari mereka untuk ikut melestarikan hutan mangrove. Program pemberdayaan ini berupa pemanfaatan pohon mangrove untuk menjadi barang yang bernilai ekonomis seperti pembuatan makanan berupa kue dan kacang, sirup dan souvenir bahkan bisa juga dioleh menjadi produk rumah tangga seperti sabun.

 

Perencanaan program rehabilitasi berkelanjutan hutan mangrove di Lifuleo sangatlah penting untuk melestarikan kembali hutan mangrove yang memiliki fungsi sebagai pelindung wilayah pesisir dan sebagai sumber plasma nutfah bagi biota pesisir. Tanpa adanya tindakan maka semua rencana program yang disusun akan sia-sia. Oleh karena itu kedepan diperlukan keseriusan dari pemerintah setempat dan pengelola kawasan untuk melestarikan kembali hutan mangrove yang telah rusak agar dapat memberikan manfaat bagi lingkungan dan masyarakat disekitar kawasan mangrove di Desa Lifuleo. (Riyan/BKKPN Kupang)

Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut   19 Juli 2019   Dilihat : 2616



Artikel Terkait: