Indonesia   |   English  
Saran Dan Pengaduan

BALAI BESAR PENGUJIAN PENERAPAN PRODUK KELAUTAN DAN PERIKANAN
DIREKTORAT JENDERAL PENGUATAN DAYA SAING PRODUK KELAUTAN DAN PERIKANAN
Kilas Berita  
Analisis Kebutuhan Bahan Baku dan Volume Produk Olahan Pindang Tahun 2019

Disusun Oleh : Yefni Widria dan Arif Wibowo, Analis Pasar Hasil Perikanan Perikanan Pada Direktorat Pengolahan dan Bina Mutu Ditjen Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan

 

Pindang merupakan salah satu jenis olahan hasil perikanan yang sangat populer dan banyak disukai oleh masyarakat Indonesia. Cita rasanya yang khas dan tidak terlalu asin serta harganya yang relatif terjangkau menjadikan jenis olahan ikan ini banyak dikonsumsi oleh berbagai kalangan terutama menengah ke bawah. Selain itu, pindang juga dapat dapat dikombinasikan dengan berbagai bumbu, sehingga dapat dijadikan bahan dalam berbagai jenis resep olahan makanan.       

Dari sisi proses pengolahan, teknik pengolahan pindang relatif sederhana dan mudah dilakukan. Pada dasarnya, pemindangan ikan merupakan upaya pengawetan sekaligus pengolahan ikan melalui penggaraman dan pemanasan di dalam wadah (besek, reyeng, naya, panci dan lain-lain). Wadah ini digunakan sebagai tempat ikan selama perebusan/ pemanasan dan sekaligus digunakan sebagai kemasan selama transportasi dan pemanasan. Menurut Wibowo (1999), ada tiga cara pemindangan, yaitu: pemindangan dalam larutan garam/ pemindangan cue, pemindangan garam, dan pemindangan presto.

Lebih lanjut, pengolahan pindang tidak memerlukan modal yang tidak terlalu besar karena menggunakan bahan-bahan yang harganya murah dan mudah didapat. Bahan baku ikan yang digunakan pun dapat menggunakan berbagai jenis baik itu ikan air tawar seperti nila, bandeng, mujair, dan ikan mas, maupun ikan laut seperti layang, kembung, tongkol, dan tuna. Hal ini menjadikan pemindangan sebagai salah satu jenis pengolahan terbanyak di Indonesia. BPS mencatat 10.919 unit pengolahan ikan pindang yang tersebar di seluruh Indonesia dan sebagian besar terdiri dari UPI skala mikro dan kecil (BPS, 2018). Dengan demikian, pindang menjadi salah satu bagian penting dalam pemberdayaan masyarakat.

Fakta-fakta di atas menjadikan pindang sebagai komoditas yang strategis baik itu dari sisi ketahanan pangan maupun pertumbuhan ekonomi. Karena itu, keberlanjutan usaha ini menjadi salah satu fokus Direktorat Pengolahan dan Bina Mutu (Dit. PBM), KKP.  Salah satu faktor utama keberlangsungan UPI Pindang adalah kontinuitas ketersediaan bahan baku. Untuk itu, Dit PBM melalui kegiatan Perhitungan Volume Produk Olahan UPI Skala Mikro Kecil melakukan estimasi kebutuhan bahan baku dan volume produk olahan pindang tahun 2019.

Namun demikian, dalam perhitungan/ estimasi ini, terdapat sejumlah kendala yang dapat mempengaruhi keakuratan hasil perhitungan. Masalah tersebut terutama adalah sangat banyaknya jumlah UPI Pindang sehingga tidak memungkinkan untuk melakukan pengambilan data melalui metode sensus. Hal ini ditambah dengan sangat beragamnya karakteristik pemindang baik itu dalam hal teknik pengolahan maupun skala usaha. Oleh sebab itu, pemilihan sampel yang representatif dan jumlah sampel yang memenuhi persyaratan analisis menjadi titik kritis dalam perhitungan ini.  Kendala lain adalah UPI pindang sebagaimana UPI skala mikro kecil pada umumnya, tidak melakukan pencatatan aktivitasnya.

  Untuk mengeliminir dampak negatif dari kendala-kendala di atas, dilakukan pendekatan sebagai berikut:

1. Membagi wilayah pemindang menjadi 6 klaster (wilayah sampling) berdasarkan kemiripan dan/atau kesamaan karakter pengolahan dan produk yang dihasilkan. Klaster tersebut disajikan pada Tabel 1

2. Menaksir kebutuhan bahan baku rata-rata nasional olahan pindang berdasarkan skala usaha yang dibagi ke dalam 6 klaster wilayah pemindang berdasarkan informasi tentang kapasitas produksi UPI pindang pada setiap satuan pengambilan contoh.

3. Menaksir kebutuhan bahan baku produk olahan pindang nasional berdasarkan kebutuhan rata-rata UPI pindang (point 2), jumlah UPI, dan jumlah bulan produksi per tahun per klaster per skala usaha, dengan menggunakan rumus:

BB = Ps x F x UPI

Ket :

BB = Kebutuhan bahan baku pindang nasional per tahun  

Ps = Kebutuhan bahan baku pindang rata-rata pindang per bulan, sumber data: data sampling dan aplikasi Satudata

F    = Jumlah bulan produksi pindang per tahun, sumber data: data sampling

UPI = Jumlah UPI pemindangan per skala usaha, sumber data: BPS

4. Menetapkan volume produksi olahan pindang berdasarkan nilai rendemen pengolahan pindang, per klaster per skala usaha, dengan menggunakan rumus:

VP = BB x R      ; dimana R adalah rendemen rata-rata pengolahan pindang.

Sebagaimana yang dapat dilihat pada rumus di atas, metode perhitungan/ estimasi yang digunakan merupakan pendekatan berbasis jumlah unit pengolahan UPI pindang sebagai variabel bebas yang akan diinput ke dalam rumus per masing-masing skala usaha. Jumlah UPI pindang menurut klasifikasi usaha pengolah pada tahun 2019 disajikan pada Tabel 2.

Responden dalam perhitungan ini merupakan UPI pindang skala mikro, dan skala kecil, dan menengah yang dipilih dengan mempertimbangkan kombinasi setiap klaster, kemudian ditetapkan jumlah contoh sampel untuk masing-masing kombinasi secara proporsional. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan kuisioner. Pendekatan pengambilan data:

  • Data diambil dari lokasi yang dipilih dengan pendekatan random sampling untuk mendapatkan data dari setiap kali operasi.
  • Data terkumpul diharapkan adalah data bulanan dalam setahun, sehingga bisa diprediksi pengaruh musim terhadap kapasitas produksi.
  • Teknik pengambilan contoh sampel menggunakan sistem cluster random sampling, dimana pengambilan sampel acak kelompok dilakukan bila kita akan mengadakan suatu penelitian dengan mengambil kelompok unit dasar sebagai sampel.

Berdasarkan analisis terhadap data survey yang dilakukan pada beberapa wilayah sampling diperoleh, nilai rata-rata kebutuhan bahan baku UPI pindang per skala usaha per klaster adalah sebagai berikut:

Lebih lanjut, survey lapangan memberikan hasil bahwa UPI pindang rata-rata aktif berproduksi 11 bulan dalam satu tahun. Dengan menggunakan rumus perhitungan kebutuhan bahan baku di atas, diperoleh kebutuhan bahan baku pindang nasional dan volume produk olahan pindang tahun 2019 sebagaimana yang disajikan pada Tabel 4.

Selanjutnya perhitungan volume produk olahan pindang dilakukan dengan pendekatan rendemen rata-rata produk olahan pindang hasil survey tahun 2017 yaitu 82%. Hasil perhitungan volume produksi produk olahan pindang tahun 2019 disajikan dalam tabel 5.

Dari hasil perhitungan di atas, diketahui bahwa kebutuhan bahan baku pindang paling besar terdapat pada klaster 2 (Pulau Jawa) yaitu 552.063 ton dari total nasional 591.830. Dengan demikian, Pulau Jawa berkontribusi terhadap 93,3% total volume pindang nasional. Hal ini sejalan dengan lokasi UPI pindang yang juga terkonsentrasi di Pulau Jawa. Lebih lanjut lagi, UPI skala menengah berpengaruh sangat signifikan terhadap volume produk olahan pindang. Dengan jumlah UPI kurang dari 1% dari total jumlah UPI pindang, skala usaha ini menyumbang 17% dari total volume pindang nasional.

Dari estimasi ini, untuk menjaga pasokan pindang sebagai salah satu sumber protein populer masyarakat Indonesia, perlu difokuskan UPI-UPI di Pulau Jawa dengan skala usaha menengah. Selain itu, perlu dilakukan kajian lebih lanjut terkait jenis dan siklus produksi ikan untuk menjaga kontinuitas pasokan bahan baku bagi UPI Pindang.

 

Daftar Pustaka :

  1. Wibowo, S. 1999. Industri Pemindangan Ikan. Penebar Swadaya, Jakarta.
  2. Kementerian Kelautan dan Perikanan. 2019. Perhitungan Kebutuhan Bahan Baku dan Volume Produk Olahan Pindang Tahun 2019.

Admin   31 Desember 2019   Dilihat : 2135



Artikel Terkait: