Indonesia   |   English  
Saran Dan Pengaduan

DIREKTORAT JENDERAL PENGELOLAAN RUANG LAUT
Kilas Berita  
Optimalisasi Eksplorasi Daerah Potensi Pariwisata Alam Perairan Berbasis Konservasi Di Taman Nasional Perairan (TNP) Laut Sawu

Pengembangan sosial-ekonomi masyarakat, memberdayakan masyarakat, melestarikan adat dan budaya lokal di dalam kawasan konservasi dapat dilakukan dengan memaksimalkan potensi pariwisata alam perairan berbasis konservasi. Namun, daerah wisata berbasis konservasi belum banyak dikembangkan di wilayah Timur Indonesia yang terkenal dengan keindahan alamnya.  Pengusulan eksplorasi daerah potensi pariwisata alam perairan berbasis konservasi dilakukan dengan menggunakan metode interpretasi citra satelit dengan didukung zonasi TNP Laut Sawu dan beberapa faktor yang dijadikan acuan kriteria kelayakan investasi untuk pengembangan pariwisata alam perairan di kawasan konservasi perairan.

 

Berdasarkan Buku Kriteria Kelayakan Investasi untuk Pengembangan Pariwisata Alam Perairan di Kawasan Konservasi Perairan (Ditjen KP3K, KKP 2014), penentuan penilaian kelayakan kawasan konservasi perairan  terbagi atas 4 faktor, yaitu: (a) faktor lingkungan dan sumberdaya alam, (b) faktor institusional/ tatakelola, (c) faktor sosial budaya, (d) faktor ekonomi. Masing masing faktor tersebut terbagi atas parameter prasyarat utama, pelengkap dan penyempurna. Maka dari itu, pembagian penilaian tersebut akan membagi kelayakan investasi menjadi 3 kelompok, yaitu kategori C (Ready investasi, karena parameter prasyarat utama terpenuhi 100%), kategori B (Go investasi, karena parameter prsyarat utama dan pelengkap terpenuhi 100%), dan kategori A (Excellent investasi, karena parameter prasyarat utama, pelengkap dan penempurna terpenuhi 100%).

 

Dari pelaksanaan kegiatan ini, didapatkan titik koordinat di 6 pantai di daerah Kupang, 9 pantai di daerah Pulau Rote, 3 pantai di daerah Pulau Sawu dan 10 pantai di daerah Pulau Sumba. Keseluruhan pantai-pantai tersebut dicatat lokasi batas adminisrasi, lokasi koordinat, dan tautan Google Maps agar dapat diakses lebih lanjut.

 

Faktor acuan berupa parameter prasyarat utama kelayakan suatu daerah pariwisata alam perairan untuk diinvestasi didapatkan dari buku Kriteria Kelayakan Investasi untuk Pengembangan Pariwisata Alam Perairan di Kawasan Konservasi Perairan. Parameter tersebut diterapkan pada dua sampel titik pariwisata alam perairan yang telah didapatkan pada tahap sebelumnya, yaitu Pantai Nemberala dan Pantai Oecina. Berikut adalah hasil uji kelayakan terhadap kelayakan investasi pariwisata alam perairan kategori C.

 

 

1. Pantai Nemberala

Pantai Nemberala terletak di Pulau Rote bagian Barat, tepatnya di Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur. Dari segi lingkungan dan sumber daya, pantai ini memiliki pemandangan yang indah, ombak yang besar dan pasir putih bersih. Wisatawan biasanya melakukan aktivitas wisata selancar, selam dan bermain air di sekitar Pantai Nemberala. Berdasarkan wawancara dengan beberapa warga setempat, lahan di pesisir pantai ini sebagian besar dimiliki oleh warga setempat yang disewa oleh pengelola penginapan untuk dijadikan usaha penginapan dan lain-lain. Akses menuju Pantai ini dapat ditempuh dari Kupang menggunakan pesawat ataupun kapal menuju Pulau Rote. Kondisi jalan di Pulau Rote untuk menuju kawasan Pantai Nemberala tergolong dalam keadaan baik karena perjalanan darat dapat melalui jalan utama Pulau Rote.

 

 

Dari segi Institusional/ tata kelola, perairan di sekitar Pantai Nemberala termasuk dalam Zonasi Kawasan Konservasi TNP Laut Sawu yang dikelola oleh Balaik Kawasan Konservasi Perairan Nasional (BKKPN) Kupang sebagai UPT dari kementerian Kelautan dan Perikanan. Rencana pengelolaan zonasi kawasan TNP Laut Sawu tertuang dalam Peraturan Menteri KP Nomor 6 Tahun 2014 tentang Rencana Pengelolaan dan Zonasi Taman Nasional Perairan Laut Sawu di Provinsi Nusa Tenggara Timur Tahun 2014 – 2034. Institusi ini juga memiliki peraturan terkait kegiatan pemanfaatan kawasan konservasi perairan yang tertuang di dalam Peraturan Menteri KP Nomor 47 tahun 2016 tentang Pemanfaatan kawasan Konservasi Perairan, seperti kegiatan penangkapan, budidaya, pariwisata alam perairan dan pendidikan serta penelitian. Institusi ini juga melakukan kegiatan monitoring data ekosistem secara berkala sebagai tanggung jawab pengelolaan kawasan konservasi perairan.

 

Dari segi sosial budaya, masyarakat sekitar Pantai Nemberala sangat terbuka akan adanya kegiatan pariwisata alam perairan ini. Banyak kegiatan perekonomian yang muncul karena keberadaan pantai ini, seperti tempat penginapan, rumah makan, jasa transportasi, toko, dan pedagang keliling. Untuk keamanan, terdapat satu pos polisi yang terletak sebelum tiba di Pantai Nemberala.

 

Berdasarkan hasil analisis pada tabel diatas, Pantai Nemberala perlu melakukan peningkatan/ perbaikan untuk dapat dinyatakan memasuki “Kategori C” dikarenakan masih dalam nilai 90% dari parameter prasyarat utama kelayakan pengembangan pariwisata alam perairan. Peningkatan yang perlu dilakukan adalah membuat analisis daya dukung dan daya tampung wisata, terutama untuk wisata selam, selancar, dan wisata pantai.

 

2. Pantai Oecina

Pantai Oecina terletak di Kabupaten Kupang, tepatnya di Desa Lifuleo, Nusa Tenggara Timur. Dari segi lingkungan dan sumber daya, pantai ini memiliki keindahan pasir putih, perairan dangkal dan ombak yang tidak besar untuk bermain air laut di sekitar pantai. Berdasarkan wawancara dengan beberapa warga setempat, lahan di pesisir pantai ini awalnya adalah lahan milik warga, namun karena adanya potensi pengembangan pariwisata alam perairan pantai Oecina, sempat terjadi konflik antar warga yang memiliki lahan di sekitar area tersebut. Kemunculan kelompok sadar wisata bersama dengan BKKPN Kupang dan TNC tahun 2015 menghasilkan solusi untuk melimpahkan kepengurusan lahan kepada pemerintah desa Lifuleo untuk dikelola secara adil demi pengembangan daerah. Aksesibilitas menuju pantai ini juga dapat diakses langsung dengan perjalanan darat dari kota Kupang. Perjalanan memakan waktu +- 1 jam, namun kondisi jalan tidak sepenunhnya dalam kondisi yang baik.

 

 

Dari segi Institusional/ tata kelola, perairan di sekitar Pantai Oecina termasuk dalam Zonasi Kawasan Konservasi TNP Laut Sawu yang dikelola oleh Balaik Kawasan Konservasi Perairan Nasional (BKKPN) Kupang sebagai UPT dari kementerian Kelautan dan Perikanan. Rencana pengelolaan zonasi kawasan TNP Laut Sawu tertuang dalam Peraturan Menteri KP Nomor 6 Tahun 2014 tentang Rencana Pengelolaan dan Zonasi Taman Nasional Perairan Laut Sawu di Provinsi Nusa Tenggara Timur Tahun 2014 – 2034. Institusi ini juga memiliki peraturan terkait kegiatan pemanfaatan kawasan konservasi perairan yang tertuang di dalam Peraturan Menteri KP Nomor 47 tahun 2016 tentang Pemanfaatan kawasan Konservasi Perairan, seperti kegiatan penangkapan, budidaya, pariwisata alam perairan dan pendidikan serta penelitian. Institusi ini juga melakukan kegiatan monitoring data ekosistem secara berkala sebagai tanggung jawab pengelolaan kawasan konservasi perairan.

 

Dari segi sosial budaya, masyarakat sekitar Pantai Oecina sangat terbuka akan adanya kegiatan pariwisata alam perairan ini. Kehadiran kelompok sadar wisata yang terdiri dari penduduk asli desa Lifuleo merupakan bukti nyata kesadaran masyarakat untuk mengelola wilayahnya demi pengembangan ekonomi, sosial dan budaya setempat. Di sekitar pantai juga terdapat aktivitas budidaya rumput laut yang dapat dikunjungi oleh wisatawan.

 

Berdasarkan hasil analisis pada tabel di atas, Pantai Oecina perlu melakukan peningkatan/ perbaikan untuk dapat dinyatakan memasuki “Kategori C” dikarenakan masih dalam nilai 90% dari parameter prasyarat utama kelayakan pengembangan pariwisata alam perairan. Peningkatan yang perlu dilakukan adalah membuat analisis daya dukung dan daya tampung wisata, terutama untuk wisata pantai, wisata budidaya rumput laut dan wisata selam.

 

Berdasarkan hasil penelitian terhadap Pantai Nemberala dan Pantai Oecina, dapat dikatakan bahwa pantai-pantai yang ada di wilayah TNP Laut Sawu memiliki potensi yang tinggi untuk dikembangkan menjadi pariwisata alam perairan. Peningkatan/ perbaikan terhadap parameter daya dukung dan daya tampung untuk kegiatan wisata di lokasi tersebut perlu untuk dilakukan dalam rangka memenuhi keseluruhan parameter prasyarat utama.

 

Kedepannya, diharapkan eksplorasi potensi pariwisata alam perairan yang telah diinventarisasikan lokasinya dapat dilakukan di semua titik rekomendasi yang telah diinventarisasi. Hal ini bertujuan agar kelayakan investasi pengembangan pariwisata alam perairan dapat ditingkatkan menjadi kategori lebih lanjut, yaitu Kategori B dan Kategori A berdasarkan buku Kriteria Kelayakan Investasi untuk Pengembangan Pariwisata Alam Perairan di Kawasan Konservasi Perairan. Selain itu, kegiatan ini juga diharapkan mampu menjadi inisasi eksplorasi daerah potensi pariwisata alam perairan berbasis konservasi di TNP Laut sawu dan menjadi Role-Model bagi wilayah kerja KKPN lainnya dalam rangka dalam rangka menjadikan kawasan konservasi sebagai penggerak ekonomi dan menjadikan pengelolaan kawasan konservasi sebagai bentuk tanggung jawab sosial yang mensejahterakan masyarakat. (Ariefianto/BKKPN Kupang)

Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut   19 Juli 2019   Dilihat : 507



Artikel Terkait: