Indonesia   |   English  
Saran Dan Pengaduan

BALAI BESAR PENGUJIAN PENERAPAN PRODUK KELAUTAN DAN PERIKANAN
DIREKTORAT JENDERAL PENGUATAN DAYA SAING PRODUK KELAUTAN DAN PERIKANAN
Kilas Berita  
Tingkatkan Kerjasama dan Kolaborasi, BBP3KP Lakukan Audiensi ke FPIK UNPAD

Bandung (17/2). Indonesia merupakan salah satu negara penghasil rumput laut terbesar di dunia dengan peningkatan produksi sebesar 30% setiap tahunnya. Dengan jumlah sumber daya yang melimpah tersebut, Indonesia memiliki peran yang sangat vital dalam upaya menanggulangi sampah plasttik dengan menyediakan alternatif berupa kemasan biodegradable berbasis rumput laut.

Sebagai upaya meningkatkan kerjasama dan sinergisme antar instansi dalam mengurangi sampah plastik di lingkungan, Kementerian Kelautan dan Perikanan melalui Balai Besar Pengujian Penerapan Produk Kelautan dan Perikanan (BBP3KP) menggandeng tim peneliti dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran (Unpad) untuk berdiskusi dalam pengembangan kemasan biodegradable berbasis rumput laut yang diprakarsai oleh Tim Perekayasa BBP3KP.

BBP3KP sendiri telah melakukan perekayasaan kemasan berbasis rumput laut sejak tahun 2016 dalam bentuk edible film dan edible coating dan pada tahun 2019 dalam bentuk kemasan biodegradable. Dalam rangka penerapan hasil inovasi tersebut, BBP3KP  melakukan transfer teknologi kemasan rumput laut tersebut kepada beberapa pelaku usaha antara lain UKM Pusaka Hati (Mataram), UKM Setiabudi (Lombok Tengah), Mina Horti (Lombok Timur), UKM Saluyu (Sukabumi), dan CV Panda Food (Sleman, Yogyakarta).

Berdasarkan hasil penerapan dan masukan dari pelaku usaha, terdapat beberapa aspek yang perlu ditingkatkan dalam penyempurnaan kemasan biodegradable ini yaitu teknik pencetakan, teknik pengeringan, serta karakteristik kemasan dalam menahan laju transmisi uap air. Hal inilah yang mendasari inisiasi kerjasama BBP3KP dengan FPIK Unpad selaku perguruan tinggi agar bisa menghasilkan kemasan biodegradable dengan kualitas yang lebih bagus dan biaya  produksi yang lebih efisien. Pada tahun 2022, beberapa kegiatan yang dilaksanakan BBP3KP terkait optimalisasi kemasan biodegradable antara lain melalui ujicoba pengeringan co-hybird menggunakan sinar matahari dan alternatif metode pengeringan lainnya, penurunan permeabilitas bahan (water vapor transmission rate), perbaikan kemasan gelas dan adopsi teknologi bijih plastik.

Kepala BBP3KP berkesempatan melaksanakan audiensi dengan FPIK Unpad serta mengunjungi Pusat Unggulan IPTEK  Perguruan Tinggi (PUI-PT)  Functional Nano Powder (FINDER U-CoE) Universitas Padjadjaran  Bandung dalam rangka mempelajari proses teknologi nano untuk menyempurnakan bioplastik yang sudah ada. Kunjungan ke pusat nano teknologi ini merupakan tindak lanjut dari FGD yang telah dilaksanakan secara daring pada bulan September 2021 dimana telah mempertemukan beberapa ahli dari perguruan tinggi, peneliti, dan pelaku usaha yang memiliki perhatian lebih dalam perbaikan kemasan berbasis rumput laut.

          Dalam pertemuan yang dilakukan, Kepala BBP3KP menyampaikan bahwa penyempurnaan kemasan ramah lingkungan tentu bukan pekerjaan yang mudah jika hanya dilakukan oleh satu institusi saja, sehingga dibutuhkan kolaborasi baik dari pemerintah pusat/daerah, pelaku uaha dan  perguruan tinggi untuk menjawab tantangan tersebut.          Menanggapi hal tersebut, Wakil Dekan FPIK Unpad (Dr. Ir. Rita Rostika, MP) menyambut baik inisiasi yang dilakukan KKP melalui BBP3KP sebagai upaya pengembangan suatu teknologi berbasis pentahelix atau multipihak dimana unsur pemerintah, akademisi, pelaku usaha, masyarakat, dan media seluruhnya bisa ikut terlibat. Beliau mengharapkan ada pembagian peran yang jelas dalam kerjasama penyempurnaan kemasan bioplastik yang akan dilakukan serta dalam waktu dekat bisa dilakukan MoU antara kedua belah instansi. Hal ini penting agar tercipta akselerasi dalam pelaksanaan kegiatan yang sudah digagas kedua belah pihak.

Lebih jauh, tim peneliti dari FPIK Unpad juga memberikan masukan terkait penggunaan teknologi co-hybird yang bisa diaplikasikan dalam proses pengeringan produk agar efisiensi energi dan cost produksi bisa dicapai. Pengeringan co-hybird tersebut merupakan perpaduan proses pengeringan menggunakan sinar matahari, radio frekuensi dan udara panas untuk menghasilkan heating rate yang lebih tinggi namun tetap menjaga kualitas produk. Perlu digarisbawahi proses pengeringan yang dilakukan saat ini masih membutuhkan energi dan biaya yang cukup tinggi, sehingga sentuhan teknologi yang lebih advanced sangat dibutuhkan dalam perbaikan kemasan biodegradable tersebut. Kedepan kegiatan akan dilanjutkan dengan saling kordinasi dan diskusi terkait penyempurnaan produk serta penyiapan Perjanjian Kerjasama (MoU) antara BBP3KP dengan FPIK Unpad.

Admin   20 Februari 2022   Dilihat : 146



Artikel Terkait: