Indonesia   |   English  
Saran Dan Pengaduan

DIREKTORAT JENDERAL PENGELOLAAN RUANG LAUT
Kilas Berita  
Laju Eksploitasi Ikan Terubuk (Tenualosa macrura) periode Januari – April 2019

Wilayah Selat Bengkalis merupakan area penangkapan nelayan untuk mencari ikan Terubuk (Tenualosa macrura). Ikan Terubuk merupakan jenis ikan beruaya, hidup di perairan laut dan beruaya ke perairan payau untuk melakukan pemijahan. Setelah memijah, juvenile bergerak menuju perairan laut untuk tumbuh dan berkembang. Ikan Terubuk memiliki nilai ekonomis tinggi, sehingga banyak nelayan yang menangkap ikan tersebut. Nelayan lokal menangkap ikan Terubuk dengan alat tangkap jaring insang (gill nets). Seiring dengan meningkatnya aktivitas penangkapan dari tahun ke tahun, keberadaan ikan Terubuk menjadi terancam punah. Dalam rangka konservasi ikan Terubuk, Kementerian Kelautan dan Perikanan telah menetapkan ikan tersebut sebagai jenis ikan yang dilindungi secara terbatas, melalui Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan nomor 59/MEN-KP/2011 tentang Penetapan Status Perlindungan Terbatas Ikan Terubuk (T. macrura).

 

Masyarakat wilayah Selat Bengkalis sudah banyak mengetahui keputusan menteri tersebut, namun masih melakukan dengan alasan tuntutan ekonomi. Selain itu, kondisi perairan Selat Bengkalis terlapor sudah mengalami degradasi kualitas ekosistem karena tingkat pencemaran yang terjadi. Balai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir Laut (BPSPL) Padang, satuan kerja Pekanbaru memiliki tugas dan tanggungjawab melakukan monitoring rutin pendataan populasi ikan Terubuk (T. macrura). Salah satu kegiatan yang dilakukan adalah melakukan pendataan penangkapan dan menganalisis laju eksploitasi ikan Terubuk. Laju eksploitasi berguna untuk menganalisis keberlanjutan pengelolaan perikanan. Kemudian menganalisis langkah-langkah yang perlu diambil oleh pihak pegelola kawasan dan para pemangku kepentingan untuk menjaga keberlanjutan sumberdaya ikan Terubuk. Salah satu aspek keberlanjutan perikanan adalah memelihara keberlanjutan stok melalui penerapan peraturan yang berlaku.

 

Pengukuran laju eksploitasi menggunakan metode analitik didasarkan pada pertumbuhan dan mortalitas ikan, dengan mengukur panjang ikan hasil tangkapan selama empat bulan, yaitu periode Januari sampai dengan April 2019. Pengukuran panjang ikan dilakukan terhadap ikan hasil tangkapan di 3 (tiga) lokasi yaitu, Bengkalis, Bukit Batu dan Siak oleh enumerator yang bertugas. Jumlah ikan Terubuk yang diukur panjangnya selama periode 4 (empat) bulan tersebut sebanyak 502 ekor. Analisis data menggunakan MS Excel dan program FAO-ICLARM Fish Stock Assessment Tools (FiSAT II). Hasil pengukuran menunjukkan tren ukuran ikan Terubuk sebesar 15 – 33 cm, panjang asimptotik tubuh ikan (L ) 34,65 cm, laju pertumbuhan (K) 0,75/tahun dan umur teoritis ikan pada saat ikan panjang ke 0 (t0) - 1,25 tahun. Estimasi laju kematian total (Z) sebesar 2,65/tahun, laju kematian alami (M) sebesar 1,44/tahun dan laju kematian akibat penangkapan (F) sebesar 1,21/tahun. Berdasarkan data-data tersebut, yang diperoleh dari program FiSAT II, laju eskploitasi (E) dapat diukur dengan membandingkan laju penangkapan (F) dengan laju mortalitas total (Z) (Pauly, 1984). Laju eksploitasi (E) 0,455 (under exploited). Kondisi pemanfaatan ikan Terubuk berada pada posisi yang mendekati titik ekploitasi optimal (Gulland, 1971). Agar kondisi pemanfaatan tidak mengarah ke penangkapan berlebih, perlu dilakukan pengelolaan terhadap penangkapan ikan Terubuk dengan mengatur jumlah upaya penangkapan, meningkatkan kesadaran nelayan dalam mengimplementasikan peraturan KepMen KP nomor 59/MEN-KP/2011 dan BPSPL Padang satker Pekanbaru melakukan monitoring pendataan ikan Terubuk sepanjang tahun. (BPSPL Padang)

Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut   19 Juli 2019   Dilihat : 407



Artikel Terkait: